PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Bapak Pembangunan Kalimantan Tengah (Kalteng) Agustin Teras Narang (Terang) tidak henti-hentinya memberikan semangat, bekal, motivasi, dan bimbingan kepada anak muda generasi milenial, agar siap dalam menghadapi dan menyambut bonus demografi. Permasalahan yang muncul adalah ketakutan dalam menyambut bonus demografi itu.
Bersama dengan Andina Thresia Narang, penguatan terhadap mental anak-anak Universitas Kristen Palangka Raya (UNKRIP), sehingga berani dan siap dalam menghadapi bonus demografi. Penguatan dan motivasi diberikan Agustin Teras Narang dan Andina Thresia Narang, pada saat menjadi narasumber dalam kegiatan seminar di UNKRIP, Senin (9/10).
Menurut Teras Narang, sekarang ini generasi muda Kalteng tidak boleh mengatakan tidak sanggup. Justru, hadirnya Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, membuat generasi muda harus dengan lantang berkata, “kami berani dan siap”. Jangan takut dalam menghadapi tantangan yang ada di depan, di mana kuncinya adalah kesiapan diri dan juga kerja sama.
“Kesiapan diri itu harus dimulai dari diri sendiri. Sebab itulah, saya selalu katakan we have to start from our self. Kesiapan seperti apa yang harus diambil dalam mempersiapkan diri, sehingga siap dalam menghadapi tantangan. Apakah yang dilakukan sudah benar, apakah sudah dilakukan dengan sebagaimana mestinya,” kata Tokoh Kalteng ini.
Meskipun diri sendiri siap, lanjut Teras Narang, itu masih belum cukup. Diperlukan kerja sama dengan semua pihak, untuk mencapai tujuan bersama. Satukan kekuatan masing-masing individu yang dibalut dalam kolaborasi, maka semua tujuan akan dapat tercapai dengan mudah. Tantangan ke depan tidak ringan, tapi dengan kolaborasi dalam kerja sama, maka tantangan itu akan menjadi ringan.
Sementara itu, Andina Thresia Narang menyampaikan, mempersiapkan diri sendiri itu penting dan menjadi faktor utama. Tapi itu belum cukup, harus ada suporting sistem yang mendukung pembangunan diri pribadi itu, yakni kontribusi dari pemerintah. Pemerintah memiliki tanggung jawab di bidang pendidikan dan kesehatan.
Mulai dari pendidikan, ucap Andina, apa yang dilakukan sekarang ini memang sudah ada, tapi belum maksimal. Menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi, para pelajar membutuhkan biaya untuk kuliah, seperti apa kelangsungan beasiswa yang disalurkan pemerintah. Mampukah beasiswa tersebut mengakomodir kebutuhan pendidikan.
Senada dengan pendidikan, ungkap Andina, kesehatan juga menjadi faktor yang tidak kalah penting dalam mendukung pengembangan diri pribadi. Bagaimana bisa maju, apabila dalam kondisi yang sakit. Artinya, ada jaminan akan masalah kesehatan yang harus pula dipenuhi oleh pemerintah. Ini adalah hal penting untuk menjadi perhatian bersama, dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan dan menyambut bonus demografi. ded











