PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih membayangi Kota Palangka Raya selama musim kemarau 2026. Sepanjang periode 1 Juni hingga 2 Agustus 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya mencatat sebanyak 138 kejadian karhutla dengan total luas lahan terdampak mencapai 157,90 hektare.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya Heri Fauzi mengatakan, wilayah Kecamatan Jekan Raya menjadi daerah dengan jumlah kejadian terbanyak. Dari total kasus yang tercatat, 89 kejadian terjadi di Jekan Raya, disusul Kecamatan Sabangau sebanyak 29 kejadian, Kecamatan Pahandut 16 kejadian, dan Kecamatan Bukit Batu empat kejadian. Sementara itu, Kecamatan Rakumpit tidak mencatat adanya kejadian karhutla selama periode tersebut.
“Kami mencatat terjadi 138 kejadian karhutla. Kejadian terbanyak berada di Kecamatan Jekan Raya diikuti wilayah di Kecamatan Sabangau,” sebutnya, Senin (3/8/2026).
Heri menambahkan, setiap laporan yang masuk langsung ditindaklanjuti dengan mengerahkan personel dan peralatan pemadaman ke lokasi. Kemudian, lanjut Heri, respons cepat sangat penting untuk mencegah api meluas, terutama pada kawasan lahan gambut yang memiliki tingkat kerawanan tinggi saat musim kemarau.
Dalam upaya pengendalian karhutla, BPBD tidak bekerja sendiri. Penanganan di lapangan dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Manggala Agni, TNI, Polri, Dinas Kehutanan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), pemadam kebakaran, relawan, Masyarakat Peduli Api (MPA), hingga perangkat kecamatan dan kelurahan setempat.
Menurut Heri, sinergi tersebut menjadi faktor penting dalam mempercepat proses pengendalian kebakaran, mulai dari pemadaman darat, patroli terpadu, pemantauan wilayah rawan, hingga penyediaan sumber air di sejumlah titik strategis.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Kota Palangka Raya Hendrikus Satria Budi menegaskan, langkah pencegahan terus menjadi prioritas utama. Berbagai upaya dilakukan, seperti patroli rutin di kawasan rawan karhutla, sosialisasi kepada masyarakat, penyebaran informasi peringatan dini, serta pemetaan daerah dengan tingkat kerawanan tinggi.
“Kami terus mengedepankan upaya pencegahan karena jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah kebakaran terjadi. Edukasi kepada masyarakat juga terus dilakukan agar tidak membuka lahan dengan cara membakar,” jelas Budi.
Ia menambahkan, pemerintah daerah juga terus memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak guna memastikan kesiapan personel, peralatan, serta logistik selama musim kemarau berlangsung.
BPBD juga mengingatkan masyarakat untuk turut berperan aktif dalam mencegah terjadinya karhutla. Warga diimbau tidak melakukan pembakaran lahan, tidak membuang puntung rokok sembarangan di area kering, serta segera melaporkan jika menemukan titik api maupun kepulan asap kepada petugas terkait.
“Pengendalian karhutla bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Dibutuhkan partisipasi seluruh masyarakat agar potensi kebakaran dapat ditekan dan dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan, serta aktivitas masyarakat dapat diminimalkan,” tutup Budi. nws/fwa-red











