Spirit Kalteng

PAWAI OGOH-OGOH-Meriahnya Sambut Tahun Baru Saka 1945

52
×

PAWAI OGOH-OGOH-Meriahnya Sambut Tahun Baru Saka 1945

Sebarkan artikel ini
TABENGAN/YULIANUS SL MERIAH - Ratusan umat Hindu Palangka Raya melaksanakan pawai ogoh-ogoh menjelang perayaan Hari Raya Nyepi, Palangka Raya, Selasa (21/3) sore

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Antusiasme umat Hindu di Palangkangan Raya bersama dengan seluruh masyarakat Kalimantan Tengah (Kalteng) yang ada di Palangkangan Raya dalam menyambut Tahun Baru Saka 1945 yang ditandai dengan pawai ogoh-ogoh.

3 tahun vakum dalam menyambut dan merayakan nyepi, tahun 2023 untuk pertama kali perayaan hari raya nyepi dilaksanakan kembali. Pawai ogoh-ogoh lazim umumnya menampilkan beraneka ragam patung dengan karakter rakana, diiringi dengan alunan gamelan.

Wali Kota Palangka Raya, Fairid Nafarin, yang diwakili, Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Urianinu Ludjen, mengatakan, pemerintah Palangka Raya sangat mendukung, dan menghormati kegiatan umat dalam menjalankan ibadahnya.

”Palangka Raya sebagai Kota Pancasila menghormati, dan memberikan ruang penuh kepada masyarakat untuk dapat menjalankan ibadahnya dengan sebaik mungkin. Senada dengan instruksi presiden, pemerintah daerah menjunjung tinggi kebersamaan ditengah keberagaman dan juga kemajuan,” kata Urianinu, saat menghadiri dan membuka secara langsung pawai ogoh-ogoh, Selasa (21/3) di Palangka Raya.

Sementara itu, Ketua Parisada Hindu Dharma Palangka Raya, I Made Sadiana, mengatakan, ada 3 rangkaian dalam perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1945 ini.

”Diawali dengan melasti, kemudian tawur, dan pengrupukan yang dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh. Hari berikutnya adalah nepi, dimana ada 4 hal yang tidak dilakukan,” kata I Made Sadiana.

Yakni, ungkap I Made Sadiana, amati geni atau tidak menyalakan api, amati karya atau tidak beraktivitas, amati lelungan atau tidak bepergian, dan terakhir amati lelanguan atau tidak menikmati hiburan.

Hari selanjutnya setelah nyepi adalah silaturahmi. Karena bertepatan dengan ramadan, tentu saling menghargai dan menghormati saudara yang sedang berpuasa. Tentu tidak bisa dipaksakan untuk bersilaturahmi.

Terpisah, Salah Satu Tokoh Umat Hindu, I Nyoman Surasana, mengatakan, hal utama yang ingin disampaikan adalah ucapan syukur kepada Yang Kuasa. Pandemi yang begitu ganas, dan membuat keluarga, teman, saudara, bahkan kerabat harus berpulang terlebih dahulu. Kita yang ada sekarang ini patut mengucap syukur.

Harapan besar, kata I Nyoman, Covid-19 tidak lagi bergejolak, sehingga kita bisa berkumpul bersama, tanpa khawatir akan kehilangan. Melalui momentum Perayaan Hari Raya Nyepi ini memohon kepada Tuhan untuk mengeliminir yang negatif, dan mengubahnya menjadi yang positif. Contoh, api di dapur itu baik. Tapi ketika besar, membakar hutan dan lahan menyebabkan bencana itu adalah hal yang tidak baik.

Hal seperti ini, ungkap I Nyoman, yang dimohonkan kepada Tuhan agar hal-hal yang bersifat negatif dapat dihindarkan. Tapi, dalam hidup ini ada positif dan negatif, keduanya harus seimbang.ded

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *