PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya memprediksi wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam sepekan ke depan.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Renianata menyampaikan bahwa kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor atmosfer yang mendukung terbentuknya awan hujan di wilayah Indonesia, khususnya Kalteng.
“Selama seminggu ke depan diprediksi masih berpotensi hujan sedang hingga lebat di wilayah Kalimantan Tengah. Hal ini dipengaruhi beberapa gangguan atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) yang saat ini terpantau berada pada Fase 4 atau Netral Maritime Continent,” ujarnya saat dikonfirmasi Tabengan, Jumat (23/5/2026).
Ia menjelaskan, secara spasial MJO terpantau aktif di sebagian wilayah Pulau Kalimantan. Kondisi tersebut diperkuat adanya daerah belokan angin, perlambatan kecepatan angin atau konvergensi, serta labilitas atmosfer lokal yang cukup kuat sehingga meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan.
Menurutnya, kondisi cuaca saat ini juga dipengaruhi masa peralihan atau pancaroba menuju musim kemarau. Pada periode tersebut, cuaca cenderung tidak menentu dan berpotensi memicu terjadinya cuaca ekstrem.
“Masa peralihan musim biasanya ditandai cuaca yang berubah-ubah. Pagi hari bisa terasa sangat panas, kemudian tiba-tiba pada siang atau sore turun hujan lokal hingga hujan lebat. Bahkan berpotensi terjadi hujan ektrem, angin kencang, puting beliung, serta hujan yang disertai petir atau kilat,” jelasnya.
BMKG juga memprediksi musim kemarau tahun 2026 berpotensi lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya. Hal itu dipengaruhi adanya prediksi fenomena El Nino dengan kategori lemah hingga moderat yang diperkirakan terjadi pada semester kedua tahun 2026.
Kondisi tersebut diperkirakan menyebabkan penurunan curah hujan dan peningkatan suhu udara di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Kalteng.
“Sementara untuk puncak musim kemarau di Kalimantan Tengah diprediksi terjadi pada Juli hingga Agustus 2026,” tambahnya.
Selain potensi cuaca ekstrem, BMKG turut mengingatkan adanya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang rawan terjadi saat musim kemarau mulai berlangsung. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan pembakaran lahan untuk tujuan apa pun.
Ia mengimbau masyarakat agar tetap menjaga kesehatan di tengah perubahan cuaca yang tidak menentu, sekaligus terus memantau informasi perkembangan cuaca melalui kanal resmi BMKG.
“Kami mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem selama masa peralihan musim ini serta tidak membuka lahan dengan cara membakar karena risiko karhutla akan lebih mudah terjadi,” pungkasnya. dte/fwa-red











