Spirit Kalteng

Izin Konsesi PBS Penyebab Bencana di Kalteng

30
×

Izin Konsesi PBS Penyebab Bencana di Kalteng

Sebarkan artikel ini
  • Daerah Resapan Air/Hutan di Hulu Sudah Banyak Berkurang atau Terdeforestasi
  • Kejadian Bencana Banjir Sejak 2019 sampai 2022 Mengalami Kenaikan di Lokasi Kejadian dan Dampak Kerusakan.
  • Perusahaan Perkebunan Sawit Dan Batu Bara Seperti Berlomba Merusak Lingkungan

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.IDKalimantan Tengah (Kalteng) kembali dilanda banjir. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Palangka Raya memprakirakan banjir akan terjadi di 13 kabupaten dan 1 kota. Sekarang ini sudah terdapat 8 kabupaten dan 1 kota yang terdampak banjir.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kalteng memberikan respons serius atas kondisi yang dihadapi Kalteng. Menurut Direktur Eksekutif WALHI Kalteng Bayu Herinata, banjir di Kalteng seperti tidak pernah berhenti. Bencana banjir selalu terjadi di Kalteng, ketika hujan dengan intensitas tinggi terjadi. Bahkan, banjir melanda daerah yang tidak pernah banjir sebelumnya.

WALHI Kalteng, kata Bayu, sedang melakukan kajian terjadinya banjir di Kalteng. Ada berbagai elemen yang akan dilakukan kajian berkenaan dengan banjir di Kalteng. Karena masih proses, tentu belum bisa disampaikan ke publik apa kajian itu. Namun, secara umum banjir disebabkan oleh pemberian izin konsesi untuk berbagai jenis perkebunan perusahaan besar swasta (PBS).

“Daerah yang dulunya tidak pernah banjir, sekarang terdampak banjir. Pantauan kami di lapangan, sejak kebijakan moratorium pembukaan lahan berakhir. Konsesi perusahaan, khususnya perkebunan, mulai marak melakukan pembukaan hutan dan gambut di lokasi izinnya. Kondisi saat ini sampai wilayah hulu juga terjadi kebanjiran, salah satu faktornya yang kami lihat adalah daerah resapan air/hutan di hulu sudah banyak berkurang atau terdeforestasi,” kata Bayu, saat diminta tanggapan terkait penyebab banjir di Kalteng, Kamis (20/10).

Menurut Bayu, luasan resapan ini setiap tahun terus menurun, seiring dengannya pemberian izin konsesi untuk membuka hutan. Kejadian bencana banjir sejak 2019 sampai 2022 ini dari catatannya mengalami kenaikan, baik dari periode waktu, lokasi kejadian dan dampak kerusakan.

“Yang menjadi catatan penting adalah terkait wilayah kejadian banjir yang terjadi di desa/wilayah yang belum pernah terjadi banjir sebelumnya malah terkena dampak, seperti daerah hulu sungai atau area daratan tinggi,” katanya.

Hal ini sudah sangat jelas menunjukkan ada kondisi yang tidak baik di wilayah hulu daerah aliran sungai yang menjadi wilayah resapan air. Dugaan deforestasi dan lahan kritis adalah yang paling besar sebagai faktor pendukung, selain curah hujan yang tinggi akibat anomali cuaca dampak dari perubahan iklim.

 

Berlomba Merusak Lingkungan

Sementara itu, pemerhati lingkungan Kalteng Yanedi Jagau mengemukakan, banjir di Kalteng terjadi di perkotaan dan perdesaan. Selain faktor hujan, di perkotaan lebih mengarah kepada saluran drainase yang tersumbat, dan sampah yang tak terkelola dengan baik, serta pembangunan hunian yang tidak ramah lingkungan.

“Sedangkan banjir di perdesaan terjadi karena faktor sedimentasi sungai menumpuk, limpahan air tak mengalir lancar, material lapukan kayu, batu, dan pasir dampak kegiatan penerbangan dan pertambangan di area sungai tak terkendali. Konversi kawasan hutan menjadi kawasan komersial industri sawit, tambang, dan kegiatan lainnya juga menyumbang berkurangnya resapan air,” kata Yenedi.

Daerah penyangga, lanjut Yanedi, makin berkurang luasannya. Banjir di musim hujan mestinya tak perlu terjadi di Kalteng. Namun, keadaannya terlihat seperti institusi perusahaan industri perkebunan sawit, dan batu bara tampaknya seperti berlomba merusak lingkungan. Jika hal ini terus terjadi, bencana akan terus mengancam. Perlu langkah strategis bukan hanya yang menangani masalah akibat yang dihadapi, melainkan mencari akar masalah paling mendasar.

Salah satu yang paling utama, tegas Yanedi, makin meluasnya konversi kawasan hutan. Perusakan lingkungan di Kalteng ini umumnya dimulai dari oligarki yang membajak demokrasi dan oligarki ini juga yang menguasai moral, serta berkuasa membangun industri ekstraktif yang tidak peduli pada area resapannya dan hutan pencegah banjir. Industri ekstraktif itu antara lain perusahaan besar sawit dan batu bara.

Terpisah, prakirawan BMKG Palangka Raya Renianata menyampaikan, gambaran umum cuaca di Kalteng adalah kondisi berawan sampai dengan hujan ringan. Namun, ada potensi terjadinya hujan dengan intensitas lebat. Sebab itu, masyarakat diminta waspada dampak bencana yang ditimbulkan seperti bencana banjir. Bila dipersentasikan, 60 persen itu berawan sampai hujan ringan, sementara 40 persen itu hujan sedang sampai lebat.

Curah hujan di Kalteng sendiri, kata Renianata, bervariasi. Di Palangka Raya curah hujan berada pada kisaran 37,5 dan 30,5 juga 13,4. Itu beberapa hari terakhir. Kondisi ini masuk dalam kategori hujan dengan intensitas ringan  sampai sedang. Demikian pula hasil prakiraan BMKG Pangkalan Bun, BMKG Muara Teweh, dan BMKG Buntok. Sementara hasil prakiraan BMKG Sampit ada kondisi hujan yang masuk lebat dan sangat lebat. ded

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *