-
Nasional

Menteri LHK Bantah Deforestasi 12,5 Juta Hektare

46
×

Menteri LHK Bantah Deforestasi 12,5 Juta Hektare

Sebarkan artikel ini
BANTAH-Menteri LHK RI Siti Nurbaya Bakar saat memberikan keterangan pers didampingi Wagub Kalteng Edy Pratowo dan Pj Bupati Pulang Pisau Hj. Nunu Andriani  di Desa Tuwung, Kabupaten Pulang Pisau, Rabu (24/1).TABENGAN/YULIANUS
-

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Saat kunjungan kerja (Kunker) ke Kalimantan Tengah (Kalteng) Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar membantah data yang disampaikan cawapres nomor urut 3 Mahfud MD, soal angka deforestasi di Indonesia mencapai 12,5 juta hektare dalam 10 tahun terakhir.

Hal tersebut disampaikannya saat kunjungan kerja bersama Kepala Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) RI Hartono ke Desa Tuwung, Rabu (24/1).

“Itu salah. Global forest watch yang dipuja-puja itu, metodologinya sedang kita telaah bersama. Saya sejak tahun 2017 sudah mengikuti itu. Ada yang mengatakan deforestasi kita jutaan, padahal itu enggak. Saya langsung bilang ayo kita melihat metodenya. Ternyata metode yang dipake adalah tree cover lost. Artinya setiap pohon yang jatuh itu dianggap deforestasi. Lalu dia hanya intepretasi dari satelit. Saya ini dulunya sekolah tentang itu. Gak bisa kalo gak dicek di lapangannya,” katanya.

“Ternyata yang terjadi adalah, kalau di halaman rumah orang ada pohon kelapa di dekat sumur dan itu jatuh, apakah itu deforestasi? Saya bilang, kamu harus lihat dulu, value sistemnya di Indonesia seperti apa. Kalau di rumah-rumah  transmigrasi dengan lahan 3/4 hektare, itu adalah punya dia. Masa dia mengganti tanaman atau pohonnya, dibilang deforestasi? Nah makanya ini yang sedang kita telaah dan kerjakan,” sambungnya.

Ia mengungkapkan, kemudian digunakan mesin. Tidak periksa dan melihat langsung di lapangan. Ternyata yang dianggap hutan primer itu adalah pohon pisang. Karena bila dilihat dari satelit, semua berwarna hijau dan teksturnya kasar. Secara asumsi itu terlihat seperti hutan, padahal tidak.

“Itu kan harus kita cek di lapangan dulu. Bayangin dari tahun 2017 kita heboh dengan world resources institute (WRI) Indonesia soal deforestasi. Waktu itu saya ajak ke Riau, karena Riau dan Kalimantan sering terjadi kebakaran hutan. Tapi sekarang Kalimantan sudah jago melakukan penanganan karhutla,” ujarnya.

Siti Nurbaya mengemukakan, Amerika merupakan negara adidaya, sehingga untuk manajemen kehutanan bisa berjalan.

“Sekarang saya sampaikan kepada mereka, kita harus memodifikasi karena Indonesia masyarakatnya banyak di dalam hutan. Jadi kita saling belajar. Tadi Randy Moore bilang, bahwa mereka juga sekarang perlu belajar modifikasi dari Indonesia. Sebab, 25.000 di antara 82.000 desa kita ada di sekitar hutan,” pungkasnya. ldw

 

 

-
-
-