

KUALA KAPUAS/TABENGAN.CO.ID – Bencana banjir yang melanda sejumlah daerah di Kalimantan Tengah datang silih berganti. Kali ini giliran Kabupaten Kapuas yang parah. Akibat meluasnya genangan air, status Kapuas akan ditingkatkan dari Siaga menjadi Tanggap Darurat Banjir.
Peningkatan status itu disampaikan Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kapuas Panahatan Sinaga kepada Tabengan via telepon, Selasa (22/11).
Menurut Panahatan, melihat kondisi saat ini, sebagaimana laporan dari beberapa pemerintahan desa yang ditindaklanjuti oleh pemerintah kecamatan setempat, kondisi air di sebagian tempat masih merendam beberapa desa. Ini dampak dari meluapnya DAS Kapuas.
“Kita sudah laporkan kepada bupati dan memerintahkan kepada seluruh camat untuk segera melaporkan dan memvalidasi data warga yang terdampak langsung akibat banjir ini. Setidaknya laporannya besok (Rabu) sudah harus diterima,” katanya.
Terkait dengan status yang saat ini masih Siaga banjir, lanjut Panahatan, mengingat ada beberapa desa yang aktivitasnya lumpuh total akibat permukiman terendam, pihaknya sudah ajukan draf untuk ditingkatkan menjadi Tanggap Darurat.
Terpisah, Suriato, Kepala Desa Mangkutup, Kecamatan Mantangai, mengatakan, kondisi banjir yang dialami warganya sudah terjadi sejak 9 hari lalu, tepatnya Senin, 14 November 2022. Ketinggian air hampir mencapai punggung orang dewasa. Belum terlihat tanda-tanda akan surut. Aktivitas di Desa Mangkutup lumpuh total. Karena rumah terendam, banyak warga mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Masih menurut Surianto, akibat banjir ini setidaknya 119 KK atau 402 jiwa terdampak. Sebab untuk rumah yang ditinggalkan karena sudah terendam separuh lebih, ada 70 unit, 3 sekolah, dan 3 rumah ibadah juga ikut terendam.
“Walaupun sudah ada bantuan dari beberapa pihak, namun karena kondisinya justru semakin parah, saat ini saya berharap agar secepatnya ada bantuan yang sangat diperlukan oleh warga saya. Seperti obat-obatan ketahanan stamina tubuh, vitamin untuk antisipasi penyakit, bahan makanan instan serta keperluan bayi dan wanita, terlebih pakaian hangat,” katanya.
Menurut Surianto, keperluan bahan makanan warganya sudah menipis, karena kapal dagang yang biasa mampir di pelabuhan desa tidak bisa bertambat.
Banjir Palangka Raya
Hingga Selasa, ketinggian debit air yang merendam 17 kelurahan di Kota Palangka Raya belum menunjukkan penurunan. Air luapan dari Sungai Kahayan dan Sungai Rungan cenderung bertahan, bahkan ada yang tambah naik.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya Emi Abriyani mengingatkan, masyarakat yang bermukim pada Daerah Aliran Sungai (DAS) untuk lebih waspada.
Dikatakannya, sepanjang awal pekan ini Kota Cantik terus diguyur hujan dengan intensitas sedang. Di Posko Kelurahan Pahandut ada kenaikan debit air 2 cm, sedangkan di Kelurahan Kameloh Baru naiknya hingga 30 cm.
Di Kalampangan mengalami kenaikan 1 cm dari hari sebelumnya, lalu di Jalan Bengaris ada kenaikan debit air 8 cm, serta di Kelurahan Tanjung Pinang dan Bereng Bengkel mengalami kenaikan 3 cm dari hari sebelumnya dan sebagian besar dapur milik masyarakat mulai kemasukan air.
“Sedangkan pantauan di wilayah Posko Kelurahan Palangka ketinggian airnya masih bertahan, bahkan di Jalan Anoi Ujung sudah ada penurunan 4 cm,” ujar Emi, Selasa.
Akibatnya, ribuan masyarakat kini harus tinggal dengan ancaman banjir yang berpotensi terus meningkat. Kecamatan Jekan Raya dan Pahandut, diakui Emi, mungkin menjadi wilayah banjir terparah. Di Jekan Raya ada 3.289 KK atau 12.315 jiwa yang terdampak banjir dengan total 1.122 rumah yang terendam air dan di Pahandut ada 3.087 KK atau 11.651 jiwa dan 2.729 rumah yang terdampak.
