“Aksi perlawanan yang dilakukan beberapa ormas terhadap ormas dan oknum yang mengatasnamakan Dayak, namun bukan untuk kepentingan pribadi sangat didukung. Langkah ini untuk menjaga marwah, harkat dan martabat suku Dayak itu”.
PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID– Pasukan Borneo Bersatu Banama, Pasukan Lawung Bahandang, Perkumpulan Anak Dayak Bersatu, dan Aliansi Dayak Bersatu, bersepakat dalam memerangi dan melawan ormas yang mengatasnamakan Dayak dan oknum masyarakat Dayak yang memanfaatkan nama Dayak untuk mengambil yang bukan haknya.
Sikap keempat ormas Dayak ini, mendapat respons dan dukungan penuh dari Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Kalimantan Tengah (Kalteng) Cornelis. Sikap ormas Dayak yang mengatasnamakan Dayak sudah dinilai meresahkan. Pemerintah harus menghentikan pembentukan ormas Dayak yang tidak sebagaimana mestinya.
“Ormas-ormas Dayak ini hanya menjadi orang yang bisa menggonggong saja. Padahal, harapan besar hadirnya ormas Dayak ini dapat menempatkan putra putri Dayak sebagai pemimpin. Tidak menjadi sekuriti, penjaga keamanan, ataupun pam swakarsa. Ormas Dayak haruslah menjadikan jajaran atau pengurusnya menjadi pribadi yang berkualitas,” kata Cornelis tegas, saat memberikan tanggapan terkait adanya ormas yang mengatasnamakan Dayak, namun diduga untuk kepentingan pribadi, Minggu (13/11), di Palangka Raya.
Cornelis melanjutkan, ulah ormas dan oknum itu membuat miris dan malu selaku putra Dayak. Para pengusaha ketika melakukan rapat penetapan upah selalu mempertanyakan, mengapa sedikit-sedikit Dayak, yang berpotensi menghambat investasi di Kalteng.
Sebab itu, mari semua duduk bersama membahas masalah ini. Jadilah pribadi Dayak yang memiliki intelektualitas. Suku Dayak tidak memamerkan kesaktian untuk mendapatkan sesuatu. Ketika terjepitlah, baru suku Dayak mengeluarkan kesaktiannya.
Jangan sedikit-sedikit melanggar adat, kata Cornelis, justru pelajari adat itu secara benar. Aksi perlawanan yang dilakukan beberapa ormas terhadap ormas dan oknum yang mengatasnamakan Dayak, namun bukan untuk kepentingan pribadi sangat didukung. Langkah ini untuk menjaga marwah, harkat dan martabat suku Dayak itu sendiri.
Cornelis juga mengkritik keberadaan Dewan Adat Dayak (DAD). Atas adanya ormas yang menyimpang ini, DAD tidak mengambil sikap tegas. Ingat nama yang disematkan adalah Dewan Adat Dayak, artinya DAD memiliki kewenangan dalam menjaga marwah suku Dayak. Apabila ada ormas ataupun oknum yang melanggar, harus ada sikap tegas.
Terakhir, ungkap Cornelis, DAD itu seharusnya diisi oleh tokoh-tokoh yang memang memiliki pengetahuan secara jelas akan adat istiadat suku Dayak. Tujuannya, DAD dapat menjaga marwah suku Dayak dari berbagai hal yang dapat merusak nama baik suku Dayak itu sendiri.
Sementara itu, Ketua Kerukunan Dayak Ngaju Kahayan (KDNK) Kalteng Andreas Djunaidy mengatakan, ulah para oknum ini sangat disesalkan dan menyalahi aturan. DAD seharusnya mengambil tindakan tegas berupa sidang adat dan menetapkan sanksi adat. Sebagai efek jera agar oknum-oknum imi ini tidak lagi menjual nama Dayak untuk mendapatkan keuntungan pribadi.
“Poin saya, ormas yang ada di Kalteng yang selalu mengatasnamakan Dayak harus dilakukan evaluasi. Hasil evaluasi ini menentukan apakah ormas tersebut layak dipertahankan atau tidak,” kata Andreas.ded











