PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Sejak awal tahun 2023, bermunculan bisnis waralaba dari tingkat lokal hingga internasional di beberapa lokasi strategis di Kota Palangka Raya. Mengamati kondisi tersebut, tampaknya persaingan bisnis di Kota Tambun Bungai akan semakin ketat.
Namun demikian, ini membuktikan bahwa Kota Palangka Raya sedang mengalami pertumbuhan ekonomi, dan menjadi sasaran investasi yang dinilai memiliki potensi.
Saat dibincangi Tabengan, Senin (27/2) Pengamat Ekonomi dan sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi UPR, Fitria Husnatarina mengatakan, mengamati fenomena tersebut ada 2 konsep dalam usaha yang dikenal red ocean dan blue ocean.
Disebutkan Direktur Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia Kampus UPR tersebut, bahwa Red Ocean adalah dimana orang-orang secara latah berada dalam sektor aktivitas ekonomi yang sama, dan kemudian mereka berebut konsumen yang sama.
“Jadi pemainnya banyak, apa yang dilakukan adalah bagaimana mereka masing-masing menonjolkan kelebihan/adventage produknya. Misalnya dirasa atau bahkan memakai influencer atau memakai misalnya gerai memiliki bartender yang punya spesifikasi yang kira-kira nanti bisa gak mendatangkan massa dengan kategori tertentu, misalnya Milenial. Atau mendatangkan massa misalnya para pekerja,” beber Fitria.
Disebutkan lebih lanjut, jadi ada space di mana para pelaku menunjukkan bersaing di adventage masing-masing, disisi yang paling diunggulkan.
Sedangkan konsep Red ocean yaitu, dengan para pemain yang banyak, lalu kemudian bagaimana konteks dan konsekuensinya berjalan? Biasanya siapa yang memiliki modal besar kemungkinan besar mematikan yang kecil.
“Jadi seleksi alamnya adalah ada saringan-saringan yang secara alami akan dibuat nanti sehingga tereliminir, karena kenapa beralihnya konsumen ke tempat yang sebelumnya A kemudian ke B,” imbuhnya.
Mantan Ketua Ikatan Akuntansi Indonesia Kalteng itu juga menambahkan pula, bahwa persaingan yang keras ini harusnya memang tidak mematikan usaha-usaha kecil dalam sisi perekonomian di Kalteng. Namun pemodal besar dan membangun waralaba juga tidak bisa dihalangi untuk beraktifitas secara ekonomi di Kalteng.
“Dan apakah prediksinya bahwa kemudian hanya ramai dipembukaan nantinya dan akan pelan-pelan sepi. Kita sudah melihat dan tergambarkan dengan beberapa bukti, ada hal-hal yang bisa kita lihat di lapangan dalam konteks ekonomi di Kalimantan, bagaimana misalnya, ada sebuah mall dibangun diharapkan berkelanjutan pada awal-awal sangat banyak dan padat dan pelan-pelan mulai ditinggalkan,” bebernya lagi.
Artinya kalau mengkhawatirkan bahwa persaingan ekonomi untuk usaha kecil yang spesifik itu terganggu.
“Nyatanya juga tidak kalau dalam karakteristik Kalteng. Jadi apakah juga kemudian perlu berhati-hati, berstrategi, tentu iya,” katanya.
Karena itu tadi, bahwa red ocean itu pemainnya sangat banyak dan kemudian dibutuhkan karakteristik tertentu yang menjadi keunggulan-keunggulan mereka, pungkasnya.dsn











