Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil *
*Penulis Lepas Lintas Jogja Sumatera
Musuh atau “aduwwu” tidak identik dengan kontak senjata dengan pihak yang berlawanan. Menghadapi musuh dengan memberi perlawanan dapat berarti membinasakan mereka melalui lantunan do’a-do’a sebagai pilihan jalan.
Setan dan pasukannya adalah musuh yang nyata bagi muslim. Perlawanan terhadap mereka tidak semata melakukan peperangan sebagaimana di Palestina atau wilayah yang sedang mengalami peperangan lainnya. Perlawanan atau peperangan terhadap setan dan bala tentaranya dapat dilakukan dengan berlindungan kepada Allah melalui lafal do’a-do’a.
Sebagai contoh ta’awwudz atau berlindung kepada Allah dari gangguan, kenakalan, dan kesombongan setan yang terkutuk. Atau bisa juga berupa do’a agar musuh diporakporandakan dengan perbuatan Allah dan kemahakuasaanNya terhadap segala sesuatu melalui lafal do’a yang diajarkan nabi, berikut contohnya sebagaimana Hadits Riwayat Muslim 3/1362:
“Allahumma munzilal kitaab sarii’al hisaab, ihzimul ahzaab, Allahummahzilhum wa zalzilhum.” Artinya: “ya Allah Yang Menurunkan Kitab, Yang cepat perhitunganNya, hancurkanlah pasukan mereka (musuh), ya Allah kalahkan mereka dan goyahkanlah mereka.”
Tidak ada sedikitpun yang berat bagi Allah baik di langit atau di bumi. Dengan keMaha AdilanNya, jika Allah hendak menghancurkan suatu (kaum) karena kezaliman, Allah akan menetapkan kehancuran bagi mereka sebagai janji, dan janji Allah sangatlah teguh.
Dikutip dari Hishnusl Muslim karya al-Qahthani memberi sebuah do’a tentang Kuasanya Allah dalam berbagai hal termasuk tanggungjawab yang dibebankan kepada manusia. Diberi judul Do’a Orang yang Mengalami Kesulitan, berikut redaksinya: “Ya Allah, tidak ada yang mudah kecuali apa yang Engkau mudahkan dan tidak ada yang sulit jika Engkau menghendakinya kemudahan”.
Maka dalam pengertian harapan kepada Allah sejatinya tidak ada yang mustahil. Maka melafalkan do’a atau berdo’a kepada Allah sebagai langkah taqwa dan ridlo akan takdir Allah selain senantiasa bersabar menjadi pilihan terbaik daripada kehilangan akhlak dengan mencaci maki atau melakukan perbuatan berpotensi melanggar hukum yang ada baik agama maupun negara akan besar dan rumit pertanggunggungjawabannya juga resikonya, “Allahu a’lam.”





