PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya merilis prakiraan cuaca terbaru untuk wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) dalam periode peralihan menuju musim kemarau 2026.
Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Neng Arini, menyampaikan bahwa kondisi cuaca di sebagian besar wilayah Kalteng, termasuk Kota Palangka Raya dan sekitarnya, pada hari ini hingga besok diprakirakan cerah berawan. Meski demikian, potensi hujan lokal masih dapat terjadi di beberapa wilayah.
“Untuk hari ini dan besok, diprakirakan di wilayah kalteng, termasuk kota Palangka Raya dan sekitarnya cuacanya akan cerah berawan. Tetapi tetap ada kemungkinan potensi hujan lokal, kecuali di wilayah Kabupaten Sukamara masih ada potensi hujan sedang hingga lebat,” ujarnya saat di konfirmasi Tabengan, Jumat (24/4/2026).
Ia menjelaskan, saat ini wilayah Kalteng memasuki masa peralihan atau transisi dari musim hujan ke musim kemarau. Kondisi ini menyebabkan cuaca menjadi tidak menentu, ditandai dengan kombinasi antara hujan yang masih kerap terjadi dan suhu udara yang mulai terasa panas.
“Pada periode ini, masyarakat dapat merasakan perubahan cuaca yang cukup signifikan. Di satu sisi masih sering terjadi hujan, namun di sisi lain suhu udara juga mulai meningkat,” jelasnya.
BMKG mencatat, suhu udara di wilayah Kalteng diperkirakan dapat mencapai hingga 34 derajat Celsius dalam beberapa hari ke depan. Kondisi tersebut turut dipengaruhi oleh dinamika atmosfer yang berkembang di wilayah tersebut.
Lebih lanjut, Neng mengungkapkan bahwa pada periode 26 hingga 30 April 2026, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diprakirakan kembali berpotensi terjadi di sebagian besar wilayah Kalteng.
Fenomena atmosfer seperti aktifnya gelombang Kelvin di wilayah Kalteng, serta adanya daerah belokan angin dan perlambatan kecepatan angin atau konvergensi, menjadi faktor yang mendukung peningkatan pertumbuhan awan hujan.
“Selain itu, kondisi kelembaban udara yang cukup tinggi serta labilitas atmosfer lokal yang kuat juga berperan dalam mendukung proses konvektif, sehingga meningkatkan potensi terbentuknya awan hujan,” ungkapnya.
Seiring dengan kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi hujan lokal berdurasi singkat yang dapat disertai petir atau kilat serta angin kencang, bahkan berpotensi menimbulkan angin puting beliung.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan maupun yang tinggal di daerah rawan bencana, agar selalu memantau informasi cuaca terkini dan mengambil langkah antisipasi yang diperlukan. dte/fwa-red





