*Pengaduan Paling Banyak dari Kotim dan Gumas
PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Kekerasan seksual terhadap anak terus menjadi perhatian utama Polda Kalimantan Tengah. Pengungkapan demi pengungkapan terus dilakukan Subdit Remaja, Anak dan Wanita (Renakta) dan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) polres jajaran.
Dalam kurun waktu Januari-Juni 2022, sebanyak 66 kasus persetubuhan anak di bawah umur telah diungkap dengan menangkap para pelaku seksual tersebut. Selain persetubuhan, 21 kasus pencabulan dan 12 kasus penganiayaan terhadap anak turut ditangani.
Direktur Reskrimum Polda Kalteng, Kombes Pol Faisal F Napitulu, mengatakan seluruh kasus tersebut kini telah ditangani oleh Polda Kalteng dan Polres jajaran. Penyidikan telah berjalan guna bisa menghukum para pelaku kejahatan seksual tersebut. “Pelaku kejahatan seksual terhadap anak akan kita tindak tegas. Saat ini proses hukum terus berlanjut baik di Polda Kalteng dan Polres jajaran,” katanya, Senin (29/8).
Sementara, Kepala UPT PPA Provinsi Kalteng, Jumrah, mengatakan sepanjang tahun 2022 ini pengaduan akan kekerasan seksual kepada anak paling banyak berada di Kabupaten Gunung Mas (Gumas) dan Kotawaringin Timur (Kotim). Sejumlah faktor mempengaruhi terjadinya kejahatan seksual kepada anak. Diantaranya faktor ekonomi pelaku yang berasal dari kalangan menengah ke bawah, hingga minimnya pendidikan dari pelaku sendiri.
“Faktor pemicu kekerasan seksual kepada anak sejauh ini kebanyakan karena faktor ekonomi dan pendidikan. Pelaku biasanya memiliki pendidikan menengah ke bawah. Kemudian biasanya korban berasal dari keluarga broken home, dimana anak tinggal atau dititipkan kepada bukan saudara kandung,” jelasnya.
Sesuai kewenangan, imbuhnya, UPT PPA Kalteng terus melakukan pendampingan psikologi kepada anak yang menjadi korban kekerasan seksual. Baik saat pemeriksaan di kantor kepolisian hingga persidangan. “Melalui pendampingan kita juga ingin menghilangkan trauma yang terhadap anak. Karena mereka yang mengalami kekerasan seksual bukan hanya berdampak pada fisik namun juga mental,” tuturnya. fwa











