*Penuh Luka Bacok, Pelaku Diduga Dendam
*DAD Pertanyakan Beberapa Kasus Pembunuhan Belum Terungkap
PALANGKA RAYA- Warga Kota Palangka Raya digegerkan dengan peristiwa pembunuhan di Jalan Cempaka, Kelurahan Langkai, Kecamatan Pahandut, Jumat (23/9) malam. Pasangan suami istri (pasutri) Ahmad Yendi (50) dan Fatnawati (46) dihabisi secara tragis di dalam rumahnya saat beristirahat.
Pelaku yang beraksi seorang diri menghabisi kedua korban menggunakan senjata tajam yang diduga masuk melalui pintu belakang rumah. MY (17), anak kedua pasutri, berhasil selamat setelah melarikan diri.
Usai kejadian, kepolisian segera melakukan olah TKP di rumah korban. Pasutri tersebut kemudian dibawa ke RSUD Doris Sylvanus guna menjalani autopsi atas kejadian itu.
Kapolresta Palangka Raya Kombes Pol Budi Santosa mengatakan, masih melakukan penyelidikan terkait pelaku tindak pidana pembunuhan tersebut. Personel telah bergerak melakukan penyisiran dan perburuan kepada pelaku.
“Sudah kita tangani, tim sudah berada di lapangan untuk memburu pelaku,” tegasnya.
Sementara itu, Kasat Reskrim Kompol Ronny M Nababan menjelaskan, setidaknya belasan luka bacokan dialami kedua korban dalam peristiwa tersebut. Pada korban Ahmad Yendi terdapat 13 luka bacok dan istrinya ada 11 luka bacok.
Pada kejadian tersebut, pelaku menghabisi korban Fatnawati di kamar belakang, kemudian berpindah ke kamar depan yang dihuni korban Ahmad Yendi.
“Luka paling banyak berada di bagian wajah dan kepala. Kemudian ada juga luka di bagian lengan,” jelasnya.
Dari pemeriksaan sementara, MY berhasil menyelamatkan diri setelah mendengar suara teriakan dari ayahnya di kamar depan. Kebetulan, kamar antara MY dan ayahnya hanya bersebelahan dengan sekat papan.
Ketika mengintip, MY mendapati badan ayahnya sudah berlumuran darah dan melihat pelaku. Seketika MY segera melarikan diri melalui pintu belakang.
“MY kini masih trauma atas kejadian itu, sehingga pemeriksaan belum bisa sepenuhnya kita laksanakan. Pendampingan akan kita lakukan, menunggu kondisi MY tenang sebelum diminta keterangan,” ungkapnya.
Dendam dan Emosi
Bacokan yang dilakukan pelaku terhadap pasutri Ahmad Yendi dan Fatnawati diduga dilakukan atas rasa dendam dan emosi. Hal ini disebutkan Dokter Forensik RSUD Doris Sylvanus Ricka Brilianty usai melakukan autopsi.
Dikatakan, bacokan yang membabi buta menyebabkan senjata tajam yang digunakan menghancurkan tengkorak dan merusak otak kedua korban. Kerusakan paling banyak terjadi di bagian wajah kedua korban.
“Seperti ada dendam atau emosi tinggi dari pelaku kepada kedua korban. Luka sampai menembus tengkorak dan merusak otak,” katanya.
Ia menyebutkan, 11 luka di korban wanita terbanyak berada di area wajah dan lengan kanan bawah. Sedangkan pada suaminya ada 13 luka bekas sajam, 6 di bagian wajah. Pada keduanya terdapat luka di bagian lengan yang menunjukkan indikasi ada perlawanan untuk menangkis senjata tajam yang digunakan pelaku.
“Tidak ada tanda kekerasan seksual atau perkosaan dalam kejadian tersebut,” tuturnya.
Sempat Minta Tolong
Kejadian tragis yang menimpa pasutri Ahmad Yendi dan Fatnawati diduga terjadi pada pukul 22.30 WIB saat hujan deras mengguyur Kota Palangka Raya.
Edi, salah satu tetangga mengatakan, awalnya hanya mendengar suara seperti bunyi kembang api dari rumah korban sebanyak 3 kali. Belum ada suara teriakan minta tolong saat itu.
“Pukul 23.00 WIB saya dihubungi Ketua RT kalau terjadi penusukan di rumah korban. Pak RT mengetahuinya karena anak korban lari ke rumahnya untuk minta tolong,” katanya.
Ia menerangkan, setelah kejadian itu sempat mendatangi rumah korban dan mendengar suara minta tolong dari korban Ahmad Yendi yang terlihat dari balik jendela kamar sambil memegangi perutnya.
“Saya mau masuk bingung saat itu, kemudian juga tidak berani kalau terjadi apa-apa. Kata Ketua RT, pelakunya punya ciri berperawakan tinggi dan berkulit putih, berdasarkan keterangan sang anak yang menyelamatkan diri,” ungkapnya.
DAD Kalteng: Beberapa Kasus Pembunuhan Belum Terungkap
Kasus Pembunuhan Belum Terungkap
Sesuai petunjuk dan arahan Ketua Umum DAD Kalteng, yang disampaikan Ketua Harian DAD Kalteng, Andrie Ellia Embang melalui Kepala Biro Pertanahan dan Keamanan Adat, Ingkit Djaper, Minggu (25/9) kemarin, pihaknya sangat merasa prihatin dengan kondisi tersebut. Apalagi kedua korban pembunuhan tersebut adalah masyarakat Dayak.
Pembunuhan sadis ini sepertinya menambah daftar rentetan Pekerjaan Rumah (PR) bagi aparat Kepolisian Polda Kalteng di daerah ini. DAD Provinsi Kalteng siap mendukung penuh upaya Polri dalam mengungkap dan membuat terang benderang kasus ini dan menangkap pelakunya. “Pelakunya sangat sadis dan biadab. Polda Kalteng harus bekerja lebih ekstra lagi mengungkap dan menangkap pelakunya,” kata Ingkit Djaper.
DAD Kalteng sebagaimana petunjuk Ketua Umum, H. Agustiar Sabran siap mendukung penuh Polri untuk pengungkapan kasus tersebut seandainya nanti mendapatkan informasi-informasi yang dipandang dapat memberikan arah bagi membuat terang benderangnya penyelidikan Polisi. Lebih lanjut, dalam petunjuk tersebut, Ketua Harian DAD Kalteng, Andrie Ellia Embang juga memberikan support yang besar bagi Polda Kalteng untuk bergerak cepat menangkap pelaku.
Partisipasi masyarakat dalam membantu tugas Polri untuk mengungkap kasus kejahatan besar yang sadis seperti ini sangat diperlukan. Pihaknya menghimbau agar seua lapisan masyarakat memberikan informasi yang sangat berguna bagi aparat kepolisian Polda Kalteng. Dengan begitu, maka kasus pembunuhan ini dapat terungkap secara cepat dan mengungkap apa motif dan latar belakangnya.
“Dalam catatan yang ada, pembunuhan sadis yang terjadi disekitar kawasan ini ada yang sampai sekarang belum terungkap, sebagai contoh terbunuhnya saudari Melly di kawasan PCPR, terbunuhnya Kai Warung samping kawasan PCPR, depan Kantor Gubernur Kalteng, Jalan RT Milono, dan beberapa kasus lainnya. Pun begitu, kami yakin dan percaya Polda Kalteng dan jajarannya mampu mengungkap kasus pembunuhan sadis warga Dayak ini,” kata Ingkit Djaper. fwa











