Spirit Kalteng

Membongkar Mitos Vs Fakta Industri Sawit 

35
×

Membongkar Mitos Vs Fakta Industri Sawit 

Sebarkan artikel ini
Membongkar Mitos Vs Fakta Industri Sawit 
TABENGAN/JEVI BONGKAR-Tampak Kepala Direktur Eksekutif PalmOil Agribusiness Strategic Policy Institue (PASPI) Tungkot Sipayung dalam bedah buku Mitos Vs Fakta Industri Sawit ke-4 yang digelar di Universitas Palangka Raya (UPR), Sabtu (9/3).

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Industri sawit selalu menjadi perdebatan hangat di masyarakat. Beberapa pihak menuding industri sawit yang memiliki asosiasi dengan deforestasi, pembakaran hutan dan perusakan lingkungan, sehingga berdampak pada kesehatan manusia dan hewan, serta perekonomian masyarakat adat.

Namun, bedah buku Mitos Vs Fakta Industri Sawit ke-4 yang digelar di Universitas Palangka Raya (UPR) telah membawa data aktual dan mengungkap sejumlah fakta seputar industri sawit serta menjawab tudingan negatif yang selama ini mencuat.

Dalam bedah buku tersebut, Industri Minyak Sawit Indonesia Dalam Isu Sosial Ekonomi dan Lingkungan Global, Kepala Direktur Eksekutif PalmOil Agribusiness Strategic Policy Institue (PASPI) Tungkot Sipayung menjelaskan, harga kompetitif sawit adalah dalam rangkaian persaingan internasional. Sebagai produsen terbesar minyak sawit dunia, Indonesia memproduksi minyak sawit yang berkelanjutan.

“Persoalan yang dihadapi adalah persaingan internasional, dengan harga kompetitif dengan minyak nabati. Repeseed, sunflower dan kedelai tidak mampu bersaing harga. Mencoba menyudutkan minyak sawit dengan mempersekpsikan publik dengan minyak murahan,” kata Tungkot Sipayung, di Kampus UPR, Sabtu (9/3).

Ia menerangkan sejarah menjadi bahan perbandingan, di mana pala, cengkeh, rempah-rempah, gula dan beberapa komoditas yang dulu unggul, telah tergusur dan meredup akibat dari aturan pemerintah yang salah pada saat itu.

Tungkot juga membantah tentang tudingan seputar lingkungan, boros air, dan berkolestrol pada produk sawit. Tungkot memaparkan bahwa sawit memiliki kontribusi yang kecil terhadap emisi gas rumah kaca, Indonesia dan Eropa lebih besar bahkan mencapai 4 kali lipat lebih besar.

“Itu tidak benar. Menepis sawit itu boros air, merusak lingkungan dan lainnya. Mana lebih banyak emisi gas rumah kaca Indonesia dan Eropa, 4 kali lipat. Sawit kontribusinya kecil, 25 juta hektare. Menggunakan isu lingkungan dan sosial untuk menyudutkan industri sawit. Sawit ini belum sempurna, tapi lebih sempurna dari pesaingnya,” tegasnya.

Pada kenyataannya, sawit adalah salah satu dari tujuh minyak nabati di dunia yang mempunyai sertifikasi berkelanjutan.

“Dari 7 minyak nabati di dunia, yang punya sistem sertifikasi berkelanjutan hanya sawit. Indonesia produsen minya sawit terbesar, sustainable. Ingin sampai ke generasi mendatang,” tambah Tungkot.

Penanggap, Betrixia Barbara, Ni Nyoman Sri Yuliani dan Suherman memberikan catatan serta apresiasi atas buku tersebut. Misalnya Dokter Gizi Fakultas Kedokteran UPR, Ni Nyoman Sri Yuliani.

“Penulisan referensi saya acungi jempol, bisa ditelusuri. Namun Ada referensi bisa diupdate karena tahun 1900-an,” ujarnya.

Menurut Ni Nyoman, kajian terbaru membuktikan bahwa minyak sawit tidak meningkatkan kolestrol, dengan catatan kecukupan gizi dan sesuai porsinya. Penelitian menunjukkan konsumsi minyak sawit dalam jumlah yang moderat tidak berdampak pada kesehatan jantung.

“Minyak sawit, tidak meningkatkan kolestrol, dengan catatan sesuai kecukupan gizi. Kalau berlebihan bisa meningkatkan kolestrol. Penelitian kolestrol tidak gamblang, kolestrol yang mana yang meningkat,” tambahnya.

Sementara itu, Betrixia Barbara memaparkan beberapa isu penting yang harus ditangani seputar perkebunan sawit. Salah satunya adalah tentang ekspor CPO sawit. Menurutnya, dalam proses ekspor, beberapa perspektif penting seperti harga, gender, gaji, sumber daya manusia, dan tenaga kerja di pedesaan sering kali tidak diakomodir dengan baik.

Betrixia berpendapat, beberapa aspek penting ini harus lebih diperhatikan dalam pengelolaan perkebunan sawit.

Mendukung kemajuan industri kelapa sawit, Gubernur Bem Fakultas Pertanian UPR, E Kind Rezekinta Barus mengapresiasi diseminasi dan bedah buku Mitos Vs Fakta Industri Sawit. Menurutnya, kegiatan ini bertujuan mendukung kemajuan industri kelapa sawit di Indonesia. Dalam sesi diseminasi tersebut, peserta tahu dan memahami fakta-fakta serta mitos tentang industri sawit yang bisa membantu meningkatkan pengembangan tanaman sawit di Indonesia.

“Pelaksanaan diseminasi dan bedah buku Mitos Vs Fakta Industri Sawit ke empat di Universitas Palangka Raya ini bisa memberikan pengetahuan yang relevan kepada mahasiswa fakultas pertanian UPR tentang kelapa sawit secara umum,” ucapnya.

Ketua Panitia Dwi Sitorus mengatakan, kolaborasi ini menjadi luar biasa, mengumpulkan banyak ahli dan organisasi yang berfokus pada pengolahan kelapa sawit. Hal ini diharapkan bisa memperkaya pengetahuan dan pemahaman tentang industri sawit yang lebih komprehensif dan ekonomis.

“Kolaborasi antara BEM Fakultas Pertanian UPR, PASPI, dan BPDPKS dalam kegiatan diseminasi dan bedah buku Mitos Vs Fakta Industri Sawit ke empat, secara aktif mendukung peningkatan pemahaman masyarakat tentang industri kelapa sawit,” tandasnya. jef