-
Hukrim

Orang Tua Ungkap Fakta Baru Dugaan Malapraktik Sebabkan Bayi Meninggal

74
×

Orang Tua Ungkap Fakta Baru Dugaan Malapraktik Sebabkan Bayi Meninggal

Sebarkan artikel ini
BERSEDIH - Pasutri Afner Juliwarno dan Meiske Anglelina didampingi Kuasa Hukum MH Roy Sidabutar. TABENGAN/IST
-

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Pasangan suami istri Afner Juliwarno dan Meiske Anglelina, menemukan fakta baru terkait kematian bayi mereka yang bernama Abraham Benjamin yang berusia 23 hari saat menjalani perawatan pada salah satu rumah sakit daerah di Kota Palangka Raya.

MH Roy Sidabutar selaku Kuasa Hukum bagi pasture tersebut mengatakan, baru terungkap jika tindakan medis yang diberikan kepada Abraham tidak dilakukan oleh dokter spesialis. Padahal Abraham baru berusia 7 hari saat menjalani operasi di rumah sakit.

“Rumah Sakit Muhammadiyah merujuk ke RSUD Doris Sylvanus untuk ditangani oleh dokter bedah anak. Tapi faktanya, operasi dilakukan oleh dokter bedah umum,” beber Roy, Jumat (23/2).

Ia menyatakan dokter di RS Muhammadiyah telah memberikan rujukan agar bayi ditangani dokter spesialis bedah anak di rumah sakit daerah yang menjadi rujukan. Dokter yang sama sebagai satu-satunya dokter bedah anak di Palangka Raya. Tapi saat si bayi di rumah sakit rujukan, dokter tersebut tidak ada dan bayi ditangani oleh dokter bedah umum.

“Tadi pagi kedua orangtua bayi telah menemui penyidik di Subdit Renakta Polda Kalteng dan menyampaikan fakta tersebut. Semoga kasus ini segera menemui titik terang,” ujar Roy.

Berdasarkan surat pemberitahuan perkembangan hasil penyelidikan (SP2HP) yang diterima pelapor, penyidik telah memanggil lebih dari 20 saksi dalam kasus ini.

Pada kesempatan yang sama, Afner mengatakan siap melakukan hal gila untuk memperjuangkan keadilan untuk anak pertamanya itu. Jika kasus ini tidak segera terang, ia berencana menggali kubur bayinya dan membawanya ke kantor DPRD Provinsi Kalteng dan Gubernur Kalteng.

“Saya tahu, anak saya itu ingin hidup. Waktu 9 hari bertahan setelah operasi untuk bayi seusia itu tidak sebentar dan dia berjuang,” kata Afner didampingi istrinya.

Afner juga membantah pernyataan pihak rumah sakit yang menyebutkan sudah memberikan tindakan sesuai standar. Seusai operasi hingga menghembuskan nafas terakhir, bayi mereka ditempatkan di ruang biasa.

“Anak kami tidak pernah ditempatkan di HCU (High Care Unit) tapi di ruang Infeksius level 2. Bahkan saya ini harus mencium bau busuk dari anak saya yang masih hidup dan menangis,” kata Afner menggambarkan situasi saat itu.

Saat itu bayi mereka menjalani operasi bedah pada bagian perut karena didiagnosa mengidap megacolon congenital atau tidak bisa buang air besar. Setelah menjalani operasi, kondisi Abraham Benjamin tidak urung membaik. Pada bagian perut bayi pertama pasangan Afner dan Meiske tersebut terjadi pembengkakan dan tercium aroma tidak sedap.

Akhirnya pada Rabu (25/1), Abraham dinyatakan meninggal dunia. Afner dan Meiske yang merasakan ada kejanggalan kemudian melapor ke Polda Kalteng pada Senin (5/2). ist/dre

-
-
-