PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Ada 2 bencana alam di Kalimantan Tengah (Kalteng) yang sering kali terjadi, yakni kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan bencana banjir. Kedua bencana ini disebabkan oleh hal yang sama, yakni pembukaan hutan secara masif, yang membuat daya resap dan daya tampung air menjadi menurun.
Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Kalimantan Tengah (Walhi Kalteng) Bayu Herinata menjelaskan, di Kalteng masalah karhutla memang salah satu yang sering terjadi ketika musim kemarau. Namun, bencana banjir juga tidak luput untuk menjadi perhatian penting, mengingat bencana ini sering kali terjadi.
Bayu menyampaikan, penyebab banjir adalah pembukaan hutan yang dilakukan secara masif, tanpa memperhitungkan dan mempertimbangkan dampaknya. Tutupan hutan di Kalteng yang luas, akan mampu menahan air dalam jumlah tinggi. Banjir memang akan tetap terjadi, namun tidak parah.
Sekarang ini, lanjut Bayu, tutupan hutan yang semakin luas terbuka akibat pembukaan hutan untuk investasi dan proyek strategis nasional, membuat Kalteng menjadi rentan akan banjir. Daerah yang sebelumnya tidak pernah banjir, akibat pembukaan hutan membuat daerah tersebut menjadi langganan banjir.
“Data yang berhasil dihimpun Walhi Kalteng berkenaan dengan bencana banjir dari tahun 2016-2021 terdapat 347 kejadian banjir. Kejadian paling parah sejauh ini terjadi pada tahun 2021 lalu. Di sela-sela itu ada kejadian bencana karhutla,” kata Bayu, saat dikonfirmasi terkait dengan bencana banjir di Kalteng, Senin (29/1), di Palangka Raya.
Menurut Bayu, beberapa waktu terakhir, bencana banjir di Kalteng semakin sering terjadi. Ini tentunya harus menjadi perhatian bersama, agar bencana banjir ini tidak sering terjadi. Sejumlah daerah di Kalteng sekarang ini ada yang memang menjadi langganan banjir.
Contoh, kata Bayu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kabupaten Katingan, Kabupaten Pulang Pisau (Pulpis), Kabupaten Kapuas, Palangka Raya, dan beberapa kabupaten yang berada di aliran Sungai Barito.
“Sekali lagi, faktor utama penyebab banjir yang sering terjadi ataupun berulang adalah masalah lingkungan. Tutupan hutan yang semakin berkurang, membuat daya resap air menjadi menurun, yang berdampak pada bencana banjir,” ungkap Bayu.ded





