PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – “Please, stop dulu bakar lahannya. Kami butuh udara bersih.” Keluhan seorang ibu melalui media sosial Threads menjadi gambaran nyata keresahan warga di tengah kabut asap yang menyelimuti seluruh wilayah Kalimantan saat ini.
Meski keberadaan ibu tersebut hingga kini belum diketahui secara pasti, termasuk di wilayah Kalimantan mana ia berada, namun ia menuliskan bayinya yang baru berusia 2 bulan dilaporkan mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selama sepekan. Sementara dirinya dan sang suami juga jatuh sakit di tengah upaya merawat buah hati sekaligus tetap bekerja.
Keluhan yang disampaikan melalui akun Threads nanana.liana tersebut memperlihatkan bagaimana dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama keluarga yang memiliki bayi dan anak-anak.
“Bayiku udah seminggu kena ISPA, umurnya baru banget hari ini 2 bulan. Aku dan suami jagain dia sambil tetap kerja, sampai kita juga ikutan ketularan dia,” tulisnya.
Sementara itu di Kota Palangka Raya, Data Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat sebanyak 7.219 kasus ISPA selama periode awal Agustus hingga 15 Oktober 2026. Seluruh 11 Puskesmas di Palangka Raya telah menyampaikan laporan kasus.
Angka tersebut menunjukkan besarnya persoalan kesehatan yang dihadapi masyarakat. Di balik ribuan kasus yang tercatat, terdapat warga yang harus menjalani pengobatan, orang tua yang mengkhawatirkan kesehatan anaknya, hingga keluarga yang tetap beraktivitas di tengah kondisi udara yang memburuk.
Berdasarkan data Dinkes, kasus ISPA terbanyak tercatat di Puskesmas Bukit Hindu dengan 1.142 kasus. Berikutnya, Puskesmas Menteng sebanyak 1.072 kasus, Pahandut 1.050 kasus, Kayon 967 kasus, Jekan Raya 827 kasus, Kereng Bangkirai 603 kasus, Panarung 600 kasus, Kalampangan 447 kasus, dan Marina Permai 440 kasus. Sementara itu, Puskesmas Rakumpit mencatat 71 kasus, sedangkan Puskesmas Tangkiling melaporkan nol kasus dalam periode tersebut.
Kepala Dinkes Kota Palangka Raya Riduan mengatakan, gangguan pernapasan tersebut tidak hanya dialami kelompok usia tertentu. Kasus ISPA ditemukan pada hampir seluruh kelompok umur.
“Artinya tidak hanya kena pada umur tertentu, tapi hampir semua usia bisa kena ISPA,” ujarnya, belum lama ini.
Kondisi ini menjadi perhatian karena paparan asap dapat memperburuk gangguan pernapasan, terutama bagi bayi, anak-anak, lansia, dan masyarakat yang memiliki masalah kesehatan tertentu.
Ancaman kesehatan tersebut turut menjadi perhatian seiring tingginya angka pencemaran udara yang dilaporkan di Palangka Raya.
Data IQAir pada 14 Oktober 2026 menunjukkan indeks kualitas udara Palangka Raya mencapai AQI⁺ US 659 dengan kategori berbahaya pada pembaruan pukul 01.00 waktu setempat. Konsentrasi PM2.5 tercatat sebesar 405,3 mikrogram per meter kubik.
Di tengah situasi tersebut, keluhan warga di media sosial menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla bukan hanya menyangkut pemadaman api atau pengendalian titik panas. Dampaknya juga berkaitan langsung dengan keselamatan masyarakat yang setiap hari harus menghirup udara di sekitarnya.
Bagi keluarga yang memiliki bayi, kondisi ini menghadirkan kekhawatiran tersendiri. Penggunaan pendingin ruangan dan alat pemurni udara menjadi salah satu upaya perlindungan, tetapi pencegahan sumber pencemaran tetap menjadi bagian penting dalam mengurangi paparan asap.
Sebagai langkah antisipasi terhadap dampak kabut asap, Pemerintah Kota Palangka Raya menyiapkan 47 Rumah Oksigen yang tersebar di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan.
Riduan mengatakan, sebagian Rumah Oksigen disiapkan untuk beroperasi selama 24 jam. Pelaksanaannya didukung tenaga kesehatan serta mahasiswa semester akhir melalui kerja sama dengan Universitas Eka Harap.
“Totalnya sampai kemarin ada 47 Rumah Oksigen yang tersebar di Kota Palangka Raya,” kata Riduan.
Ia menyebutkan, fasilitas tersebut berpeluang diperluas apabila kondisi cuaca dan kualitas udara semakin memburuk.
“Kalau memang cuaca bertambah jelek, insyaallah kita perluas,” ujarnya.
Keberadaan Rumah Oksigen diharapkan dapat membantu masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan di tengah kondisi udara yang tidak sehat. Meski demikian, upaya penanganan dampak kesehatan perlu berjalan beriringan dengan pencegahan dan pengendalian karhutla sebagai sumber kabut asap.
Persoalan ini juga memperlihatkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap udara bersih tidak dapat dilepaskan dari langkah konkret untuk mencegah pembakaran lahan dan menekan dampak kebakaran.
Diketahui saat ini banyak pihak mendesak, bencana kabut asap di Kalteng agar dapat ditetapkan sebagai bencana nasional, namun penetapan status tersebut memiliki mekanisme serta indikator tersendiri. Akan tetapi, bagi masyarakat yang terdampak, persoalan paling mendesak adalah bagaimana melindungi kesehatan keluarga dan memastikan mereka dapat menghirup udara yang aman.
Sementara itu, keluhan seorang ibu yang bayinya baru berusia 2 bulan mengalami ISPA menunjukkan bahwa dampak karhutla bukan sekadar angka dalam laporan, melainkan persoalan nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat.
Di tengah situasi tersebut, upaya penanganan kesehatan perlu terus diperkuat, disertai langkah serius untuk mengendalikan karhutla. Sebab, masyarakat tidak hanya membutuhkan fasilitas untuk menghadapi dampak asap, tetapi juga lingkungan yang memungkinkan mereka bernapas dengan aman. nws/fwa-red











