Spirit Kalteng

Kalteng Sudah Rumuskan Program Berkelanjutan

28
×

Kalteng Sudah Rumuskan Program Berkelanjutan

Sebarkan artikel ini
Kalteng Sudah Rumuskan Program Berkelanjutan
TERPILIH-Inset Foto Agustin Teras Narang-Kalteng terpilih menjadi provinsi percontohan, pelaksanaan untuk melaksanakan uji coba percontohan, tahap awal dari Program Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan atau Reducing Emission from Deforestation and forest Degradation (REDD+) di Indonesia .ISTIMEWA

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID- Kalimantan Tengah (Kalteng) boleh berbangga dengan sosok putra terbaiknya, Agustin Teras Narang (Terang), yang pernah menjadi Gubernur Kalteng selama 2 periode. Dengan mengusung slogan “Membuka Keterisolasian”, diiringi sejumlah program dalam mendukung slogan tersebut.

Bagi masyarakat Kalteng, tentu tidak asing dengan Program Kalteng Harati dan Kalteng Barigas. Kedua program ini dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia, tidak hanya cerdas, tapi juga sehat. Atau slogan “Amun Dia Itah, Eweh Hindai. Amun Dia Tuh, Pea Hindai”, sebuah slogan yang sangat dikenang dan melekat di hati masyarakat Kalteng.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Dapil Kalteng ini menyampaikan, program dan slogan tersebut merupakan sebuah niat tulus untuk membangun Kalteng. Bagaimanapun, semua itu diperlukan demi memajukan Kalteng. Tidak hanya Kalteng Harati dan Kalteng Barigas, ataupun Membuka Keterisolasian, Kalteng pada periode itu sudah merumuskan, bahkan menjalankan apa itu program berkelanjutan.

Bapak Pembangunan Kalteng ini menguraikan, Kalteng terpilih menjadi provinsi percontohan, pelaksanaan untuk melaksanakan uji coba percontohan, tahap awal dari Program Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan atau Reducing Emission from Deforestation and forest Degradation (REDD+) di Indonesia.

“Kala itu, Program REDD+  diterapkan Indonesia, sebagai bentuk kemitraan Indonesia-Norwegia di bidang kehutanan. Lewat program ini pemerintah Norwegia, mendukung transformasi kelembagaan dan peningkatan kemampuan untuk memperkuat tata laksana pemerintah Kalteng untuk pengelolaan hutan yang lebih baik dan berkelanjutan,” kata Gubernur Kalteng periode 2005-2015 ini, ketika mengunjungi Sekretariat REDD+, di Palangka Raya, beberapa waktu lalu.

Senator Kalteng ini menceritakan, Sekretariat REDD+ diresmikan oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki Moon dan Kepala Unit Kerja Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4)  Kuntoro Mangkusubroto, dan Teras sendiri Gubernur Kalteng sebagai saksi kala itu.

Teras Narang melanjutkan, atas kepercayaan pemerintah pusat kala itu, Kalteng dituntut mampu mengelola kompleksitas pelaksanaan program. Ini mencakup reformasi birokrasi yang memastikan transparansi dan sikap anti-korupsi, penegakan hukum terhadap pembalakan liar, pemeriksaan ulang pengukuran batas-batas tanah dan hutan, serta integrasi data sektor kehutanan, pertanian, perkebunan, serta pertambangan sampai ke tingkat kabupaten.

“Kami menyadari dan memahami betul tugas berat ini, dan bersedia menjalankannya. Program yang sudah ada seperti pertumbuhan ekonomi rendah emisi, green and clean province, juga bantuan dari berbagai LSM, negara donor maupun pemerintah pusat akan tetap dijalankan. Kalteng siap menjalankan tugas yang diinstruksikan oleh Bapak Presiden,” kata Teras Narang lagi.

Teras Narang melanjutkan, Kalteng pernah menjadi terdepan dalam mendorong tujuan pembangunan berkelanjutan. Jauh sebelum secara nasional kebijakan-kebijakan terkait dikeluarkan. Berbagai program untuk keselarasan pembangunan, termasuk di sektor perkebunan dan upaya pelestarian hutan, kita selaraskan. Prinsipnya, tujuan ekonomi harus selaras dengan kepentingan ekologi. Tak boleh timpang.

Ini bukti, urai Teras Narang, meski dari daerah, kita berpeluang menjadi contoh terdepan bagi keluarnya kebijakan nasional yang berkeadilan bagi lingkungan. Ini jadi catatan ke depan, agar seluruh pemangku kepentingan daerah dan setiap elemen masyarakat, dapat menjadikan Kalteng sebagai daerah yang jadi pusat perhatian serta pusat kolaborasi internasional. Generasi muda dan intelektual juga dapat berkunjung ke tempat ini untuk menangkap semangat besar di masa lalu, yang masih belum terlambat untuk diperjuangkan lagi di hari ini atau esok.

“Kita bisa, bila kita mau. Kita mampu, bila kita saling membantu. Untuk generasi Kalteng yang akan datang,” katanya. ded