-
Uncategorized

Dinkes Kalteng Imbau Kelompok Rentan Waspadai Asap Karhutla

98
×

Dinkes Kalteng Imbau Kelompok Rentan Waspadai Asap Karhutla

Sebarkan artikel ini
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalteng dr. Suyuti Syamsul. FOTO ISTIMEWA
-

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mengingatkan masyarakat, khususnya kelompok rentan, untuk meningkatkan perlindungan diri di tengah paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalteng dr. Suyuti Syamsul mengatakan, paparan asap karhutla memiliki risiko lebih besar terhadap masyarakat yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid. Salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus adalah penderita asma.

Menurutnya, kondisi udara yang tercemar asap dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi masyarakat yang memiliki sensitivitas pada saluran pernapasan. Karena itu, penggunaan masker menjadi langkah sederhana yang perlu dilakukan untuk mengurangi paparan asap secara langsung.

“Sebaiknya mereka yang asma itu memakai masker. Kan itu saja sebetulnya. Kalau kayak-kayak kita ini kan masih tahan. Tapi kalau orangnya itu ada asma, yaitu tentu meningkat risikonya. Itu saja yang pakai masker,” imbaunya, di Palangka Raya, Jumat (25/9).

Suyuti menekankan, masyarakat dengan riwayat asma maupun penyakit penyerta lainnya perlu lebih waspada ketika kualitas udara menurun. Selain menggunakan masker, masyarakat juga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi asap semakin pekat.

Ia menyebut, kelompok rentan seperti penderita asma, anak-anak, lansia, serta masyarakat dengan penyakit pernapasan membutuhkan perhatian lebih dalam situasi karhutla. Upaya perlindungan tersebut penting dilakukan untuk mencegah kondisi kesehatan semakin memburuk.

Terkait kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan dalam menghadapi dampak asap karhutla, Suyuti menjelaskan bahwa pengelolaan fasilitas kesehatan dasar, termasuk Puskesmas, berada di bawah kewenangan pemerintah kabupaten/kota.

Menurutnya, penanganan masyarakat terdampak di lapangan tidak hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah Provinsi Kalteng. Pemerintah kabupaten/kota memiliki peran penting karena sebagian besar fasilitas pelayanan kesehatan dasar berada di daerah.

“Yang namanya Kalimantan Tengah ini kan bukan hanya pemprov. Bahkan yang punya fasilitas kesehatan lebih banyak itu kabupaten/kota. Yang namanya Puskesmas itu bukan punya pemprov, nah sehingga yang ke lapangan sebetulnya ya mestinya mereka,” jelasnya.

Meski demikian, Pemprov Kalteng tetap berupaya memperkuat penanganan dampak karhutla melalui dukungan fasilitas maupun langkah mitigasi kesehatan. Salah satunya dengan menyediakan fasilitas pendukung berupa rumah oksigen untuk membantu masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan akibat kondisi udara.

Suyuti juga mengapresiasi keterlibatan berbagai elemen masyarakat dalam membantu penanganan dampak karhutla. Menurutnya, kondisi bencana membutuhkan kerja sama lintas sektor dan gotong royong agar masyarakat yang terdampak dapat memperoleh bantuan secara cepat.

Salah satu bentuk keterlibatan tersebut datang dari Lembaga Amil Zakat (Lazis) Muhammadiyah yang turut mendirikan posko serta fasilitas kesehatan darurat bagi masyarakat terdampak asap karhutla.

“Kita apresiasi masyarakat dan komunitas yang ikut membantu. Seperti Lazis Muhammadiyah yang ikut mendirikan posko dan fasilitas kesehatan. Ini menunjukkan bahwa penanganan dampak karhutla memang membutuhkan gotong royong,” ujarnya.

Ia berharap kolaborasi antara pemerintah, fasilitas kesehatan, dunia usaha, organisasi masyarakat, komunitas dan masyarakat dapat terus diperkuat selama kondisi karhutla masih berlangsung. Dengan keterlibatan bersama, perlindungan terhadap kelompok rentan diharapkan dapat dilakukan lebih cepat dan menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

Suyuti kembali mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan kondisi kesehatan selama terpapar asap. Terutama bagi penderita asma dan masyarakat yang memiliki penyakit penyerta, penggunaan masker serta membatasi paparan asap menjadi langkah penting untuk menjaga kondisi tetap stabil.lidia/red

 

-
-
-