
PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID– Upaya memperkuat ketahanan pangan di tengah tantangan perubahan iklim menjadi perhatian utama dalam Seminar dan Rapat Tahunan (Semirata) Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Negeri (BKS-PTN) Wilayah Barat Bidang Ilmu Pertanian Tahun 2026. Kegiatan yang berlangsung pada 23–25 Juni 2026 ini resmi digelar dengan Universitas Palangka Raya (UPR) sebagai tuan rumah, melalui inisiasi Fakultas Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (FPKP).
Semirata yang mempertemukan akademisi, peneliti, serta berbagai perguruan tinggi bidang pertanian ini mengangkat tema strategis mengenai hubungan ketahanan pangan dengan perubahan iklim, khususnya dalam pengelolaan ekosistem tropis seperti lahan gambut.
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Umum Universitas Palangka Raya, Darmae Nasir menyampaikan bahwa Semirata BKS-PTN Wilayah Barat Bidang Ilmu Pertanian merupakan agenda tahunan yang tahun ini dipercayakan kepada Kalimantan Tengah, khususnya UPR, sebagai tuan rumah.
“Ini adalah kegiatan tahunan dari BKS-PTN Barat Bidang Ilmu Pertanian. Tahun ini Kalimantan Tengah, dalam hal ini Universitas Palangka Raya, dipilih sebagai tuan rumah. Topik yang dibahas sangat relevan, yaitu ketahanan pangan dan hubungannya dengan perubahan iklim,” ujarnya sesaat setelah pembukaan Semirata BKS-PTN Wilayah Barat Bidang Ilmu Pertanian Tahun 2026, di Aula Rahan UPR, Rabu (24/6).
Menurutnya, isu tersebut merupakan pembahasan yang luas karena mencakup berbagai aspek, mulai dari biofisik, sosial, hingga humaniora. Lingkungan, kata dia, merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan dan mempengaruhi.
“Ketahanan pangan sesuai dengan program pemerintah. Perguruan tinggi memiliki peran untuk mendukung agar ketahanan pangan Indonesia, tidak hanya di wilayah barat, tetapi seluruh Indonesia dapat berjalan dengan baik,” jelasnya.
Darmae berharap hasil diskusi dan penelitian yang muncul dalam Semirata tersebut nantinya dapat menjadi rekomendasi bagi pemerintah daerah dalam mengembangkan strategi ketahanan pangan berbasis potensi lokal Kalimantan Tengah.
“Hasil seminar ini nantinya dapat kita rekomendasikan kepada pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota, untuk mendorong kerja sama dan penerapan praktik terbaik dalam mendukung ketahanan pangan,” katanya.
Ia menambahkan, pembahasan mengenai gambut menjadi salah satu perhatian karena Kalimantan Tengah memiliki karakteristik ekosistem yang serupa dengan sejumlah wilayah lain seperti Sumatera.
Sementara itu, Ketua Panitia Semirata BKS-PTN Wilayah Barat Bidang Ilmu Pertanian 2026, Agung Wibowo menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi ruang berbagi pengalaman antarperguruan tinggi yang memiliki kesamaan kondisi biofisik, terutama terkait kawasan gambut.
“BKS-PTN Wilayah Barat ini memiliki kesamaan biofisik. Di Sumatera ada gambut, di Kalimantan juga ada gambut. Melalui forum ini kita ingin menghadirkan praktik-praktik baik yang bisa diduplikasi dan diterapkan untuk mendorong pembangunan yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Selain menghadirkan akademisi dari berbagai perguruan tinggi dalam negeri, Semirata tahun ini juga menghadirkan pembicara internasional dari Malaysia, Belanda, dan Polandia untuk memberikan perspektif berbeda terkait pengelolaan lingkungan, kearifan lokal, serta pembangunan pertanian.
“Dengan sudut pandang yang berbeda, kita berharap mendapatkan gambaran yang lebih lengkap sehingga kebijakan dan implementasi di lapangan dapat berjalan lebih tepat serta tidak memberikan dampak negatif terhadap lingkungan,” pungkas Agung. nws/fwa-red











