Spirit Kalteng

EDISI HARI PAHLAWAN- Tjilik Riwut dan George Obus

107
×

EDISI HARI PAHLAWAN- Tjilik Riwut dan George Obus

Sebarkan artikel ini
EDISI HARI PAHLAWAN- Tjilik Riwut dan George Obus

Tjilik Riwut merupakan Pahlawan Nasional berasal dari Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Tjilik Riwut juga tercatat sebagai Gubernur pertama di Kalteng. Ia juga pernah mengusulkan pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Palangka Raya kepada Dewan Nasional. Namanya diabadikan pada bandara udara di Palangka Raya.

Tjilik Riwut lahir pada tanggal 2 Februari 1918 di Kasongan, Kabupaten Katingan. Ia merupakan keturunan asli Dayak Ngaju. Tjilik selalu bangga menyebut dirinya sebagai “orang hutan” karena lahir dan dibesarkan di belantara Kalimantan. Di sisi lain, ia juga merupakan pecinta alam sejati yang selalu menjunjung tinggi budaya leluhurnya. Saat masa mudanya, Tjilik pernah tiga kali mengelilingi Pulau Kalimantan hanya dengan berjalan kaki, menaiki perahu, dan rakit.

Tjilik Riwut menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya di kota kelahirannya. Lalu, Tjilik Riwut  melanjutkan studinya di Sekolah Perawat di Purwakarta dan Bandung. Tjilik Riwut merupakan salah satu putera Dayak dari Suku Dayak Ngaju yang menjadi anggota KNIP. Perjuangannya melampaui batas-batas kesukuann untuk menjadi salah satu pejuang bangsa.

Perjuangan Tjilik Riwut

Pada tanggal 17 Oktober 1947, Tjilik memimpin Operasi Penerjunan Pasukan Payung Pertama di dalam sejarah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Tjilik juga berhasil membuat Pulau Kalimantan masuk ke Republik Indonesia. Ia berhasil mewakili 185.000 rakyat, yang terdiri dari 142 Suku Dayak, 145 kepala kampung, 12 kepala adat, 3 panglima, 10 patih, dan 2 tumenggung dari pedalaman Kalimantan.

Dimana, Tjilik bersumpah setia kepada pemerintah RI secara adat dihadapan Presiden Soekarno di Gedung Agung Yogyakarta, 17 Desember 1946. Selain sebagai pejuang, Tjilik merupakan penulis handal. Latar belakang sebagai jurnalis mengasah ketrampilannya dalam menulis.

Beberapa karya Tjilik Riwut adalah sebagai berikut: Makanan Dayak (1952) Sejarah Kalimantan (1952) Kalimantan Memanggil (1958) Memperkenalkan Kalimantan Tengah dan Pembangunan Kota Palangka Raya (1962) Manaser Panatau Tatu Hilang (1965) Di awal Kemerdekaan RI, Tjilik mulai mendapatkan kepercayaan berkarir di bidang politik.
Pada 1950, Tjilik menjadi Bupati Kotawaringin Timur dan Bupati Kepala Daerah Swantara Tingkat II Kotawaringin Timur pada tahun 1951 – 1956. Karir birokrasinya makin meroket, Tjilik menjadi Gubernur Pertama Kepala Daerah Tingkat I, Kalimantan Tengah.

Ia mengubah Pahandut menjadi Palangka Raya dan dijadikan sebagai ibu kota Kalimantan Tengah. Roeslan Abdoelgani, mantan Wakil Ketua Dewan Nasional mengatakan bahwa Tjilik Riwut pernah mengajukan pemindahan ibu kota Indonesia dari Jakarta ke Palangka Raya. Saat itu pertimbangannya, posisi Palangka Raya berada di titik tengah Indonesia, sehingga aman dari ancaman negara lain.

