Food Estate Perparah Kerusakan Lingkungan?

TABENGAN/YULIANUS SALAH SIAPA? - Banjir parah yang menimpa Kota Pangkara Raya dan wilayah Pulang Pisau.

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM Banjir yang merendam berbagai wilayah di Kalimantan Tengah (Kalteng) tak kunjung surut. Debit air dikhawatirkan terus naik, apabila hujan dengan intensitas tinggi kembali turun. Datangnya bencana ini turut mendapat sorotan dari pegiat lingkungan Save Our Borneo (SOB) Kalteng.

Deputi SOB Kalteng Habibi menjelaskan, banjir memang tidak hanya melanda Kalteng, tapi terjadi di sejumlah wilayah di Pulau Kalimantan. Khusus untuk Kalteng, banjir yang terjadi 2 kali pada 2021 merupakan akumulasi dari perusakan hutan. Perusakan hutan yang terjadi selama ini menimbulkan dampaknya sekarang berupa banjir.

Kerusakan, kata Habibi, tidak hanya disebabkan aktivitas ilegal orang per orang semata, melainkan juga diperparah oleh kebijakan pemerintah kita sendiri yang konversi hutan menjadi non hutan. Dari data-data yang SOB kumpulkan, untuk Kalteng saja, ada sekitar 73 persen  dari luas provinsi ini sudah diberikan kepada konsesi.

Habibi mencontohkan, mulai dari industri perkebunan, pertambangan, dan industri kehutanan (HPH dan HTI). Jumlah tersebut belum termasuk konversi hutan atau lahan untuk permukiman, seperti real estate dan pembangunan di sektor lainnya.

“Tidak sampai di situ, potensi kerusakan hutan dan alam khususnya di Kalteng akan semakin parah seiring dengan berjalannya proyek strategis nasional di sektor pangan yakni Food Estate yang juga akan mengonversi hutan dan lahan di provinsi ini. Kebijakan mengonversi hutan menjadi non hutan ini, selalu didasarkan pada alasan untuk pembangunan dan ekonomi,” kata Habibi, mengulas penyebab banjir di Kalteng, Rabu (17/11).

Adapun kemampuan daya dukung lingkungan dan potensi bencana yang akan timbul di kemudian hari, lanjut Habibi, sepertinya tidak dipertimbangkan oleh pemerintah. Sementara, biaya yang dikeluarkan menangani bencana seperti ini jauh lebih besar dibandingkan keuntungan yang hendak diambil dari mengonversi hutan dan lahan.

“Padahal, Pulau Kalimantan ini dikenal dengan hutan hujan. Ketika hutannya hilang, yang tersisa hanya hujannya. Ketika itu terjadi, maka bencana akan melanda seperti banjir saat ini. Sejak kecil pun kita sudah diajarkan, betapa pentingnya menjaga hutan dan lingkungan. Karena ketika hutan dan lingkungan ini rusak, maka bencana seperti banjir, longsor dan lain-lain akan terjadi,” ucap Habibi. ded