“Ada 3 kecamatan yang sekarang warganya sampai ada yang mengungsi, yakni di Kecamatan Pahandut dengan 19 KK dan 46 jiwa, Jekan Raya dengan 103 KK dan 307 jiwa serta di Kecamatan Sabangau dengan 8 KK dan 30 jiwa. Totalnya ada 130 KK dan 383 jiwa yang tinggal di pengungsian,” bebernya.
Pengungsi Bertambah
Siti Nurhaliza, relawan dari UKM SAR UPR yang bertugas di Posko Pengungsian Gedung KNPI mengatakan, dalam beberapa hari terakhir jumlah pengungsi meningkat tajam. Di awal pembukaan posko pada 16 November, hanya ada 25 jiwa. Namun, pada Selasa pagi, 22 November, bertambah hingga 26 KK atau 82 jiwa.
“Masyarakat yang mengungsi terus berdatangan setiap harinya, karena menurut mereka air di tempat tinggalnya sudah semakin naik dan mereka sudah tidak bisa beraktivitas lagi. Mengantisipasi ledakan pengungsi, BPBD dan pihak kelurahan hari ini akan membangun dapur umum sendiri,” kata Siti, Selasa (22/11).
Diakuinya, yang menjadi keluhan para pengungsi selama ini adalah penyakit gatal karena air kotor akibat banjir dan sebagian juga ada masyarakat yang memang sudah dalam kondisi sakit saat tiba di pengungsian dan telah mendapatkan penanganan medis. Selain itu, para balita di pengungsian sangat membutuhkan bantuan. Mulai dari popok, susu, suplemen nutrisi anak hingga ketersediaan air putih.
“Dinsos sudah menyalurkan kids ware untuk balita yang ada di pengungsian di sini. Ya kami juga berharap uluran tangan dari masyarakat lainnya untuk bisa membantu masyarakat yang tengah mengungsi. Juga kami harapkan agar air bisa segera surut. Kasihan balita-balita ini jika harus tidur berdesakan di pengungsian,” katanya.
Sementara itu, salah satu pengungsi, Norma menyatakan, sudah satu minggu berada di posko pengungsian. Meskipun dalam kondisi duka akibat bencana banjir, dirinya tetap mencoba untuk berpandangan positif atas musibah yang diterima.
Selama di pengungsian, ia merasa aman dan nyaman karena tak lagi berada dalam kekhawatiran apakah anak-anak bisa bertahan atau tidak, apakah mereka bisa sakit atau tidak. Karena anaknya yang masih sangat kecil dinilainya sangat rawan jika bersinggungan dengan banjir.
“Hanya saja di sini dingin sekali kalau malam hari, belum lagi nyamuk yang mengganggu istirahat. Seminggu ini kebutuhan kami selalu tercukupi, terutama makanan. Kalau untuk pemasukan, ya seminggu ini tidak ada sama sekali karena rumah banjir, jadi tidak bisa jualan. Beruntung masih bisa mengungsi dan kebutuhan dipenuhi oleh pemerintah,” ujarnya.
Tumbang Nusa Meninggi
Banjir di Jalan Trans Lintas Kalimantan, Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau (Pulpis), Selasa (22/11), terus meninggi. Debit air sebelumnya 25 cm kini naik 35 cm, dengan panjang jalan yang terendam bertambah dari 50 meter menjadi 64 meter.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Pulpis Osa Maliki membenarkan, kondisi debit air yang merendam Jalan Trans Lintas Kalimantan di km 35 Desa Tumbang Nusa mengalami peningkatan.
“Tingginya debit air dan panjangnya ruas jalan yang terendam, tidak mengganggu arus lalu lintas, dan kondisi arus lalu litas masih berjalan lancar, aman dan terkendali,” ujar Osa.
Untuk personel yang bertugas di lapangan, lanjut Osa, terdiri dari BPBD, TNI, Polri, Kecamatan, Satpol PP dan Dishub.
“Personel di lapangan masih terus membantu, terutama untuk kelancaran arus lalu lintas, serta memantau kondisi debit air,” pungkasnya. c-yul/rgb/ c-mye











