Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil.*
*Penulis Lepas Lintas Jogja Sumatera
Makhluk berarti ciptaan atau yang diciptakan oleh Allah, Tuhan semesta alam. Sudah menjadi ketentuan Allah di alam semesta bahwa setiap makhluk diciptakan berpasang-pasangan di antaranya adalah pasangan antara laki-laki dan perempuan.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Qur’an Surat ar-Ruum yang artinya: “Di antara tanda-tanda (kebesaran)Nya adalah diciptakanNya dari diri kalian pasangan-pasangan dari diri kalian sendiri agar kalian merasa tenang kepadanya dan dijadikanNya di antara kalian perasaan bersatu dan Rahmat (saling kasih sayang), sesungguhnya dalam demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”
Sebagaimana diketahui bahwa malaikat adalah satu di antara sekian makhluk Allah lainnya di semesta ini, seperti hewan, tumbuhan, manusia, dan iblis. Di antara hikmah dijadikannya pasangan sebagai ketetapan Allah adalah agar dapat melanjutkan keturunan dan berkembang biak.
Bagaimana dengan malaikat atau makhluk lain yang tidak kasat mata atau terkategori goib meski mereka bisa melihat makhluk Allah kasar mata lainnya? Apakah mereka berpasangan seperti manusia yang memiliki pasangan, juga hewan, dan tumbuhan? Bagaimana mereka melanjutkan atau memperbanyak keturunan?
Malaikat sering kali dijadikan simbol kebaikan serta percontohan bahwa perilaku yang baik-baik bahwa rujukannya adalah makhluk Allah yang lain. Sebagai contoh perilaku baik oleh seseorang yang penuh ketaatan kepada Allah dikatakan menyerupai malaikat. Sebaliknya, perilaku buruk seseorang di luar batas kemanusiaan menjadikannya terkategori hewan.
Dari contoh di atas dapat dilihat bahkan perilaku seseorang yang baik sebagai malaikat dipasangkan dengan perilaku sebaliknya sebagai perilaku hewan. Atau seorang yang kepalang tanggung taat menyerupai malaikat namun tersesat adalah perilaku iblis.
Kembali kepada malaikat sebagai makhluk Allah yang diciptakan dari cahaya, yang dikabarkan juga bahkan dalam suatu Rahmat tertentu setiap tetesnya tercipta malaikat, yang tidak menyerupai laki-laki atau menyerupai perempuan sebab malaikat tidak berjenis sebagai laki-laki atau perempuan.
Jibril ‘Alaihissalaam yang disebut dalam al-Qur’an dengan keistimewaan serta mengemban tugas yang sangat mulia yaitu menyampaikan Wahyu. Di antara malaikat lain yang juga disebut dalam al-Qur’an seperti Mikail ‘Alaihissalaam, Israfil ‘Alaihissalaam dan lain sebagainya dengan tugas dan kedudukan masing-masing di sisi Allah.
Hikmah yang dapat diambil di antaranya sikap para malaikat yang diciptakan dalam kondisi bukan laki-laki bukan juga perempuan identik dengan ketaatan yang sangat sebagai simbolisasi ketaatan dalam kesungguhan, tanpa menerobos ketetapan dengan menyerupai satu di antaranya, “Allahu a’lam.”





