Pulang Pisau

Diduga Arogan, Wakepsek MAN 1 Pulpis Sebabkan Trauma dan Terganggunya Mental Anak Didik

36
×

Diduga Arogan, Wakepsek MAN 1 Pulpis Sebabkan Trauma dan Terganggunya Mental Anak Didik

Sebarkan artikel ini

PULANG PISAU/TABENGAN.CO.ID- Diduga perilaku arogansi seorang Wakil Kepala Sekolah MAN 1 Pulang Pisau terhadap anak didiknya, membuat seorang anak didik inisial ZF mengalami trauma, sehingga berdampak pada psikis anak tersebut terganggu.

Akibat ulah Wakepsek tersebut, orang tua ZF melayangkan somasi dan keberatan atas perlakuan oknum dimaksud. Dalam surat Somasi yang juga ditujukan kepada Media Harian Tabengan untuk dapat dipublikasikan, orang tua ZF, Adi Waskito, Sabtu (12/8/2023), menyampaikan, tindakan yang dilakukan Wakepsek Madrasah Bidang Kesiswaan terkait dengan memanggil anaknya pada Jumat (11/8/2023), dampak pasca anaknya dipanggil oleh Wakepsek mengakibatkan mental dan psikologisnya terganggu dengan masalah yang bukan kapasitasnya untuk mengerti dan bukan dikosumsi untuk anak yang saat itu masih dalam lingkungan pelajaran/jam sekolah.

Melalul surat tersebut, kata Adi sapaan akrabnya ini, ia selaku orang tua mengajukan keberatan sekaligus somasi kepada MAN-1 Pulang Pisau untuk dapat menindaklanjuti beberapa hal yang menjadi ganjalan hingga psikologis anaknya terganggu usai pemanggilan yang dilakukan oleh Wakepsek Madrasah Bidang Kesiswaan.

Dijelaskan Adi, yang menjadi ganjalan dirinya, yakni seperti apa prosedur pemanggilan terhadap peserta didik, dan kesalahan apa yang dilakukan oleh peserta didik?

“Akibat pemanggilan ini, anak saya mendapat asumsi miring dari teman-temannya yang membuat dirinya malu (menuju ke bullyng) hingga menyebabkan gangguan mental dan psikologis hingga merubah sikap peserta didik kepada orang tuanya serta malu untuk kembali masuk sekolah,” jelasnya.

Adi juga menuntut, agar ada tindakan yang dilakukan pihak MAN-1 Pulang Pisau terhadap masalah ini, dan dapat mengembalikan psikologis peserta didik (anaknya) ke kondisi semula.

Selain itu, Adi juga mempertanyakan pengertian Full Day di MAN-1 Pulang Pisau yang selama ini dinilai tidak diterapkan dengan baik, dan menurutnya di MAN-1 Pulang Pisau, dimana peserta didik masih dibebankan tambahan tugas atau Pekerjaan Rumah (PR).

“Seharusnya pengertian Full Day yang kami dapat dari sejumlah referensi diartikan seluruh aktivitas sekolah dituntaskan di sekolah, sehingga lepas dari lingkungan sekolah peserta didik sekembali ke rumah bisa berinteraksi dengan lingkungan sosial dan keluarga juga bisa beristirahat tanpa di bebani tugas atau PR sehingga esok harinya peserta didik lebih siap dan fresh dalam menerima pelajaran,” jelasnya.

Tugas tambahan atau PR, tambah Adi, menjadi momok bagi peserta didik, karena selama di rumah anaknya tidak lagi bisa berinteraksi dengan keluarga dan lingkungan sosial (seperti mengaji, menambah ilmu agama, membantu orang tua, mencari literatur pengetahuan/ wawasan, dan lainnya) hanya dipenuhi untuk menyelesaikan tugas sekolah karena ditakutkan dengan nilai yang diberikan oleh guru.

Lebih lanjut, sambung Adi, Surat Edaran (SE) Nomor: 372/Ma. 15.9.1/PP.00/08/2023 baru dikeluarkan oleh pihak MAN-1 Pulang Pisau bersamaan dengan anaknya dilakukan pemanggilan oleh Wakepsek Madrasah Bidang Kesiswaan yang pihaknya menganggap sebagal adanya “intimidasi”.

Ditambahkan Adi, Wakepsek tersebut menurutnya menganggap remeh dari sebuah permasalahan dan juga menunjukkan arogansi dan dengan apa yang telah dilakukan kepada anaknya. Selain itu, menurutnya terkesan sengaja memperuncing masalah kepada orang tua dan peserta didik.

“Apabila tidak mendapat tindaklanjut, saya berjanji akan menempuh berbagai jalur sebagai konsekuensi terganggunya mental dan psikologis anak kami,” tegasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Sekolah MAN 1 Pulpis Sriyadi yang coba dihubungi awak media melalui nomor telepon selulernya dan via WhatsApp belum merespons, sampai berita ini diturunkan. c-mye

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *