PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya terus meningkat seiring memasuki puncak musim kemarau.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya mencatat, sejak ditetapkannya Status Siaga Darurat Karhutla pada 1 Juni 2026, telah terjadi 75 kejadian kebakaran hutan dan lahan dengan total luas lahan terbakar mencapai 29,04 hektare.
Dari total kejadian tersebut, wilayah Kecamatan Jekan Raya menjadi daerah paling rawan dengan 52 kejadian, disusul Kecamatan Pahandut sebanyak 10 kejadian, Kecamatan Sebangau sebanyak 10 kejadian, serta Kecamatan Bukit Batu sebanyak 3 kejadian. Sementara itu, Kecamatan Rakumpit hingga saat ini belum mencatat adanya kejadian karhutla.
Meningkatnya angka kejadian tersebut menunjukkan bahwa kondisi cuaca yang semakin kering telah meningkatkan potensi terjadinya kebakaran, terutama pada kawasan lahan gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan apabila api telah merambat ke bawah permukaan tanah.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Palangka Raya Hendrikus Satriya Budi menyampaikan, seluruh personel terus disiagakan untuk mengantisipasi meningkatnya kejadian karhutla selama musim kemarau berlangsung.
“Sejak Status Siaga ditetapkan, total karhutla mencapai 75 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 29,04 hektare. Kejadian terbanyak ada di Kecamatan Jekan Raya yang memang memiliki kawasan lahan gambut cukup luas sehingga tingkat kerawanannya lebih tinggi dibanding wilayah lainnya,” ujarnya saat dikonfirmasi Tabengan, Rabu (22/7/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menuntut kesiapsiagaan seluruh unsur penanggulangan bencana. BPBD Kota Palangka Raya bersama TNI, Polri, Manggala Agni, Dinas Kehutanan, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta relawan terus melakukan patroli terpadu, pemantauan hotspot, sosialisasi kepada masyarakat, hingga penanganan cepat terhadap setiap laporan kebakaran.
Ia menjelaskan, penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga pembasahan lahan agar bara api yang berada di bawah permukaan gambut tidak kembali memicu kebakaran.
“Kami terus mengedepankan respons cepat. Ketika ada laporan masyarakat, petugas langsung bergerak melakukan pemadaman dan pembasahan. Hal ini penting karena karakteristik lahan gambut memungkinkan api tetap hidup di bawah permukaan meskipun di atas terlihat sudah padam,” jelasnya.
Hendrikus mengungkapkan, berdasarkan pembaruan data BPBD Kota Palangka Raya per 21 Juli 2026, dalam satu hari tercatat terjadi 13 kejadian karhutla yang tersebar di sejumlah wilayah Kota Palangka Raya.
BPBD juga mencatat luas lahan yang terbakar dari 13 kejadian dalam satu hari tersebut mencapai sekitar 4,79 hektare. Kejadian tersebut berada di Kelurahan Bukit Tunggal, Menteng, Kalampangan, Bereng Bengkel, Marang, dan Petuk Katimpun.
Sebagian besar titik api telah berhasil dipadamkan dan saat ini masih dalam tahap pemantauan, sementara beberapa lokasi lainnya masih dilakukan penanganan lanjutan karena kondisi medan yang sulit dijangkau.
“Pada tanggal 21 Juli saja kami menangani 13 kejadian karhutla dalam satu hari. Ini menjadi indikator bahwa ancaman karhutla masih sangat tinggi. Kondisi cuaca yang panas disertai minimnya curah hujan membuat lahan menjadi sangat kering sehingga api sangat mudah menyebar,” ungkapnya.
Ia mengatakan, salah satu tantangan dalam penanganan karhutla adalah medan yang sulit dijangkau. Bahkan, terdapat lokasi kebakaran yang tidak dapat diakses melalui jalur darat sehingga membutuhkan waktu lebih lama dalam proses pemadaman.
Hendrikus menegaskan bahwa sebagian besar kejadian karhutla masih dipicu oleh aktivitas manusia. Karena itu, keterlibatan masyarakat menjadi faktor yang sangat penting dalam upaya menekan angka kejadian kebakaran.
“Kami mengimbau seluruh masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, dan tidak meninggalkan sumber api di kawasan hutan maupun lahan. Pencegahan paling efektif untuk melindungi lingkungan, kesehatan masyarakat, dan keselamatan kita bersama,” pungkasnya. dte/fwa-red











