Spirit Kalteng

Ekonomi Kalteng di Tengah Turbulensi Global

266
×

Ekonomi Kalteng di Tengah Turbulensi Global

Sebarkan artikel ini
Ekonomi Kalteng di Tengah Turbulensi Global
pengamat ekonomi sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Palangka Raya (UPR) Dr Fitria Husnatarina

+Dr Fitria Husnatarina Tekankan Sinergi Kebijakan dan Inovasi Ekspor

​PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Gejolak ekonomi global yang dipicu oleh sentimen politik dan konflik geopolitik internasional mulai memberikan dampak nyata bagi stabilitas ekonomi nasional dan daerah.

Menanggapi fenomena ini, pengamat ekonomi sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Palangka Raya (UPR) Dr Fitria Husnatarina memberikan analisis kritis mengenai langkah-langkah yang harus diambil pemerintah, khususnya di Kalimantan Tengah (Kalteng).

​Dr Fitria menyoroti variabel ekonomi saat ini sangat dipengaruhi oleh arus informasi yang menggiring opini publik ke arah isu politik dan hubungan bilateral antarnegara. Hal ini menciptakan suasana wait and see di kalangan investor.
​”Informasi yang berkembang mengenai konflik geopolitik dan dinamika hubungan internasional membuat para pengambil keputusan, terutama investor, cenderung menahan diri. Mereka menunggu kepastian di tengah ekosistem investasi yang masih fluktuatif,” ujar Dr Fitria dalam wawancaranya.

Pentingnya Sinkronisasi Kebijakan Pusat dan Daerah

Salah satu poin krusial yang ditekankan adalah perlunya sinkronisasi antara ambisi pemerintah pusat dan realitas teknis di lapangan. Menurutnya, target pertumbuhan ekonomi yang tinggi (mencapai 8%) tidak akan tercapai jika koordinasi antarlembaga seperti Bank Indonesia, OJK, dan kementerian terkait tidak berjalan selaras.

​”Ada kontradiksi yang terjadi ketika pemerintah menginginkan pertumbuhan tinggi, namun di sisi lain suku bunga pinjaman masih tinggi. Belum lagi adanya pemangkasan dana transfer daerah yang menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah untuk menggerakkan ekonomi melalui belanja publik,” jelasnya.

​Khusus untuk Kalteng, Dr Fitria menyarankan agar pemerintah daerah lebih jeli melihat peluang di balik melemahnya nilai tukar rupiah. Fluktuasi kurs ini, menurutnya, harus dijadikan momentum untuk menggenjot sektor ekspor.

​”Logikanya sederhana, ketika rupiah melemah terhadap mata uang asing, barang ekspor kita menjadi lebih kompetitif. Ini adalah waktu yang tepat bagi Kalteng untuk berinvestasi pada inovasi produk yang berorientasi ekspor,” tambahnya.
​Sebagai penutup, Dr Fitria merekomendasikan tiga langkah utama bagi pemangku kepentingan di Kalteng. Pertama, ​efisiensi tata kelola: meningkatkan efektivitas anggaran di tingkat pemerintah daerah di tengah keterbatasan dana transfer. Kedua, ​inovasi sektor riil: memberikan perhatian lebih pada UMKM dan pelaku usaha sektor riil agar tetap resilien menghadapi turbulensi ekonomi. Ketiga, ​investasi pada inovasi: mendorong terciptanya produk-produk unggulan daerah yang memiliki nilai tambah tinggi untuk pasar internasional.

​”Kita harus mampu ‘mengencangkan ikat pinggang’ namun tetap memberikan pelayanan prima. Sinergi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha adalah kunci agar ekonomi Kalteng tetap bertumbuh di tengah ketidakpastian ini,” pungkasnya. rmp