PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Bagi masyarakat Kalimantan Tengah (Kalteng), nama Agustin Teras Narang (Terang) tentu sudah mengenalnya dengan sangat baik. Duduk sebagai Ketua Komisi II di DPR RI, membuat masyarakat berharap banyak agar dapat pulang ke Kalteng, untuk membangun Kalteng. Impian masyarakat diwujudkan Teras Narang dengan duduk sebagai Gubernur Kalteng selama 2 periode.
Ada sejumlah program, kebijakan dan langkah strategis yang ditempuh selama menjabat itu. Mulai Program Kalteng Harati dan Kalteng Barigas, kemudian pembangunan kereta api, serta masalah karbon. Namun, dari semua yang dilaksanakan itu ada satu yang paling diingat yakni komitmen dalam membuka keterisolasian di Kalteng.
Hasil pembangunan dalam membuka keterisolasian yang masih dirasakan sampai saat ini adalah jalan yang menghubungkan ibu kota Kalteng, Palangka Raya, dengan 4 wilayah yang ada di DAS Barito. Yakni Barito Selatan (Barsel), Barito Timur (Bartim), Barito Utara (Barut), dan Murung Raya (Mura).
Teras Narang menceritakan, lahirnya ide membuka keterisolasian bukan tanpa alasan. Bermula dari perjalanan dari Palangka Raya menuju Muara Teweh. Tahun 2000 berkunjung ke wilayah barito, yang saat itu hanya terdapat 2 daerah, yakni Barut dan Barsel. Berdirinya Kalteng, ada 2 daerah saat itu, Barut dan Barsel, apabila ingin dikunjungi dari Palangka Raya sangat sulit.
“Perjalanan panjang mencapai belasan jam dari Palangka Raya menuju wilayah Barito, karena harus menyeberangi sejumlah sungai. Kondisi ini juga akan sangat menyulitkan bagi warga Barito yang ingin ke Palangka Raya, karena panjangnya perjalanan. Itu pengalaman menjadi anggota DPR RI tahun 1999-2004,” kata Teras Narang, di Palangka Raya, Kamis (4/1).
“Terpilih sebagai Gubernur Kalteng tahun 2005-2010, salah satu tekad saya adalah bagaimana untuk menghubungkan daerah Barito dengan ibu kota Kalteng, Palangka Raya. Merealisasikan itu semua, tentunya tidaklah mudah. Berbagai persiapan harus dilakukan, mulai dari jalan, jembatan, dan sarana prasarana lainnya,” lanjut Senator Kalteng ini.
Teras Narang melanjutkan, jumlah jembatan harus dihitung berapa yang akan dibangun, berapa panjang jalan yang harus dibangun pula. Semua itu memerlukan studi kelayakan, sehingga bisa untuk dilakukan pembangunan nantinya. Semua infrastruktur yang dibangun semata bertujuan, memudahkan warga di Barito datang ke Palangka Raya, tanpa harus memutar melewati Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel).
“Bersyukur, tahun 2010 semua jalan, jembatan yang menjadi penghubung antara Palangka Raya dengan Barito berhasil direalisasikan semua. Sejak November 2010, masyarakat Barito tidak perlu lagi lewat Banjarmasin apabila ingin ke Palangka Raya, demikian pula sebaliknya,” tambah Bapak Pembangunan Kalteng ini.
Semua ini, kata Gubernur Kalteng periode 2005-2015 ini, tekad bersama, cita-cita dari pendiri Kalteng, juga cita-cita tokoh masyarakat yang ada di wilayah Barito.
“Saya bersyukur, pada saat menjabat diberikan kesempatan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, untuk mewujudkan apa yang menjadi keinginan masyarakat Kalteng. Khususnya masyarakat yang ada di Barito. Terakhir, mari perlihara kebersamaan, mari terus buka keterisolasian, dan mari kita maju bersama,” tutup Teras Narang. ded











