-
Hukrim

Di Balik Jeruji WBP Masih Bisa Berkarya 

43
×

Di Balik Jeruji WBP Masih Bisa Berkarya 

Sebarkan artikel ini
TABENGAN/YULIANTINI BERKARYA- Kegiatan keterampilan kemandirian di dalam Lapas Kelas II B Pangkalan Bun. 
-

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID-Meski badan terkurung dalam jeruji besi tahanan, namun tidak menyurutkan semangat Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Pangkalan Bun untuk tetap berkarya dalam menyalurkan bakatnya.

Suara dengung mesin bubut kayu dan pukulan palu menderu bertalu menjadi satu, terdengar di dalam ruangan kerja ukuran 6 x 8. Potongan demi  potongan kayu dari jenis mahoni dan akasia yang bertumpuk di salah satu sudut diangkut satu per satu oleh WBP.

Tanpa diberi komando sekalipun, terlihat antusias warga binaan pilihan ini dengan sigap menyelesaikan tahap demi tahap kerajinan kayu tersebut. Dan dengan menggunakan mesin-mesin using craft milik Lapas, warga binaan yang memiliki keterampilan mengolah bahan mentah, membentuk kayu dengan mesin bubut hingga kemudian diproses secara telaten menjadi perabot perlengkapan rumah tangga dan hiasan lampu lainnya.

Kepala Lapas Kelas II B Pangkalan Bun Doni Handriansyah mengatakan, pihaknya memberikan ruang bagi warga binaan yang memiliki bakat dalam mengembangkan sebuah karya seni yang tinggi. Seperti halnya keterampilan bidang handy craft.

Dalam sebulan, WBP pilihan tersebut bisa menghasilkan puluhan kerajinan. Seperti asbak, guci, miniatur lampu hias dan perabotan lainnya. Hasil kerajinan mereka, nantinya akan dipasarkan ke masyarakat, baik secara langsung ataupun melalui media online.

“Di sini ada sekitar 30 warga binaan yang dilatih keterampilan sesuai dengan bakat dan minat masing-masing warga binaan. Salah satunya keterampilan bidang handy craft. Mereka orang-orang pilihan karena nggak semuanya bisa membuat kerajinan. Pengerjaan mulai kayu mentah sampai barang jadi hingga siap untuk dipasarkan, semua dikerjakan di Lapas ini,” kata Doni, saat dibincangi, belum lama ini.

Menurutnya, kehidupan di balik jeruji penjara tentu saja mengekang interaksi warga binaan yang mendekam di Lapas. Meski begitu, pelatihan bertahap dan konsisten yang diberikan Lapas Pangkalan Bun mampu mengubah pola pikir dan tangan kreatif para warga binaan menjadi lebih positif dan produktif.

“Kita rutin berikan pelatihan kepada warga binaan. Saat ini kita juga sudah mengembangkan keterampilan dan bakat warga binaan pada bidang tertentu melalui sarana asimilasi dan edukasi. Misalnya saja pengembangan sayuran selada melalui budidaya hidroponik, pada bidang perikanan ada budidaya ikan lele, bidang jasa menjahit, tata boga (bakery) dan bidang mebelair,” lanjut Doni.

Upaya Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Pangkalan Bun tak berlebihan. Dia hanya ingin membantu warga binaan bisa terlepas dari jeratan masalah ekonomi yang dinilainya memicu para narapidana melakukan lagi tindak kejahatan.

Setiap kerajinan yang dihasilkan warga binaan, kata Doni, diberi upah sesuai kesepakatan dan sistem pembayaran yang disesuaikan dengan aturan Lapas Pangkalan Bun. Tak hanya itu, warga binaan yang telah bebas dari hukuman, juga tetap memiliki ruang untuk membuka peluang usaha pada bidang handy craft.

“Mayoritas warga binaan itu terjerat  masalah kriminal lantaran masalah ekonomi. Tujuannya jika warga binaan diberikan keterampilan baru, maka mereka memiliki bekal keterampilan yang bisa dikembangkan saat sudah bebas,” ujar Doni, mengakhiri. c-uli

 

-
-
-