Spirit Kalteng

2023 Perekonomian Kalteng Diperkirakan Melambat

20
×

2023 Perekonomian Kalteng Diperkirakan Melambat

Sebarkan artikel ini
Foto: Yura Djalins saat memaparkan Proyeksi Perekonomian Kalteng 2023.

+ Proyeksi BI Terhadap Perekonomian Kalteng 2023

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Perekonomian Kalimantan Tengah diperkirakan akan melambat pada tahun 2023. Ini  karena penurunan produktivitas TBS, CPO, Bauksit, dan kondisi cuaca ekstrem.

Produktivitas tandan buah segar (TBS) akan mengalami penurunan sebagai dampak pemupukan yang lebih selektif akibat harga pupuk yang melonjak tinggi pada tahun 2022.

Demikian disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalteng, Yura Djalins, saat penyampaian capaian program BI 2022 dan paparkan Proyeksi Perekonomian Kalteng 2023, Rabu (18/1/2022).

Disampaikannya, larangan ekspor bijih bauksit yang akan diberlakukan sejak Juni 2023 dapat memicu penurunan potensi produksi bauksit. Pada triwulan II tahun 2023, diprakirakan terjadi el-nino yang berpotensi mengakibatkan kekeringan pada area pertanian dan perkebunan. Di sisi lain, pergerakan masyarakat sudah kembali normal seiring dengan dicabutnya kebijakan PPKM oleh Presiden RI, Joko Widodo pada akhir tahun 2022.

Proyek multiyears di Kalteng masih berlanjut. Zero covid policy di Tiongkok telah berakhir dan dapat mendorong pertumbuhan ekspor komoditas batu bara Kalteng.

“Secara nasional, Inflasi 2022 berada pada level 5,51 persen (yoy), dengan komoditas penyumbang inflasi terbesar adalah bensin, bahan bakar rumah tangga dan angkutan udara. Sementara itu, Kalteng tahun 2022 mengalami inflasi sebesar 6,32 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan tahun 2021 yakni sebesar 3,32 persen (yoy). Kelompok komoditas pangan bergejolak (VF) mengalami inflasi sebesar 7,30 persen (yoy), Inflasi Inti (CI) berada pada level 4,14 persen (yoy) dan inflasi kelompok harga yang diatur pemerintah (AP) sebesar 12,50 persen (ytd). Inflasi Kalteng didorong oleh harga beras (andil 0,90 persen yoy) akibat pasokan masih terbatas dari hama tungro dan banjir,” kata Yura Djalins.

Sementara itu, kata Yura Djalins, pada kenaikan harga bensin bersubsidi awal September juga meningkatkan tekanan inflasi AP dengan andil yoy 1,07 persen.

Meskipun masih di atas sasaran 3,0 persen +1 persen, provinsi Kalteng yang pada bulan Agustus hingga November berada pada 5 besar provinsi inflasi tertinggi, pada bulan Desember berhasil turun ke peringkat 9.

“Hal ini berkat upaya yang terus dilakukan oleh TPID Kalteng dalam menekan inflasi, khususnya pada kelompok VF, melalui strategi 4K, antara lain, (1) Komunikasi efektif, (2) Ketersediaan pasokan, (3) Keterjangakauan harga, dan (4) Kelancaran distribusi.

Dalam aspek komunikasi efektif, telah terlaksana 19 kali HLM (High Level Meeting) TPID sepanjang tahun 2022 yang dipimpin oleh Kepala Daerah/Wakil Kepala daerah di wilayah Kalteng. Hal ini menunjukkan sinergi yang erat untuk bersama-sama merumuskan langkah pengendalian inflasi,” beber Yura Djalins.

Selanjutnya, disebutkan Yura, pada aspek ketersediaan pasokan, Bank Indonesia melaksanakan program GNPIP yang terdiri dari beberapa kegiatan, seperti urban farming “Sekuyan Lombok”, gerakan tanam cabai rawit dan bawang merah “Gertam Babe Berkah”, serta kerja sama antar daerah pengadaan beras karau berjenis IR 42 dari Subang sebagai alternatif beras lokal.

“Operasi pasar dan pasar penyeimbang secara reguler terus dilaksanakan di berbagai kabuaten dari bulan Agustus oleh TPID untuk mencapai keterjangkauan harga bagi masyarakat. Terakhir, pada aspek kelancaran distribusi pemerintah berencana membangun Pabrik Penggilingan Beras di Kabupaten Kotawaringin Timur. Infrastruktur pasca-panen yang lebih baik diharapkan dapat menyederhanakan rantai distribusi beras Kalimantan Tengah,” kata Yura Djalins.

Sedangkan, Inflasi Januari 2023 diproyeksikan menurun dibandingkan Desember 2022 ke dalam rentang 5,78 persen-5,90 persen (yoy). Dan kelompok komoditas volatile food (inflasi bahan makanan bergejolak) diperkirakan juga menurun karena akan menunjukkan rentang inflasi 6,49 persen-6,61persen (yoy), sedangkan kelompok

komoditas administered price (harga yang diatur oleh pemerintah) akan mencatatkan inflasi sebesar 11,38 persen-11,45 persen (yoy).

“Begitupula dengan core inflation (inflasi inti) diproyeksikan pada Januari 2023 melandai ke 3,87 persen-4,00 persen (yoy). Untuk keseluruhan tahun 2023, inflasi diprakirakan menurun cukup jauh kerentang 3,96 persen-4,96 persen (yoy). Setiap kelompok komoditas akan mengalami penurunan inflasidengan rentang inflasi inti (4,20 persen-5,80 persen yoy), inflasi bahan makanan bergejolak (3,61 persen-4,54 persen yoy), dan inflasi harga yang diatur oleh pemerintah (3,59 persen-4,52 persen yoy),” papar Yura Djalins.

Risiko inflasi, lanjut Yura Djalins, mulai termoderasi seiring dengan penguatan GNPIP melalui penanaman beras karau dan stabilisasi permintaan setelah Natal dan Tahun Baru. Menimbang kondisi perekonomian saat ini dan kedepan, bauran kebijakan Bank Indonesia akan difokuskan terus untuk memperkuat ketahanan serta pemulihan perekonomian dimana kebijakan moneter diarahkan pro-stability, serta kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar keuangan, dan ekonomi keuangan inklusif dan hijau diarahkan pro-growth.

“Salah satu potensi sumber pertumbuhan ekonomi baru Kalteng adalah melalui hilirisasi. Sejauh ini, perekonomian Kalteng masih bergantung pada brown economy seperti industri kelapa sawit dan batu bara. Sejalan dengan komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca, percepatan hilirisasi batu bara

dapat menjadi solusi utama mewujudkan dan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Kalimantan yang berkelanjutan di tengah turunnya permintaan batu bara. Kalteng sudah mulai menerapkan carbon trading sebagai potensi sumber pertumbuhan tanpa harus merusak hutan,” tutup Yura Djalins.dsn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *