PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) terus dikembangkan melalui berbagai inovasi, terutama untuk menghadapi kebakaran di kawasan gambut yang dikenal sulit dipadamkan.
Salah satu inovasi tersebut dikembangkan oleh Kabagwassidik Ditreskrimsus Polda Kalteng AKBP Edia Sutaata dan Dosen S1 Kehutanan UPR sekaligus peneliti Centre for International Cooperation in Sustainable Management of Tropical Peatlands (CIMTROP), Kitso Kusin, melalui pemanfaatan cairan khusus pemadam api bernama Shabodama yang dicampurkan dengan air.
Kabagwassidik Ditreskrimsus Polda Kalteng Edia Sutaata mengatakan, inovasi itu dikembangkan melalui riset dan uji coba lapangan bersama Universitas Palangka Raya.
Penggunaan cairan tersebut dinilai dapat menjadi salah satu alternatif dalam penanganan karhutla, khususnya pada medan berat seperti lahan gambut maupun tanah mineral.
“Berdasarkan uji coba lapangan dan riset akademik yang telah ditempuh sejak tahun 2019, cairan ini memiliki sejumlah keunggulan komparatif dibandingkan metode konvensional,” kata Edia bersama tim peneliti lingkungan saat melakukan peninjauan di lokasi lahan pasca-terbakar, Rabu (2/9/2026).
Menurut Edia, cairan tersebut memiliki sejumlah keunggulan, seperti ramah lingkungan, cepat meresap dan dapat menghemat penggunaan air saat proses pemadaman.
“Ini adalah solusi taktis bagi penanggulangan karhutla di lahan gambut. 2.000 liter air bersih dicampur dengan 2 liter cairan Sabundama sudah mampu menghasilkan daya padam yang masif dan cepat,” bebernya.
Ia menyebut, penerapan cairan tersebut telah dilakukan dalam berbagai kegiatan riset maupun implementasi lapangan sejak 2015.
Pengujian dan penerapannya dilakukan di sejumlah wilayah Kalteng, mulai dari Kabupaten Pulang Pisau, Kota Palangka Raya, Sampit hingga Pangkalan Bun.
“Efektivitas metode ini bahkan telah dikirim dan diuji coba untuk penanggulangan karhutla di Provinsi Riau,” terangnya.
Upaya mengembangkan metode pemadaman yang lebih hemat air juga dilakukan Universitas Palangka Raya (UPR). Dikatan, riset pemanfaatan busa untuk membantu pemadaman kebakaran gambut telah dilakukan bersama peneliti asal Jepang sejak 2012.
Sebelum penelitian dimulai, pembahasan mengenai pemanfaatan produk busa tersebut telah dilakukan sejak 2011 kemudian 2012 dimulai penelitian. Pada pengujian awal, tim membuat plot percobaan berukuran 10×10 meter. Gambut di dalam area tersebut dibakar dan dibiarkan selama kurang lebih 24 jam.
Setelah gambut terbakar, pemadaman dilakukan dengan dua perlakuan, yakni menggunakan air biasa dan air yang telah dicampur bahan busa. Hasil pengujian menunjukkan penggunaan campuran busa mampu menekan kebutuhan air hingga sekitar 80 persen dibandingkan pemadaman menggunakan air biasa.
“Terus berlanjut kemudian 2015 kita lakukan pelatihan lagi dengan hal yang seperti itu sama dan nilainya tidak jauh berbeda,” jelasnya.
Riset tersebut kemudian dikembangkan kembali dengan skala lebih besar pada 2024. Tim menggunakan plot percobaan berukuran 20×20 meter untuk menguji efektivitas penggunaan busa pada area yang lebih luas.
Kitso mengungkapkan, produk busa yang digunakan awalnya dikembangkan untuk kebutuhan sabun kecantikan.
“Karena bahan yang digunakan dinilai relatif aman bagi manusia dan lingkungan, pemanfaatannya kemudian dikembangkan untuk membantu pemadaman kebakaran,” ungkapnya.
Selain efektivitas, ketersediaan bahan baku juga menjadi pertimbangan. Menurut Kitso, bahan baku berasal dari tanaman yang memiliki kandungan minyak dan berpotensi tersedia di Indonesia.
“Kalau di tempat kita tersedia kan mungkin lebih murah,” pungkasnya. dte/fwa-red











