-
Uncategorized

Damang Bahandang Balau dan Asal Mula Desa Tambak Bajai

151
×

Damang Bahandang Balau dan Asal Mula Desa Tambak Bajai

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI/NET/ISTIMEWA
-

Bag 2

Hingga pada suatu hari datanglah seorang pemuda gagah dan tampan beserta rombongannya yang berasal dari daerah Dusun Timur yaitu Desa Dayu yang berniat melamar Bawi Nyai. Ternyata pemuda beserta rombongannya ini bukanlah orang asing bagi keluarga besar Damang Bahandang Balau, masih ada pertalian kekerabatan di antara mereka. Gayung pun bersambut, setelah melalui perundingan adat maka lamaran tersebut diterima. Pesta perkawinan diputuskan akan dilangsungkan satu bulan ke depan dengan suatu pesta besar selama tujuh hari tujuh malam.
Setelah permufakatan tentang perkawinan selesai, rombongan pemuda dari Desa Dayu tadi kembali ke desanya untuk mempersiapkan “Jalan Hadat” yang harus dipenuhi serta segala sesuatu yang diperlukan unt penyelenggaraan pesta perkawinan nanti. Begitu juga Damang Bahandang Balau bersama warga desanya pun bergotong-royong mempersiapkan segala sesuatunya untuk keperluan pesta. Kabar akan diselenggarakannya pesta perkawinan pun disebarluaskan ke desa-desa sekitar agar menghadiri pesta tersebut satu bulan kemudian. Demikianlah sejak saat itu aktifitas warga desa pun meningkat, terlihat kesibukan di sana sini dalam suasana bergembira karena akan menyambut pesta perkawinan adik kesayangan pemimpin yang mereka cintai.
Hari perkawinan Bawi Nyai pun tiba, rombongan mempelai laki-laki juga telah hadir di Betang kediaman Damang Bahadang Balau, demikian halnya para tamu undangan dan para kerabat dari desa-desa sekitar sudah berdatangan untuk menyaksikan dan memeriahkan pesta. Gandang (gendang) dan garantung (gong) pun mulai ditabuh dengan irama suka cita, suasana menjadi ramai dan riang gembira. Berbagai macam jenis hiburan seperti balian karunya, sansana, kandan, karungut, tomet leot, dego, deder, parung, tasai, kanjan ditampilkan bagi tamu undangan yang sebagian besar adalah keluarga besar Damang Bahandang Balau yang berasal dari berbagai daerah aliran sungai di Kalimantan. Semua datang untuk menghadiri pesta adat perkawinan  terbesar untuk adik Damang Bahandang Balau, yang merupakan perpaduan dua adat yaitu secara adat Dayak Ngaju dan adat Dayak Maanyan.
Puncak ritual perkawinan tersebut adalah upacara hasaki, yaitu kedua mempelai duduk bersanding pada sebuah garantung atau gong besar, kemudian keduanya diolesi dengan darah binatang. Upacara ini dilakukan pada hari yang kedua. Pada prosesi ini Bawi Nyai akan keluar dari kamar kuwunya dan memperlihatkan dirinya kepada calon suami dan khalayak umum untuk yang pertama kalinya. Decak kagum pun bergemuruh takala semua orang melihat kecantikan Bawi Nyai, rona bahagia terlihat jelas dari senyumnya, beitu juga sang suami yang duduk di sampingnya. Keduanya terlihat bahagia dalam proses memasuki kehidupan mereka yang baru.
Pesta pun berlanjut hingga malam yang ketujuh atau malam yang terakhir. Biasanya malam terakhir pesta perkawinan merupakan malam puncak kemeriahan pesta, namun malam itu semuanya tampak kelelahan dan tidak kuasa menahan kantuk. Alhasil, belum sampai tengah malam semua orang tertidur dengan lelapnya. Riuh pesta dengan tetabuhannya tiba-tiba hilang ditelan heningnya malam.
Hanya Bawi Nyai sendiri yang masih terjaga dan terlihat gelisah di dalam kamar pengantinnya lantaran merasa kepanasan. Lalu ia memutuskan untuk keluar secara diam-diam seraya membangunkan jipen pengasuhnya untuk menemaninya turun dari betang.
Malam itu bulan bersinar sangat terang menerpa permukaan sungai memantulkan kerlip cahaya keemasan yang menarik perhatian Bawi Nyai, lalu timbulah niat untuk turun ke sungai untuk sekedar membasahi wajah dan tubuhnya yang sedang kepanasan.ISTIMEWA

-
-
-