PALANGKA RAYA/tabengan.co.id – Dalam upaya mencegah terjadinya permainan harga serta dampak perekonomian yang negatif di lingkup masyarakat, jajaran pemerintah telah menggelar rapat penetapan pembelian harga Tandan Buah Segar (TBS).
Menurut Wakil Ketua Komisi B HM Asera, penetapan harga ini akan memberikan dampak positif bagi masyarakat.“Yang kita khawatirkan ketika masyarakat menjual sawit ke perusahaan, harga TBSnya dipermainkan. Jadi rapat yang digelar ini mencegah agar tidak terjadi hal semacam itu,” katanya kepada awak media, belum lama ini.
Dirinya menegaskan TBS sendiri tidak boleh dipermainkan, karena harus satu harga.
Wakil rakyat dari Dapil V yang meliputi Pulang Pisau dan Kapuas itu menambahkan, hadirnya sejumlah perusahaan dalam pertemuan itu juga dalam upaya sinkronisasi terkait harga tersebut.
Dia menegaskan, adanya standarisasi harga TBS tersebut agar pihak perusahaan tidak memainkan harga kepada publik. Bahkan hingga memanipulasi, sistem pembayaran yang tidak sesuai standar.
Dirinya mencontohkan seperti pembayaran yang seharusnya dibayar sekali, namun dimainkan menjadi satu bulan sekali atau mencicil. “Kami berharap agar hal semacam itu tidak terjadi. Dibayar dengan sistem cicil/ketidakpastian, sehingga kalau tidak dijual akan mengalami pembusukan, bahkan dimanfaatkan oleh perusahaan nakal,” ujarnya.
Selain itu dirinya juga mengimbau bagi perusahaan yang berinvestasi di Kalteng wajib memiliki kantor cabang di wilayah itu.
Tidak hanya jajaran perusahaan juga mesti memiliki NPWP dari daerah setempat. Intinya yang berhubungan dengan Pemasukan Asli Daerah (PAD) wajib dilaksanakan di Kalteng, bukan di wilayah luar.
Hal ini bertujuan agar daerah sendiri dapat menikmati hasil daerah.
Kemudian yang menjadi perhatian, para perusahaan itu, ucapnya, harus mendirikan pabrik di Kalteng. Kalau tidak ada keinginan, maka akan ada tindakan tegas dari pemerintah untuk mencabut izin.
“Ketika mereka tidak mau bekerjasama khususnya mendirikan pabrik atau terkait PAD dan lainnya lebih baik keluar saja,” tegasnya.
Sementara menyangkut adanya permainan harga TBS perkebunan sawit di lingkup masyarakat, dirinya mengakui adanya informasi itu.
Persoalan tersebut terkadang, dikeluhkan dan disampaikan ke jajaran legislator. Namun, permasalahan yang selalu menjadi keluhan warga di lapangan seperti harga yang ditetapkan perusahaan sekehendak hati dan ketidakpastian pembayaran. Dia mengakui.
Memang selama ini masih belum ada standar harga untuk sektor itu. Maka dengan adanya penetapan harga TBS, diharapkan mampu mengatasi persoalan-persoalan menyangkut permainan. Tentunya juga berdampak positif bagi lini ekonomi masyarakat di daerah. drn











