-
Spirit Kalteng

BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Panas yang Diikuti Hujan di Kalteng

533
×

BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Panas yang Diikuti Hujan di Kalteng

Sebarkan artikel ini
Foto : Petugas memantau data cuaca terkini di ruang operasional Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Palangka Raya pada Jumat (19/6/2026). FOTO TABENGAN/DIRMANTIO EVENDY
-

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Meskipun Kalimantan Tengah (Kalteng) mulai memasuki periode musim kemarau, sebagian besar wilayahnya masih berpotensi diguyur hujan dalam sepekan ke depan. Intensitas hujan diperkirakan berkisar dari ringan hingga sedang dengan sebaran yang cukup luas di sejumlah kabupaten.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Chandra Mukti Wijaya menyampaikan bahwa kondisi cuaca dalam beberapa hari ke depan masih didominasi hujan, meski secara umum tren intensitasnya mulai menunjukkan penurunan dibandingkan sebelumnya.

“Untuk satu minggu ke depan, sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga sedang,” ujarnya saat ditemui wartawan pada Jumat (19/6/2026).

Menurut Chandra, wilayah yang berpotensi mengalami hujan meliputi Kabupaten Lamandau, Seruyan, Katingan, Gunung Mas, Murung Raya, Barito Utara, Barito Selatan, Barito Timur, hingga Kapuas.

Namun demikian, terdapat indikasi penurunan intensitas hujan pada periode 21 hingga 23 Juni 2026, khususnya di wilayah selatan Kalteng. Pada rentang waktu tersebut, cuaca diperkirakan cenderung lebih cerah dibandingkan hari-hari sebelumnya.

“Mulai tanggal 21 sampai 23 Juni diperkirakan terjadi penurunan intensitas hujan, terutama di wilayah selatan Kalimantan Tengah. Namun pada 24 hingga 26 Juni peluang hujan kembali meningkat meskipun tidak setinggi sebelumnya,” jelasnya.

Ia mengatakan bahwa musim kemarau bukan berarti hujan akan berhenti sepenuhnya. Curah hujan masih tetap terjadi, namun jumlahnya lebih sedikit dibandingkan saat musim penghujan.

“Kalau pada musim hujan curah hujan bisa mencapai sekitar 150 milimeter per bulan, saat musim kemarau bisa turun menjadi sekitar 70 hingga 80 milimeter per bulan,” katanya.

Dengan kondisi tersebut, Chandra menyebut musim kemarau tahun ini masih akan diwarnai hujan di sejumlah wilayah, meski frekuensi dan intensitasnya lebih rendah dibandingkan periode musim hujan.

Selain itu, pihaknya juga terus memantau perkembangan fenomena El Nino yang diprediksi berpotensi terjadi dengan kategori moderat pada tahun ini. Apabila fenomena tersebut berlangsung bersamaan dengan musim kemarau, maka curah hujan diperkirakan akan semakin berkurang.

“Berdasarkan prediksi terbaru, El Nino berpeluang terjadi dengan kategori moderat. Jika terjadi bersamaan dengan musim kemarau, maka kondisi kering akan semakin dominan dan risiko kekeringan di beberapa wilayah dapat meningkat,” sebutnya.

Di sisi lain, suhu udara di Kalteng dalam beberapa hari terakhir juga terasa cukup panas. Berdasarkan pengamatan meteorologi, suhu maksimum saat ini berkisar antara 32 hingga 34 derajat Celsius.

Menurut Chandra, tingginya suhu udara pada siang hari berpengaruh langsung terhadap peningkatan proses penguapan yang terjadi di permukaan bumi. Kondisi geografis Kalteng yang memiliki banyak sungai, rawa, dan danau turut mendukung terbentuknya uap air dalam jumlah besar.

“Khususnya di Palangka Raya, banyak terdapat sungai, rawa, dan danau yang menjadi sumber uap air. Saat matahari bersinar terik sejak pagi hingga siang hari, proses penguapan meningkat dan memicu pembentukan awan hujan,” terangnya.

Ia menambahkan, pertumbuhan awan umumnya mulai terjadi pada siang hingga sore hari, yakni sekitar pukul 13.00 hingga 15.00 WIB. Jika pertumbuhan awan berlangsung kuat, maka dapat berkembang menjadi awan cumulonimbus yang berpotensi menghasilkan hujan lebat disertai petir dan angin kencang pada sore hingga malam hari.

“Semakin tinggi suhu udara pada siang hari, maka semakin besar pula proses penguapan yang terjadi. Kondisi ini membuat pertumbuhan awan hujan menjadi lebih aktif sehingga berpotensi menghasilkan hujan dengan intensitas tinggi pada sore atau malam hari,” tambahnya.

Chandra juga mengingatkan masyarakat untuk tetap mewaspadai potensi genangan hingga banjir, terutama di kawasan yang memiliki sistem drainase kurang baik. Menurutnya, banjir tidak hanya dipengaruhi oleh tingginya curah hujan, tetapi juga kapasitas saluran drainase dalam menampung debit air.

“Kami meminta masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca terkini dari BMKG dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi selama masa peralihan menuju musim kemarau,” pungkasnya. dte

 

 

-
-
-