Spirit Kalteng

Sungai Barito dan Katingan Kekeringan

28
×

Sungai Barito dan Katingan Kekeringan

Sebarkan artikel ini
TABENGAN/LISMUDI DAN ARIS MUNANDAR KEKERINGAN- Kondisi di bantaran Sungai Barito yang tampak kering. Tampak juga akibat Sungai Hantipan mengalami kedangkalan, banyak kelotok masyarakat di Kecamatan Katingan Kuala dan Mendawai yang harus didorong beberapa kilometer.

*) Warga Barsel Kesulitan Air Bersih

*) Masyarakat Katingan Sulit Berlalu Lintas

BUNTOK/TABENGAN.CO.ID-Sejumlah desa di Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan (Barsel) dan Desa Kampung Melayu, Kecamatan Mendawai, Kabupaten Katingan sedang mengalami kekeringan akibat musim kemarau yang terjadi tahun ini. Akibatnya, warga di kedua wilayah tersebut kesulitan air bersih dan terhambat berlalu lintas di sungai.

Menurut Camat Dusun Selatan Evi Kusmawardhani, wilayah yang mengalami kekeringan adalah Desa Pamangka, Mangaris, Tetei Lanan, Danau Ganting dan Desa Pamait.

“Desa-desa ini kesulitan air bersih. Warga bisa mendapatkan air dari luar desa. Perjalanan menuju mata air jauh dari perkampungan,” kata Evi Kusumawardhani kepada Tabengan, Kamis (24/8).

Pihaknya berharap kepada Pemerintah Daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) cepat tanggap terkait pemberian bantuan warga setempat, guna membantu mendapatkan air bersih.

Untuk diketahui, di wilayah Desa Wurung Paken, Kecamatan Dusun Selatan, yang pertama kali mengalami kekeringan akibat adanya fenomena elnino, sehingga BPBD harus turun ke lapangan guna memberikan bantuan fasilitas mendapatkan air bersih.

Kini, warga Desa Wurung Paken sudah mendapatkan bantuan dari BPBD berupa mesin penyedot air dan tong penampungan air, sehingga warga setempat tidak lagi kesulitan mendapatkan air bersih.

“Kita berharap, jika memungkinkan desa-desa yang lainnya yang mengalami kesulitan air bersih seperti Pamangka, Mangaris, Tetei Lanan, Danau Ganting, dan Desa Pamait, juga medapatkan bantuan yang sama,” ujar Evi Kusmawardani.

Sulit Berlalu Lintas

Sementara itu, di Daerah Aliran Sungai (DAS) Katingan, tepatnya Sungai Hantipan (kerokan) di samping Desa Kampung Melayu, Kecamatan Mendawai yang selama ini digunakan untuk berlalu lintas kelotok dan ces dari Mendawai Kabupaten Katingan menuju Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), sudah satu bulan ini dangkal dan sulit dilalui.

Kepala Desa (Kades) Kampung Keramat H Suryanto saat dibincangi, Jumat (25/6), membenarkan hal tersebut. Bahkan, saking dangkalnya Sungai Hantipan, anak DAS Katingan, sebagian besar masyarakat Kecamatan Katingan Kuala dan Kecamatan Mendawai sangat kesulitan melintasi sungai tersebut.

Suryanto menuturkan, baru-baru tadi, ia bersama belasan orang lainnya melewati sungai tersebut tujuan ke Kasongan untuk memenuhi undangan rapat kerja (raker). Dengan menggunakan kelotok, namun ada beberapa titik airnya yang surut di sungai tersebut atau mengalami kedangkalan. “Akibat dangkal itulah, kelotok yang ditumpangi kandas, sehingga kami harus mendorong kelotok hingga berkilo-kilometer,” kata Suryanto kepada Tabengan.
Melihat kondisi yang tak nyaman itu, mantan Camat Katingan Kuala ini berharap kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) setempat untuk mencarikan solusinya.

“Karena, hanya Sungai Hantipan itulah satu-satunya budget termurah bagi masyarakat Katingan Kuala dan Mendawai untuk pulang pergi ke ibu kota Kabupaten Katingan,” terangnya.

Memang ada jalan alternatif, seperti melalui DAS Katingan dari Pegatan Kecamatan Katingan Kuala dan Mendawai menuju Pakahi, Kecamatan Kamipang dengan menggunakan kelotok. Kemudian, dilanjutkan lagi dari Pelabuhan Pakahi menuju Kasongan dengan menggunakan taksi mobil.

“Namun, budgetnya terlalu tinggi atau bisa dua kali lipat, jika dibandingkan dengan melalui Sungai Hantipan,” ujarnya.

Dia menjelaskan, Sungai Hantipan digunakan berlalu lintas oleh masyarakat Kecamatan Katingan Kuala dan Mendawai bukan hanya tahun ini, tapi sudah sejak tahun 1990-an. Baik untuk membawa hasil panen pertanian dan perkebunan untuk dijual maupun membeli sembako dan keperluan lainnya di Sampit serta mengurus administrasi apa saja.

“Oleh karena itu, kami berharap sungai tersebut bisa lancar setiap harinya ketika kami melewatinya,” harapnya. c-lis/c-dar

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *