Spirit Kalteng

3 Kabupaten/Kota Masih Tanggap Darurat Karhutla 

10
×

3 Kabupaten/Kota Masih Tanggap Darurat Karhutla 

Sebarkan artikel ini
3 Kabupaten/Kota Masih Tanggap Darurat Karhutla 
BANTUAN- Sekda Nuryakin foto bersama usai menyerahkan bantuan peralatan penanggulangan karhutla senilai Rp85 juta.ISTIMEWA

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Pada 5 Oktober 2023 lalu, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menetapkan status tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Sekda Provinsi Kalteng H Nuryakin mengatakan, semua berkomitmen meningkatkan upaya penanganan karhutla beserta dampaknya, sehingga Pemprov Kalteng menetapkan status tanggap darurat bencana karhutla yang didasarkan pada penetapan status tanggap darurat bencana karhutla 6 Pemkab/Pemko.

Saat ini masih terdapat 3 kota/kabupaten yang memiliki status tanggap darurat bencana kebakaran hutan dan lahan, yaitu Kota Palangka Raya dari 16 sampai 19 Oktober 2023, Kabupaten Barito Selatan dari 16 sampai 23 Oktober 2023 dan Kabupaten Pulang Pisau sampai 10 November 2023.

“Sedangkan Kabupaten Kotawaringin Timur berakhir 16 Oktober 2023, Kabupaten Katingan berakhir 15 Oktober 2023 dan Kabupaten Kapuas berakhir 15 Oktober 2023,” sebutnya, di Aula Jayang Tingang, Senin (16/10).

Nuryakin mengungkapkan, selama masa tanggap darurat, upaya penanggulangan karhutla secara sinergis dan terpadu telah dilaksanakan oleh Pemprov didukung Pemerintah Pusat, jajaran TNI Polri, Pemkab/Pemko dan seluruh elemen terkait.

Dengan langkah-langkah antara lain meningkatkan upaya pemadaman darat dengan penambahan personel, melanjutkan kembali operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) 2 unit pesawat TMC, meningkatkan operasi water bombing dengan penambahan 1 unit helikopter water bombing di Bandara Iskandar Pangkalan Bun, dan melaksanakan operasi pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat terdampak asap yang dilaksanakan di Pos Lapangan, Puskesmas, rumah sakit dan layanan kesehatan lainnya.

Alhamdulillah, berkat rahmat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, serta berkat kerja keras kita semua, maka upaya penanggulangan karhutla selama masa tanggap darurat telah menunjukkan hasil positif, di antaranya dapat dilihat dari membaiknya kualitas udara dan kondisi asap di sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah,” katanya.

Meskipun demikian, ia menegaskan agar semua pihak tetap harus melanjutkan upaya penanganan yang telah dilaksanakan karena bahaya karhutla belum berakhir. Hal ini setidaknya ditandai dengan 2 indikator, yaitu berdasarkan hasil patroli udara dan penanganan tim darat, masih terdapat kebakaran yang relatif luas dan aktif di Kota Palangka Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Kapuas, Barito Selatan, Katingan, Kotawaringin Timur, Seruyan, Kotawaringin Barat dan Sukamara, sehingga harus terus dilakukan upaya pemadaman agar benar-benar bisa tuntas.

“Kedua, berdasarkan prakiraan BMKG, musim kemarau di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah diprediksi sampai dengan Dasarian II bulan November 2023,” ujarnya.

Pada kesempatan ini pula Sekda Nuryakin menyerahkan bantuan Pemerintah Prov. Kalteng berupa mesin pemadam Karhutla kepada Polda Kalteng, Korem 102 Panju Panjung, Permkot. Palangka Raya, Pemkab. Pulang Pisau, Kapuas, Katingan, Kotawarigin Timur dan Barito Selatan.

 

Sebagian Wilayah Kalteng Hujan

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)  Kalteng mengeluarkan peringatan dini terkait potensi hujan deras yang dapat disertai petir/kilat dan angin kencang di sebagian besar wilayah Kalteng setelah mengalami musim kemarau panjang.

Berdasarkan update terbaru yang dikeluarkan BMKG Kalteng, prakiraan cuaca per 17 Oktober 2023, untuk 2 hari ke depan, sebagian besar wilayah Kalteng berpotensi diguyur hujan sedang hingga lebat, meliputi Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, Sukamara, Lamandau, Seruyan, Katingan, Gunung Mas, Murung Raya, Barito Utara, Barito Selatan, Barito Timur, Kapuas, Pulang Pisau dan Palangka Raya.

Prakirawan BMKG Kalteng Ihsan Sidik mengatakan, di tanggal 18-19 Oktober 2023 sebagian besar Kalteng akan mengalami guyuran hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Namun, belum merata karena masih dalam tahap musim peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.

Ia mengungkapkan, guyuran hujan dengan intensitas sedang sampai lebat akan terjadi di wilayah Kalteng bagian utara, seperti Kabupaten Murung Raya, Barito Utara, Barito Timur, Barito Selatan, Gunung Mas, Kapuas bagian utara. Hal tersebut adanya pertemuan/perlambatan kecepatan angin (konvergensi) terpantau memanjang dari utara Kalimantan Utara hingga Kalteng.

“Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sepanjang daerah konvergensi tersebut. Kelembaban udara yang cukup basah di beberapa lapisan, serta didukung oleh labilitas lokal kuat mampu mendukung proses konvektif skala lokal meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Kalteng bagian utara akan berangsur ke Kalteng bagian tengah dan pesisir, di antaranya Kota Palangka Raya, Pulang Pisau, Katingan, Kotawaringin Timur, Seruyan, Kotawaringin Barat, Lamandau dan Sukamara,” jelasnya.

 

Kabut Asap Berkurang

Eskalasi kabut asap terus berkurang berkat upaya penanganan karhutla yang terus dilakukan di Kota Palangka Raya dan Kabupaten Pulang Pisau. Demikian kata Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kalteng Ahmad Toyib.

Dalam laporannya, Ahmad Toyib menyebut selama 10 hari status tanggap darurat, pihaknya telah meningkatkan jumlah personel dan peralatan, melakukan tindakan cepat di area lahan di dua daerah tersebut yang rawan terjadi karhutla.

“Upaya ini dilakukan dengan harapan dapat mengurangi jumlah titik api sebagai sumber kabut asap. Selain itu, keberhasilan penanganan karhutla juga didukung oleh adanya guyuran hujan di beberapa lokasi titik api, sehingga jumlah kabut asap pun mulai berkurang, meski hujan tidak merata,” kata Ahmad Toyib, di Palangka Raya, Selasa (17/10).

Berdasarkan update terbaru yang dihimpun BPBPK Kalteng, terdapat satu kabupaten di Kalteng yang masih perlu mendapat perhatian lebih serius dalam penanganan karhutla, yaitu Kabupaten Pulang Pisau dengan luas terbakar mencapai 446,505 hektare. ldw/jef