PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID– Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Dapil Kalimantan Tengah (Kalteng) Agustin Teras Narang mengungkapkan, tradisi berkisah lisan dari masyarakat lokal, khususnya masyarakat Dayak, mesti terus dilestarikan dan dikembangkan sebagai sarana pembangunan kualitas sumber daya manusia. Hal ini termasuk pada tradisi Sangan, sebagai tradisi bertutur dan kearifan lokal masyarakat Delang di Kabupaten Lamandau, Kalteng.
Itu disampaikan Teras dalam Webinar Budaya bertajuk “Mengenal Budaya Sangan: Warisan Dongeng Kearifan Lokal Delang untuk Membentuk Karakter Anak, Mengasuh Imajinasi, dan Menguatkan Literasi Budaya” yang digelar komunitas Borneo Bajenta, Jumat (20/3/2026). Menurutnya, ini merupakan sebuah gerakan budaya yang patut diapresiasi dan diteruskan.
Teras mengaku gembira bisa bertemu secara daring dengan Abu Daud atau Patih Damar Molayap yang merupakan pegiat budaya Delang yang memaparkan bagaimana Sangan dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat. Juga ada akademisi dari Universitas Palangka Raya (UPR) Yuli Ana yang memberikan pandangan sosiologis tentang peran Sangan dalam membentuk nilai hidup masyarakat Dayak serta tantangannya di era teknologi.
Secara khusus, Teras menyampaikan bagaimana Sangan dapat dipakai sebagai sarana budaya penanaman nilai yang bermanfaat untuk meningkatkan sumber daya manusia. Lebih dari itu, ia melihat peran Sangan sebagai dongeng lokal untuk meningkatkan moral dan akhlak, hingga pembentukan karakter sumber daya manusia kita.
Sebab bagaimanapun, imbuh Gubernur Kalteng dua periode 2005-2015, pembangunan karakter ini sangat penting untuk diperhatikan. Termasuk pembangunan karakter unggul yang dilandasi nilai kesabaran, kejujuran, dan keberanian.
Ditegaskannya, Sangan sebagai tradisi berkisah lisan yang diwariskan turun temurun pada kelompok masyarakat Delang, juga memiliki makna yang mendalam dan berfungsi sebagai sarana penyampai nilai-nilai, norma, atau kepercayaan masyarakat. Termasuk seperti menyampaikan nilai-nilai luhur kebersamaan dan kolaborasi yang juga menjadi falsafah masyarakat kita yakni Huma Betang.
Masyarakat di luar Kalteng juga memiliki bentuk dongeng tersendiri yang dipakai sebagai instrumen pengajaran. Kalau di Sumatera Barat, ada Malin Kundang, yang mengajarkan pentingnya menghormati orang tua. Sementara di Jawa Barat, kita juga mendengar kisah Ratu Kidul sebagai ekspresi pengajaran akan kekuatan alam.
Dongeng termasuk Sangan dengan demikian, lanjut Teras, juga dapat menjadi sarana pembangunan kesadaran masyarakat atas beragam isu seperti kepentingan menjaga lingkungan, memelihara identitas kebudayaan, hingga pembangunan karakter sumber daya manusia yang unggul.
“Saya berharap juga mendorong agar Dinas Kebudayaan terkait di tingkat kabupaten dan kota, di bawah koordinasi Dinas Kebudayaan Provinsi Kalimantan Tengah, untuk melakukan terobosan kebudayaan. Melakukan kompilasi terhadap tradisi bertutur lisan lokal yang ada, termasuk seperti Sangan ini,” ujar Teras.
Selanjutnya, kata dia, bersama para akademisi bisa melakukan revitalisasi atas kearifan lokal ini, sebagai sarana penanaman nilai-nilai unggul bagi generasi muda Kalteng. Ini akan menjadi sangat strategis dalam upaya penanaman nilai, pembangunan karakter, dan akhirnya pembangunan sumber daya manusia unggul di daerah kita.
Menurutnya, hal ini tentu akan selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya poin keempat yang menempatkan penguatan kualitas sumber daya manusia sebagai agenda penting menuju visi Indonesia Emas 2045.
“Kita bersama, dari setiap keluarga yang ada di Kalteng, juga perlu mendukung pelestarian dan pengembangan tradisi bertutur lisan atau dongeng model Sangan yang berasal dari Lamandau. Termasuk memakainya untuk menanamkan nilai-nilai utama di tengah keluarga bagi kepentingan anak-anak dan komunitas masyarakat kita,” tandasnya.
Hal ini juga penting sebagai langkah untuk menanamkan kearifan bagi generasi muda yang kini mulai akrab dengan modernisasi dan perkembangan teknologi yang juga punya tantangannya sendiri. Agar generasi muda juga bisa menjadi pelaku budaya dan pelaku perubahan yang menjembatani kearifan lokal di masa lalu untuk di bawa ke masa depan. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi? hil/red











