PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Kasus demam berdarah dengue atau DBD di Kalimantan Tengah, mencapai 3.150 kasus selama periode Januari-November 2023. Warga diimbau untuk menerapkan dan menjaga kebersihan lingkungan.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kalteng dr Riza Syahputra mengatakan, penyebab DBD adalah virus dengue yang ditularkan lewat gigitan nyamuk betina Aedes aegypti yang terinfeksi.
Nyamuk yang dalam tubuhnya mengandung virus dengue tersebut jika menggigit manusia, maka akan menularkan virus tersebut ke manusia. Jika daya tahan tubuh orang yang digigit tidak kuat, maka akan sakit/demam berdarah.
“Dari periode Januari-November Kabupaten Kotawaringin Barat ada 321 kasus, Kotawaringin Timur 623 kasus, Kapuas 183 kasus, Barito Selatan 22 kasus, Barito Utara 133 kasus, Sukamara 91 kasus, Lamandau 37 kasus, Seruyan 538 kasus, Katingan 202 kasus, Pulang Pisau 31 kasus,” sebutnya, Selasa (12/12).
Kemudian Gunung Mas 244 kasus, Barito Timur 15 kasus, Murung Raya 180 kasus, dan Kota Palangka Raya 365 kasus.
Ia mengungkapkan, demam berdarah merupakan penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang menggigit manusia pada pagi hingga sore hari. Telur nyamuk Aedes agypti mampu bertahan selama 6-8 bulan dalam kondisi lingkungan yang kering, dan akan menjadi nyamuk jika lingkungan mendukung perkembangbiakannya. Pelaksanaan pengabutan panas (fogging) hanya untuk membunuh nyamuk dewasa, tidak berefek bagi telur dan jentik nyamuknya.
Maka itu, masyarakat harus mencegah DBD dengan menerapkan 3M (Menguras, Mengubur, Mendaur).
“Cara yang paling efektif untuk pengendalian DBD adalah dengan mencegah perkembanganbiakan nyamuk melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan 3 M plus,” katanya.
Menguras tempat-tempat penampungan air yang menjadi tempat berkembang biar nyamuk, mengubur barang-barang bekas yang bisa menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, mengubur tempat penampungan air minum dan menaburkan bubuk abate. Kemudian mendaur ulang berbagai barang yang memiliki potensi untuk dijadikan tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus DBD pada manusia.
Ia mengungkapkan hal tersebut adalah cara yang paling murah dan aman bagi masyarakat dan bisa dilakukan oleh masyarakat itu sendiri.
“Fogging bertujuan untuk membunuh nyamuk dewasa, sehingga jika dalam kasus DBD kegiatan fogging tetap harus diikuti dengan upaya PSN. Jika fogging tidak diimbangi dengan PSN, maka dalam waktu sekitar 10-14 hari akan muncul kembali nyamuk dewasa yang berpotensi untuk menularkan DBD,” ujarnya.
Pengendalian penyakit demam berdarah akan efektif jika dilakukan melalui pengendalian vector/nyamuk penular DBD secara terpadu untuk mengendalikan nyamuk dewasa dan telur/jentik nyamuk melalui kegiatan PSN dan gerakan 3M Plus (yaitu menyikat dan menguras bak mandi secara rutin, karena telur nyamuk menempel, menutup tempat penampungan air, membuang air penampungan dispenser dan kulkas, mengganti dan membersihkan air minum hewan peliharaan setiap hari), pemberian abate untuk membunuh jentik-jentik nyamuk Aedes Aegypti dan mencegah perkembangbiakan menjadi nyamuk dewasa.
“Nyamuk ini mempunyai kebiasaan menggigit pada siang hari (terutama di pagi dan sore hari). Nyamuk ades tidak suka mendiami tempat yang kotor, melainkan menyasar tempat-tempat bersih, seperti bak mandi,” pungkasnya. ldw











