PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID– Sista Safitri Laksanawati, salah satu relawan di Panti Joint Abdulam Ministry (JAM) menceritakan suka dukanya sebagai relawan di panti tersebut. Tugasnya membimbing dan mengajarkan klien penghuni panti yang khusus beragama Islam.
Awalnya, perempuan yang biasa dipanggil Cista ini diajak oleh pengurus Yayasan Panengan Asie selaku pengelola JAM pada Desember 2022. Pertama kali melihat keadaan di sana sudah ada musala dan lain sebagainya, tapi tidak ada yang mengajarkan mereka.
“Jadi pada saat itu langsung dari hati, oh ya kenapa tidak mencoba, dari mana kita tahu kalau tidak mencoba. Terus awal muasal pertama kali saya ke sana, musalanya itu kosong, benar-benar bangunan kosong. Kemudian saya mencoba menarik teman-teman yang lain,” kata Cista, Jumat (10/3).
Perempuan yang kesehariannya sebagai guru SMP Negeri 5 Kelurahan Banturung, Jalan Tjilik Riwut km 33, Palangka Raya ini bersyukur karena klien di panti itu diajarkan salat dan cukup antusias. Kemudian diajarkan membaca dan menghafal surah pendek, responsnya cukup antusias. Dirinya semakin termotivasi dan ingin terus melakukan tugasnya itu. Selain mengajarkan agama, ia juga ikut menyiapkan makan malam dan lainnya. Semua itu dilakukan dari hati.
“Setelah membantu mereka itu saya merasa ada perasaan bahagia yang tidak bisa saya jelaskan, membuat saya jadi mau ke sana lagi dan lagi,” imbuh Cista.
Bagi Cista, mengajarkan agama kepada Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) menjadi tantangan tersendiri. Karena mengajarkan orang normal saja tidak mudah, apalagi klien di panti, harus ekstra sabar karena tidak bisa hanya sekali.
Namun sejauh ini yang dia alami, antusiasme mereka yang membuatnya senang. Dia pun seminggu sekali meluangkan waktunya untuk mengajar agama di Panti ZAM.
Cista berharap meskipun di panti itu mayoritasnya non muslim, namun pengurus panti tidak membawa misi keagamaan di sana. Dia pribadi inginnya mereka itu juga mengenal dan masih ingat tata cara beribadah, berdoa secara Islam masih ingat agamanya sendiri.
Sementara itu, Maya Asiati Soeta, Ketua Yayasan Panengan Asie Palangka Raya Raya pengelola JAM mengatakan, Yayasan Panengan Asie Palangka Raya adalah yayasan Panti Rehabilitasi untuk pasien gangguan jiwa, terutama mereka yang telantar dan tidak punya keluarga dan yang tidak diterima oleh keluarganya.
Sampai sekarang ada sekitar 30 orang klien. Setelah beralih pengelola, pihak yayasan terlebih dulu melakukan observasi terhadap klien yang akan dititipkan oleh RSJ Kalawa Atei, kalau memang tidak ada keluarga dan ditolak keluarga baru ditampung di sana.
“Perhatian dari pemerintah hampir tidak ada. Selama ini mandiri. Mengharapkan bantuan dari swasta dan juga dari Kementerian Sosial. Itu pun bantuan diserahkan melalui Yayasan Budi Luhur di Banjarmasin baru serahkan ke kami. Bantuannya berupa barang-barang disesuaikan dengan jumlah klian yang ada di panti, ” kata Maya.
Klien yang dititipkan kebanyakan juga kiriman dari Dinas Sosial, seperti Kota Palangka Raya, Barito Selatan dan Barito Utara. Dari luar Kalteng juga ada asalnya dari NTT dan Pekan Baru, namun sudah sembuh dan sudah dipulangkan ke keluarganya.
Bekerja sama dengan Dinas Sosial dan mencari keluarganya akhirnya ketemu. Selain itu, klien di panti itu juga diajarkan tentang kehidupan sehari-hari seperti berkebun, memasak serta bersih-bersih lingkungan. yml