Tantangan pemindahan ibu kota tersebut adalah belum adanya jalur transportasi yang memadai meskipun gagasan tersebut diterima oleh seluruh anggota Dewan Nasional. Rencananya Tugu Dewan Nasional yang terletak di Palangka Raya akan menjadi pusat lokasi ibu kota baru. Namun bergantinya kabinet, wacana pemindahan ibu kota tersebut menjadi hilang seiringnya waktu.

Pada tanggal 17 Agustus 1987, bertepatan denggan HUT RI ke- 42, Tjilik Riwut meninggal dunia dengan membawa gelar “Anak Nyaru Hapatar Batu Antang Liang Habalau Kilat Mangkalewu Bukit Baru. Selain itu, ia juga dianugerahi. Pahlawan Nasional pada tanggal 6 November 1988 Tjilik meninggal dala usia 69 tahun dan disemayamkan di makam Pahlawan Sanaman Lampang, Palangka Raya. dilansir mmc.kalteng.go.id dan kompas.com

George Obus/George Obos Perintis Kemerdekaan

George Obus, lahir Hari Rabu, tanggal 24 Desember 1902. Lahir di Kasongan Kabupaten Katingan yang disebut dalam bahasa Dayak Kuno “Tewang Sangalang Garing”.
Menurut Teddy Toeweh, yang merupakan keturunan dari G.Obos, nama asli kakeknya yang benar adalah George Obus Umar. Kata Umar diambilkan dari nama ayahnya, yaitu Heine Umar. Saat penjajahan Belanda, kata Umar dihilangkan.
“Tidak dicantumkannya nama Umar karena untuk melindungi keluarganya dari buruan penjajah. Sebab nama keluarganya di Kalimantan banyak yang memakai kata Umar. Takutnya keluarganya ikut ditangkap, makanya supaya keluarganya tetap aman, maka kata Umar dalam nama G Obus tidak dicantumkan,” tutur Teddy Toeweh saat diskusi Jejak G. Obos, beberapa waktu lalu, dilansir Kaskus.com.

Pada tahun 1926 G.Obus lulus dari Zeevaart School (Sekolah Pelayaran) di Surabaya. Dan juga menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Tinggi Bahasa Jepang (Koto Nipponggo Gakko) di Surabaya. Pada masa itu mulai timbul pergerakan kebangkitan Asia dgn munculnya kesadaran untuk berorganisasi.

Perjuangan Sebelum Kemerdekaan
Tanggal 21 Mei 1926 berdiri organisasi Pemuda Borneo di Surabaya dan menunjuk George Obus sebagai Komisaris untuk wilayah Kalimantan Selatan (Borneo Selatan-pada saat ini menjadi Kalsel dan Kalteng). Dalam gerakan kepemudaan, G. Obus (berdarah Dayak) bersama Masri (berdarah Banjar) menjadi wakil Persatuan Pemuda Borneo yg berkedudukan di Surabaya, dalam kongres Pemuda 1928. Yang terkenal menghasilkan “Soempah Pemoeda”.

Pada tanggal 8 Juni 1929 di Surabaya berdiri Partai Politik dengan nama Partai Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) , yang diketuai oleh Dr. Soetomo. Dalam susunan kepengurusan PBI, G.Obus duduk dalam pengurus inti. Setelah 6 tahun PBI dibentuk dilakukan musyawarah besar bersama Boedi Oetomo dan Pengurus Besar PBI di Surakarta. Dalam musyawarah ini menghasilkan kesepakatan untuk bergabung, kemudian membentuk Partai Indonesia Raya (PARINDRA) dalam PARINDRA ini G.Obus menjadi satu Pengurus.

Pada bulan Juni 1944, organisasi Pemuda Kalimantan (Borneo) yang dipelopori G. Obus bersama pengurus lain seperti Gusti Mayur, H. Abdulgamasir, H. Mugeni Tayib, mengadakan pertemuan menyusun strategi mempersiapkan perlawanan terhadap pendudukan Jepang. Seiring kekalahan Jepang terhadap sekutu, pada taggal 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia menyatakan Kemerdekaannya.

Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan
Bulan September 1945, G. Obus terpilih sebagai ketua Badan Oesaha Gobernur Boerneo (BPOG). BPOG bersama PRIK (Pemuda Republik Indonesia Kalimantan) menyusun rencana untuk mengirimkan ekspedisi ke Kalimantan dengan menggunakan Kapal Laut, maka G. Obus selaku ketua BPOG didampingi Gusti Mayur berangkat ke Bandung menghadap Gubernur Kalimantan Selatan, Ir. P.M. Noor. Kemudian mereka kembali ke Surabaya, dimana suasana mulai kacau dan siap tempur melawan tentara Jepang.

Pada pertempuran 10 November 1945 di Kota Surabaya , G. Obus ikut berjuang

mempertahankan front Utara (daerah Pelabuhan sekarang ). Pada akhir Desember 1945, BPOG dibubarkan dan dibentuklah Ikatan Pejuang Kalimantan (IPK). Pada tanggal 4 April 1946 Staf Pimpinan ALRI Divisi IV Kalimantan dilantik di Mojokerto:

Komandan: Letnan Kolonel Djakaria Makdun, Kepala Staf : Mayor Firmansjah, Kepala Keuangan, Merangkap S.O.I. MB ALRI : Mayor George Obus dan lainnya. Ditugaskan juga saat itu G. Obus dengan Pangkat Letnan Kolonel Angkatan Laut RI (ALRI) menjadi staf ALRI divisi IV bagian Intelejen merangkap Staf IV/Intelijen Mabes TNI-AD sampai tahun 1951. Pada tahun 1951 G. Obus Diangkat menjadi anggota KNIP berdasarkan keputusan Presiden RI No 38 thn 1951 dengan domisili Yogyakarta.

Tugas G. Obus dalam KNIP adalah melakukan pendekatan kapada Pemerintah Negara Federasi RIS di Kalimantan yaitu Dewan Dayak Besar, Federasi Kalimantan Timur, Dewan Daerah Banjar, Federasi Kalimantan Tenggara dan Daerah Istimewa Kalimantan Barat untuk bergabung kembali ke RI. Dalam tugasnya 4 Negara Federasi RIS menyatakan siap bergabung, kecuali Daerah Istimewa Kalimantan Barat.

Pada tanggal 29 Juni 1950 ditandai dengan keputusan Menteri Dalam Negeri No : C.17/15/3 tentang pembentukan Daerah yang berhak mengatur rumah tangganya sendiri maka ditetapkanlah G. Obus sebagai Bupati Kepala Daerah Kabupaten Barito Utara masa bakti 1951-1954 (kemudian tanggal ini menjadi hari jadi Kabupaten Barito Utara).

Keputusan Menteri Dalam Negeri 8 September 1951 No Pem 20/6/10,  G. Obus diangkat menjadi Bupati Kepala Daerah Kabupaten Kapuas. Masa bakti 1956-1958 menggantikan R. Badrus Sapari.

Bulan Desember 1953 sebuah delegasi tokoh-tokoh DAYAK yang dipimpin oleh Bupati Barito, George Obus melakukan pertemuan dengan C. Simbar. Sebuah kesepakatan telah tercapai, sebab hari berikutnya Christian Simbar menyerah dengan 129 pengikutnya (Indonesia Berdjuang 05-12-1953,06-12-1953).

Pembentukan Provinsi Kalteng
Keinginan Pembentukan Provinsi Otonom Kalimantan Tengah yang meliputi 3 kabupaten yaitu Kapuas, Barito dan Kotawaringin, akhirnya disetujui oleh pemerintah RI. Pada tanggal 28 Desember 1956 Menteri Dalam Negeri menyatakan terbentuknya Kantor Persiapan Pembentukan Propinsi Kalimantan Tengah yang berkedudukan langsung di bawah Kementerian Dalam Negeri. Kantor persiapan tersebut untk sementara ditempatkan di Banjarmasin serta ditunjuk 21 orang personil sebagai pelaksana dan sementara berkantor di kantor gubernur Kalimantan.

Gubernur RTA Milono ditunjuk sebagai Gubernur Pembentuk Provinsi Kalimantan Tengah. Pelaksana Tjilik Riwut (pada waktu menjabat sebagai Residen pada Kementerian Dalam Negeri) dan George Obus Bupati Kepala Daerah Kapuas, ditugaskan membantu Gubernur Pembentuk Provinsi Kalimantan Tengah di Banjarmasin, sekaligus Bupati G.Obus diangkat sebagai Kepala Kantor Persiapan Kalimantan Tengah. Drs F.A.D Patianom ditunjuk sebagai Sekretaris Kantor Persiapan Pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah. Residen Tjilik Riwut dan Bupati G Obus membantu Gubernur RTA Milono agar pembentukan provinsi Otonom Kalimantan Tengah dapat terlaksana dalam waktu secepatnya.
Gubernur Pembentuk Provinsi Kalimantan Tengah R.T.A. Milono selanjutnya mengambil suatu kebijaksanaan membentuk Panitia untuk merumuskan dan mencari dimana daerah atau tempat yang pantas/wajar untuk dijadikan Ibukota Provinsi Kalimantan Tengah. Panitia yang dibentuk pada tanggal 23 Januari 1957 terdiri dari:
Mahir Mahar, Ketua Kongres Rakyat Kalimantan Tengah, sebagai Ketua merangkap Anggota. Tjilik Riwut, Residen pada Kementerian dalam Negeri diperbantukan pada Gubernur Pembentuk Provinsi Kalimantan Tengah, sebagai Anggota. G. Obus, Bupati Kepala Daerah diperbantukan pada Gubernur Pembentuk Provinsi Kalimantan Tengah, sebagai Anggota. E. Kamis, Pensiunan Korps Pamong Praja/kiai (Wedana) dan Pimpinan PT Sampit Dayak di Sampit, sebagai Anggota,  C. Mihing Pegawai/Pejabat pada Jawatan Penerangan Provinsi Kalimantan di Banjarmasin sebagai Sekretaris merangkap Anggota, dan sebagai Penasihat ahli adalah R. Moenasier, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Persiapan Provinsi Kalimantan Tengah, Ir. D.A.W. van Der Pijl, Pegawai Dinas Pekerjaan Umum Persiapan Propinsi Kalimantan Tengah/Kepala Bagian Gedung-gedung.
Kemudian memutuskan Pahandut (Palangka Raya sekarang, yang pada saat itu masuk wilayah Kabupaten Kapuas) menjadi Ibukota Provinsi Kalimantan Tengah.
G.Obus ditunjuk sebagai Bupati Barito dan Bupati Kapuas 1956-1958
Pada tahun 1960-1967 George Obus menjadi anggota MPRS.
Pada Senin tanggal 19 April 1982 pukul 19.30 WIB rakyat Kalimantan Tengah berduka dengan wafatnya seorang putera terbaiknya. George Obus wafat di Rumah Sakit Suaka Insan Banjarmasin karena menderita sakit, dimakamkan di komplek pekuburan Kristen, Pahandut, Kota Palangka Raya. Pada saat wafat, George Obus meninggalkan seorang Istri (Emilie Hillep), 9 anak ( 5 laki-laki dan 4 perempuan ), 37 Cucu dan 10 Cicit.
George Obus juga sering disapa dengan nama Bapa Ferdy .
VII Daftar Bintang Jasa
1. Bintang Gerilya
2. Satyalencana Perang Kemerdekaan I
3. Satyalencana Perang Kemerdekaan II
4. Satyalencana GOM I
5. Satyalencana GOM II
6. Satyalencana GOM IV
7. Satyalencana Penegakan Kemerdekaan RI