PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Sebanyak 98 titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tercatat terjadi di Kota Palangka Raya sejak awal tahun 2026. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menunjukkan, puluhan kejadian tersebut didominasi kebakaran lahan dengan total luasan mencapai sekitar 4 hektare.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Palangka Raya Hendrikus Satriya Budi, mengatakan sebaran karhutla tersebut banyak ditemukan di kawasan padat penduduk, terutama di wilayah Kelurahan Jekan Raya, Pahandut, dan Sabangau.
“Data sementara ada 98 titik dengan luasan kurang lebih 4 hektare. Sebarannya berada di beberapa wilayah, terutama daerah dengan aktivitas masyarakat yang cukup tinggi,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (20/4/2026).
Ia menjelaskan, mayoritas kejadian merupakan kebakaran lahan milik warga yang sebelumnya dibersihkan, lalu dibiarkan mengering dan akhirnya dibakar. Kondisi ini membuat potensi kebakaran bisa muncul meski belum memasuki puncak musim kemarau.
“Tidak perlu menunggu kemarau panjang. Lahan yang sudah kering, dua hari tanpa hujan saja sudah bisa terbakar,” jelasnya.
BPBD menilai, jumlah 98 titik tersebut menjadi sinyal awal meningkatnya potensi karhutla di Palangka Raya. Apalagi, berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau diprediksi mulai terjadi pada minggu ketiga Mei 2026, dengan kondisi yang lebih kering dan berlangsung hingga Agustus.
Jika tidak diantisipasi, kebakaran lahan berpotensi meluas dan merambat ke kawasan hutan, sehingga menimbulkan dampak yang lebih besar, termasuk kabut asap.
“Yang perlu diwaspadai, kebakaran kecil di lahan bisa berkembang menjadi besar jika tidak segera ditangani,” tegasnya.
BPBD pun mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, mengingat selain berbahaya juga melanggar aturan hukum.
“Masyarakat kami minta tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun. Gunakan cara yang lebih aman dan ramah lingkungan,” pungkasnya. dte/redfwa





