
MARAK- Truk berlabel Bumdes Kecamatan Kurun, Mihing Raya dan Sepang di mobil angkutannya agar bisa melintas aman di jalur Palangka Raya-Kuala Kurun.
KUALA KURUN/TABENGAN.CO.ID – Ruas jalan penghubung Palangka Raya-Kurun kerap dikeluhkan warga, baik itu pengguna jalan maupun warga desa yang dilintasi ruas jalan tersebut. Hal itu dikarenakan kondisi ruas jalan yang berlubang dan rusak dengan padatnya intensitas truk angkutan produksi Perusahaan Besar Swasta (PBS) yang bergerak di bidang perkebunan, kehutanan dan pertambangan. Aktivitas ini membuat pengguna jalan umum dan warga setempat merasa tidak nyaman karena rawan akan kecelakaan lalu lintas.
Sebelumnya Bupati Gunung Mas Jaya Samaya Monong dengan tegas menutup kembali ruas jalan Palangka Raya-Kuala Kurun bagi perusahaan besar swasta (PBS) yang melintasi ruas jalan tersebut karena tidak komitmen atas kesepakatan yang telah dibuat.
Tidak komitmennya PBS untuk melakukan perbaikan ruas jalan yang rusak sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati, sehingga Bupati Gumas dengan tegas menutup ruas jalan bagi PBS yang melintasi terhitung mulai 2 November pukul 06.00 hingga PBS benar-benar memenuhi kesepakatan dimaksud.
Baru-baru ini, ratusan truk PBS terlihat memasang stiker Bumdes Kecamatan Kurun, Mihing Raya dan Sepang di mobil angkutannya agar dapat kembali beraktivitas mengangkut hasil produksinya. Hal tersebut kembali menjadi pertanyaan masyarakat, karena tidak ada kejelasan dari bumdes manakah truk tersebut. Bahkan masyarakat setempat ramai membuat postingan di media sosial terkait banyaknya truk bumdes yang mengangkut hasil produksi PBS.
Menurut Edo, seorang warga yang tinggal di pinggir Jalan Palangka Raya-Kurun, tetap saja pihaknya tidak nyaman dengan adanya truk angkutan PBS yang setiap hari tanpa mengenal waktu melalui jalan ini dan sering melakukan konvoi di jalan. Parahnya lagi jika berhenti mereka berjejer seperti kereta api tidak peduli itu di tikungan atau tanjakan.
“Angkutan PBS dan angkutan Bumdes sangat meresahkan membuat tidak nyaman, jalan jadi rusak dan setiap hari pasti saja ada kemacetan,” kata Edo, akhir pekan kemarin.
Setiap truk melintas di jalan ini, masyarakat dan warga merasakan kemacetan dan kesulitan berkendara karena harus hati-hati, udara kotor dari knalpot kendaraan dan debu jalan, pungkasnya.
“Kalau ada kendaraan rusak di jalan, macetnya panjang karena jalan satu jalur. Kita tidak persoalkan lalu lalang truk berat ini, tapi maunya kondisi jalan tidak rusak supaya warga melintas juga nyaman dan aman,” sebut Riyan, warga lainnya.
Ia mengakui saat ini memang sudah ada perbaikan jalan dilakukan dan mungkin dalam waktu dekat ini jalan Palangka Raya-Kurun semua akan diaspal. Tapi menurutnya, semua akan sia-sia jika truk PBS dan truk Bumdes masih melintasi ruas jalan tersebut.
“Jalan sudah bagus tetap dilewati truk PBS, artinya pembangunan sia-sia, tinggal tindakan dari Bupati saja. Jika tetap mengizinkan, sama aja ikut merusak aset dan fasilitas negara,” ucapnya kesal.c-hen











