PULANG PISAU/TABENGAN.CO.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Pulang Pisau (Pulpis) masih menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Berdasarkan data Posko Siaga Karhutla 2026 per 27 Agustus 2026 pukul 20.00 WIB, total luas karhutla tercatat mencapai 387,46 hektare, dengan dukungan 344 personel gabungan dan 107 unit sarana prasarana. Sejumlah tanaman padi warga di Rei 2 kota Pulang Pisau dilaporkan terbakar.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pulpis Osa Maliki, Minggu (30/8/2026), mengatakan, penanganan karhutla dilakukan secara terpadu dengan melibatkan berbagai unsur, termasuk TNI dan Polri. Tim gabungan tersebut diperkuat untuk melakukan penanganan di wilayah-wilayah yang menjadi prioritas, khususnya kawasan perkotaan dan wilayah yang dinilai memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi.
“Tim terpadu ada bantuan dari TNI, Polri yang membackup. Fokusnya terutama di wilayah R2. Karena kawasan kota ini kawasan yang harus mendapat perhatian, sehingga upaya tim kita maksimalkan untuk penanganannya,” ujar Osa.
Menurutnya, langkah penanganan tidak hanya berfokus pada pemadaman ketika api sudah muncul, tetapi juga harus diperkuat melalui pencegahan. Salah satu upaya paling penting adalah menghentikan aktivitas pembakaran lahan maupun sampah oleh masyarakat.
Osa mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran terbuka, terlebih dalam kondisi cuaca yang berubah-ubah dan angin yang dapat menyebabkan api dengan cepat menjalar.
“Minimal jangan bakar lagi. Kalau memang mau melakukan kegiatan, jangan dengan cara membakar. Sumber api utamanya kan dari kebakaran. Dengan situasi dan kondisi saat ini, lebih baik jangan ada yang membakar,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa membakar sampah sekalipun dapat berpotensi memicu kebakaran, terutama ketika kondisi lingkungan kering dan angin cukup kencang.
“Jangan sampai muncul api, baik membakar lahan maupun membakar sampah. Apalagi sampai membakar lahan,” tambah Osa.
Jabiren Raya Karhutla Terluas
Berdasarkan data Posko Siaga Karhutla, Kecamatan Jabiren Raya menjadi wilayah dengan luasan Karhutla terbesar, mencapai 291,79 hektare dengan 1.921 titik hotspot dan lima kejadian karhutla.
Sementara itu, Kecamatan Sebangau Kuala tercatat memiliki luas karhutla 41,25 hektare, Kahayan Kuala 20 hektare, Kahayan Tengah 10,84 hektare, Kahayan Hilir 10,38 hektare, Pandih Batu 6 hektare, Banama Tingang 4,7 hektare, dan Maliku 2,5 hektare.
Osa menjelaskan, sebaran karhutla tidak merata di seluruh wilayah Kabupaten Pulpis. Sejumlah kecamatan menjadi wilayah yang lebih dominan dalam penanganan karena memiliki luasan kebakaran dan titik panas yang lebih tinggi.
“Kalau untuk daerah hulu seperti Banama Tingang dan Kahayan Tengah tidak terlalu besar. Yang besar itu ada di beberapa kecamatan yang memang menjadi wilayah prioritas,” jelasnya.
Selain ancaman meluasnya kebakaran, kondisi kualitas udara juga menjadi perhatian. Data posko mencatat ISPU PM2,5 berada pada angka 109, yang masuk kategori tidak sehat.
Kondisi tersebut menjadi alasan penting bagi seluruh pihak untuk meningkatkan pencegahan dan pengendalian karhutla. Pemerintah daerah melalui BPBD bersama TNI, Polri, Manggala Agni, perangkat kecamatan, dunia usaha dan masyarakat terus melakukan pemantauan serta penanganan di lapangan.
Salah satu kejadian yang ditangani Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD terjadi pada Kamis, 27 Agustus 2026 sekitar pukul 09.15 WIB, di Jalan Trans Kalimantan, Desa Garong, Kecamatan Jabiren Raya.
Dalam penanganan tersebut, BPBD mengerahkan tiga unit mobil operasional, didukung satu unit mobil operasional Polres Pulang Pisau, serta peralatan pemadaman seperti mesin Honda GX160, mesin jinjing, 20 roll selang 1,5 inci dan dua nozzle spray.
Objek yang terbakar meliputi semak belukar, hutan galam dan kebun karet, sementara penyebab serta luasan pasti kebakaran masih dalam pendataan.
Osa kembali menekankan bahwa keberhasilan pengendalian karhutla tidak hanya bergantung pada kekuatan personel dan peralatan pemadam, tetapi juga pada kesadaran masyarakat untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.
“Kalau tidak ada sumber api, kita bisa mencegah munculnya kebakaran. Jadi yang paling penting sekarang adalah jangan membakar,” pungkasnya. mye/gie-red











