Spirit Kalteng

Guntur Dilantik sebagai Pengurus FPUI

23
×

Guntur Dilantik sebagai Pengurus FPUI

Sebarkan artikel ini
ISTIMEWA FPUI- Pustakawan Ahli Utama Kalteng, Guntur Talajan, resmi dilantik sebagai pengurus Forum Perpustakaan Umum Indonesia (FPUI) Periode 2023-2027, di Jakarta, baru-baru ini.

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Literasi menjadi hal yang sangat penting di era modern dan maju sekarang ini. Informasi dapat disebar dan diperoleh dengan sangat mudah. Kurangnya filter dan literasi akan membuat informasi yang disebar langsung diterima, tanpa dilakukan filter demi memastikan kebenarannya.

Pustakawan Ahli Utama Kalteng Guntur Talajan mengatakan, literasi adalah masalah penting yang harus terus disuarakan dan disampaikan kepada masyarakat, terkhusus anak-anak didik.

Literasi, urai Guntur, langkah pertama dalam memastikan sebuah kebenaran informasi. Maksudnya, literasi atau membaca merupakan hal utama untuk dapat melakukan filter, apakah info tersebut memang benar terjadi, sehingga memberikan manfaat ketika dishare atau dibagikan. Atau justru, informasi tersebut berbahaya ketika dishare karena sifatnya berita bohong.

“Literasi menjadi penting bagi kita semua, dalam menghadapi era digital sekarang ini. Cepatnya informasi yang beredar, memaksa kita semua untuk dapat menangkap, dan menyerapnya dengan baik. Semakin kaya literasi, maka berbagai informasi yang tidak benar atau hoaks, ataupun yang bersifat meresahkan dan menyesatkan dapat ditangkal atau dicegah dengan baik,” kata Guntur, saat memberikan pesan perihal dilantik sebagai pengurus Forum Perpustakaan Umum Indonesia (FPUI) Periode 2023-2025, Senin (3/7).

Dikatakan Guntur, meningkatkan literasi tentu bukanlah hal yang mudah. Diperlukan kerja keras dan semangat untuk membangkitkan literasi. Padahal, literasi adalah bekal yang sangat berharga dan juga penting. Tidak saja untuk mencegah informasi-informasi yang bersifat bohong, tapi juga modal untuk menatap masa depan.

Ingat, ungkap Guntur, literasi yang tinggi akan memberikan banyak pengetahuan nantinya. Namun, literasi tidak cukup pengetahuan, diperlukan implementasi juga. Apa yang sudah diperoleh, harus bisa diaplikasikan dengan sebaik mungkin. Paling tidak, literasi menjadi modal awal dalam menangkal berbagai informasi yang bersifat memecah belah, hoaks, ataupun mengandung unsur SARA. ded

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *