

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID-Indonesia merayakan 10 November 2022 sebagai hari pahlawan. Dari gelanggang olahraga juga lahir pahlawan yang dapat dijadikan inspirasi bagi generasi muda yang memiliki minat dan bakat di dunia olahraga dan meraih prestasi.
Salah satunya Subandi S. Musan. Pria kelahiran 25 Juli 1964 di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) ini sudah malang melintang di olahraga dayung. Pria yang kini menjabat sebagai Kabid Binpres PODSI Kalteng ini, mengenang dirinya sukses meraih prestasi pada saat menjadi atlet.
“Saya tanya kepada diri sendiri, orang lain yang menjadi atlet bisa dapat juara kenapa saya tidak, akhirnya saya coba di beberapa cabang olahraga tapi banyak kendala yang saya hadapi salah satunya karena keterbatasan ekonomi orang tua,” kata Subandi, Rabu (9/11).
Awal mula perjuangan sebagai atlet dimulai saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) tahun 1978. Mencoba masuk di Cabang Olahraga (Cabor) bulutangkis namun terkendala dengan pembiayaan untuk sepatu, raket dan bola. Akhirnya dia memutuskan untuk keluar.
Setelah berhenti dari bulutangkis, Subandi mencoba ke Cabor balap sepeda dan berhasil meraih juara pertama dan kedua. Meskipun berhasil meraih juara namun tidak bisa tampil di nasional karena pada saat itu Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) Kalteng sebagai induk organisasi sepeda belum terdaftar.
Hal itu membuat dirinya frustasi dan berhenti dari olahraga tersebut. Ia Pun memutuskan untuk masuk atletik dan berhasil juara di nomor lari 5 ribu meter, 10 ribu meter sampai maraton 28 km. Prestasi yang didapat minimal juara tiga dan empat, tapi tidak dikirim juga ke Jakarta sehingga memutuskan keluar.
“Akhirnya saya datang ke KONI dan bertanya olahraga apa yang menjadi prioritas. Ternyata dayung prioritasnya. Setelah itu saya memutuskan untuk masuk ke olahraga dayung tahun 1980/1981,” imbuh Subandi.
Keputusan yang dia ambil itu dia menilai tepat karena pada PON XI 9 September sampai 20 September 1985 dan PON XII di Jakarta pada tanggal 18 Oktober sampai dengan 28 Oktober 1989. Membawa Dayung Kalteng meraih juara umum, sehingga orang segan ketika mendengar nama Kalteng di olahraga dayung.
Ia tampil sebagai atlet sampai PON XIII yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 9 September sampai dengan 19 September 1993 Setelah itu mulai memutuskan untuk menjadi pelatih dayung sampai 2015. Prestasi yang diraih bersama Kalteng di event nasional, membuat Subandi dipanggil ke Jakarta untuk mengikuti Pelatnas dayung, persiapan mewakili Indonesia di ajang Asean seperti SEA Games XIV, 1987 di Jakarta meraih 4 medali emas, 2 perak dan 1 perunggu. SEA Games XV di Malaysia 1989 meraih 2 medali emas. Total perolehan medali sebagai atlet maupun pelatih sebanyak 84 emas, 41 perak dan 43 perunggu. Kini, Subandi dipercaya Pengprov PODSI Kalteng memegang jabatan Ketua bidang (Kabid) pembinaan prestasi.
Ia membuka rahasia kesuksesan sebagai seorang atlet dayung. Menurutnya yang dilihat bukan berdiri kokohnya, tapi yang dinilai hentakan saat mendayung, masuk sama keluar juga sama di air saat mendayung. Kalau tidak kompak maka perahunya goyang dan bisa ketinggalan dari lawan.
“Ada yang baru angkat, ada yang sudah di depan. Itu yang harus disimulasikan supaya sama, di air itukan berat. Kuncinya itu dilatihan ada beberapa cara bisa dilakukan untuk tingkatkan kekompakan dan kekuatan lengan atlet,” jelas Subandi.
Menurut Subandi, kalau tangannya masih lemah diperbaiki dengan latihan panjat tali dengan tangan, push up, kalau tidak jalan dengan tangan ke kiri dan kanan, maju mundur sementara kakinya diangkat.
Kemudian angkat beban per menit atau set, dinamisme dan statis dasarnya push up, skot jump, sit up dan Squat thrust adalah salah satu gerakan yang terdiri dari gerakan berdiri, push up , menarik kaki kemudian berdiri kembali. Empat dasar itu harus dikuasai atlet dayung. yml











