-
PEMPROV KALTENG

Besei Kambe, Tradisi Dayak Ngaju Meriahkan FBIM 2026

245
×

Besei Kambe, Tradisi Dayak Ngaju Meriahkan FBIM 2026

Sebarkan artikel ini
FBIM – Penampilan peserta lomba Besei Kambe pada FBIM 2026, Rabu (20/5/2026). FOTO TABENGAN/YULIANUS
-

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Deru sorak penonton menggema di bawah Jembatan Sungai Kahayan, saat perlombaan tradisional Besei Kambe digelar dalam rangka Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) Kalimantan Tengah 2026 pada Rabu (20/5/2026) pagi.

Sejak pagi hari, masyarakat tampak memadati kawasan bantaran Sungai Kahayan untuk menyaksikan secara langsung perlombaan unik yang menjadi salah satu daya tarik dalam rangkaian FBIM tahun ini.

Antusiasme warga terlihat begitu tinggi, baik dari masyarakat lokal maupun wisatawan yang ingin melihat lebih dekat olahraga tradisional khas masyarakat Dayak tersebut.

Sorak sorai penonton terdengar setiap kali pertandingan dimulai. Para peserta yang berada dalam satu perahu saling beradu tenaga mendayung ke arah berlawanan demi menjadi yang terkuat dan tercepat mencapai garis kemenangan.

Besei Kambe merupakan olahraga tradisional masyarakat Dayak Ngaju yang memiliki nilai budaya dan filosofi mendalam. Dalam bahasa Dayak Ngaju, “Besei” berarti mendayung atau pendayung, sedangkan “Kambe” diartikan sebagai roh atau arwah nenek moyang.

Perlombaan ini lahir dari cerita rakyat turun-temurun tentang makhluk halus yang mendayung perahu dengan arah saling berlawanan. Tradisi tersebut kemudian diwariskan menjadi sebuah permainan rakyat yang kini dilestarikan melalui festival budaya.

Selain menjadi hiburan masyarakat, lomba ini juga bertujuan memperkenalkan dan menjaga eksistensi olahraga tradisional khas Kalimantan Tengah agar tetap dikenal generasi muda.

Dalam perlombaan tersebut, peserta dibagi menjadi dua regu yang masing-masing terdiri dari dua orang. Kedua regu akan duduk saling membelakangi di dalam satu perahu.

Saat pertandingan dimulai, masing-masing regu harus mendayung sekuat tenaga ke arah berlawanan untuk menarik perahu menuju garis penentuan kemenangan. Regu yang berhasil lebih dahulu melewati batas yang telah ditentukan dewan juri dinyatakan sebagai pemenang.

Koordinator Lomba Besei Kambe, Yoga Chris Hartono mengatakan, konsep perlombaan ini hampir serupa dengan tarik tambang, namun dilakukan di atas perahu menggunakan dayung.

“Kurang lebih konsepnya seperti tarik tambang, tetapi menggunakan dayung di atas perahu. Jadi siapa yang berhasil lebih maju duluan, itu yang menjadi pemenang,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sistem pertandingan tahun ini menggunakan sistem gugur. Tercatat sebanyak 11 tim putra dan 10 tim putri ambil bagian dalam perlombaan tersebut. Seluruh peserta merupakan perwakilan dari kabupaten masing-masing di Kalteng.

“Setiap pertandingan mempertemukan dua tim yang saling berlawanan. Satu tim terdiri dari dua orang. Mereka akan bergantian posisi dan bertanding sampai ada tim yang memperoleh dua kemenangan,” jelasnya.

Menurut Yoga, selain mempertandingkan kekuatan fisik dan teknik mendayung, perlombaan ini juga menuntut kekompakan serta strategi antaranggota tim.

Sementara itu, salah satu peserta dari Kontingen Kabupaten Kapuas, Dihen (55), mengaku bangga dapat kembali mengikuti lomba tradisional tersebut dalam ajang FBIM.

Ia menilai Besei Kambe bukan sekadar perlombaan olahraga, melainkan juga menjadi wadah mempererat hubungan antarmasyarakat dari berbagai daerah di Kalteng.

“Ada unsur budaya, ada kekuatan fisik, dan ada olahraga dalam bentuk mendayung. Selain itu yang paling penting adalah kebersamaan dan kekompakan,” ucapnya.

Menurutnya, melalui kegiatan seperti FBIM, masyarakat dari berbagai kabupaten dapat saling mengenal dan mempererat persaudaraan.

“Dari kegiatan seperti ini kami bisa bertemu teman-teman dari berbagai daerah dan kabupaten. Yang utama itu kebersamaan dan persaudaraan,” tambahnya.

Pelaksanaan lomba Besei Kambe menjadi bukti warisan budaya lokal masih memiliki tempat di tengah masyarakat modern. Selain menghadirkan nilai kompetisi, perlombaan ini juga memperlihatkan semangat gotong royong, solidaritas, dan identitas budaya masyarakat Dayak yang menjadi bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia. dte/fwa-red

 

-
-
-