+ 5-10/Bulan Kasus Baru di Kalteng
PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Penyakit kanker serviks atau kanker leher rahim masih menjadi momok menakutkan. Di Indonesia, setiap 24 jam ada ibu meninggal karena menderita penyakit tersebut. Lantas, bagaimana dengan di Kalimantan Tengah?
Dokter Spesialis dr Mikko U Ludjen SpOG MKes membenarkan, kasus kanker serviks masih banyak terjadi. Bahkan, setiap bulannya terdapat kasus baru. Mereka yang datang ke rumah sakit sudah stadium lanjut.
“Kasus di Kalteng, khususnya Rumah Sakit Umum Daerah dr Doris Sylvanus, masih merawat kanker serviks. Satu bulan ada 5-10 kasus baru, kasus kematian tahun 2022 sebanyak 5 orang. Mereka yang datang umumnya sudah kondisi stadium lanjut,” kata Mikko, Kamis (3/8).
Mikko mengingatkan, kanker serviks mematikan. Dari data WHO setiap tahun 490.000 perempuan didiagnosa menderita kanker serviks. Dari jumlah tersebut 240.000 meninggal dunia. Kasus kematian di dunia, setiap 2 menit 1 ibu meninggal dan di Indonesia setiap 24 jam 1 ibu meninggal dunia. Dari data Departemen Kesehatan RI, di Indonesia kanker serviks urutan kedua dari 10 kanker terbanyak, sementara data dunia nomor urut kedua.
Pemerintah sudah melakukan langkah antisipasi, seperti yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Katingan, menggelar pelatihan untuk dokter dan bidan untuk deteksi dini mencegah terjadinya kanker leher rahim.
Pelatihan tersebut dibimbing langsung oleh Mikko, bertujuan untuk menyiapkan dokter dan bidan yang terampil untuk mendeteksi dini lesi prakanker dari serviks. Kegiatan ini digelar setiap tahun 2 kali untuk kabupaten berbeda.
“Harapan saya kepada pemerintah kabupaten dan kota dapat membelikan alat krioterapi untuk disimpan di Puskesmas, sehingga angka kejadian kanker leher rahim di Kalteng, khususnya di kabupaten-kabupaten, dapat menurun, bahkan tidak ada lagi,” kata Mikko.
Mikko menjelaskan, kanker serviks disebabkan Human Papilomavirus (HPV). Sebanyak 120 tipe HPV telah diketahui. 30-40 tipe menyerang anogenital. Sementara itu, HPV Low Risk Type (HPV 6 dan 11) tidak menyebabkan kanker, namun menyebabkan anogenital wart. Namun yang high risk type (HPV 16 dan 18) menyebabkan kanker serviks.
Menurut Mikko, dari infeksi dengan HPV seringkali tidak menimbulkan gejala, sehingga banyak orang tidak tahu mereka terinfeksi HPV. Akibatnya banyak orang dapat menularkan HPV tanpa menyadarinya. Infeksi virus ditularkan melalui transmisi seksual dan jika tidak segera ditangani dapat mengakibatkan kanker serviks.
Faktor risiko, lanjut Mikko, berganti-ganti pasangan, melakukan hubungan seksual dengan pria yang berganti-ganti pasangan, mulai melakukan aktivitas seksual di usia muda di bawah 20 tahun. Kemudian memiliki riwayat infeksi di daerah kelamin ataupun radang panggul, merokok atau terpapar asap rokok.
Faktor risiko lainnya memiliki riwayat keluarga dengan kanker, kurang menjaga kebersihan alat kelamin, adanya riwayat tes pap yang abnormal sebelumnya, penurunan kekebalan tubuh misalnya HIV/AIDS serta penggunaan obat-obatan tertentu dalam jangka waktu yang lama.
Gejala yang muncul pada penderita kanker serviks, tambah Mikko, adanya pendarahan pada organ intim perempuan, pendarahan pada saat berhubungan intim, keputihan yang bercampur dengan darah dan berbau, nyeri pinggang, nyeri perut dan sulit buang air kecil dan mungkin gagal ginjal.
Menurut Mikko, perlu adanya deteksi dini melalui beberapa cara. Seperti Pap Smear, pengambilan sel dari serviks kemudian diperiksa dengan mikroskop untuk mengetahui adanya kelainan pada serviks. Kemudian tes iva pemeriksaan untuk melihat ada atau tidaknya sel yang tidak normal pada serviks menggunakan olesan asam asetat.
Skrining kanker serviks penting karena kanker serviks merupakan pertumbuhan dari satu kelompok sel yang tidak normal pada leher rahim. Perubahan ini biasanya memakan waktu beberapa tahun sebelum berkembang menjadi kanker.
Terdapat kesempatan yang cukup lama untuk mendeteksi apabila terajdi perubahan pada sel serviks melalui skrining dan menanganinya sebelum menjadi kanker. Untuk pencegahannya salah satunya melalui vaksin pada anak dan remaja 10-18 tahun, usia dewasa 19-55 tahun. Kemudian tidak melakukan hubungan seksual ganti-ganti pasangan. yml











