PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Staf Ahli bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Yuas Elko turut memantau perkembangan inflasi nasional dan daerah di aula Bajakah melalui rapat koordinasi virtual bersama Menteri Dalam Negeri, Senin (5/2).
Rapat tersebut dipimpin Irjen Kemendagri Tomsi Tohir. Pada rapat itu ia mengimbau kepada seluruh kepala daerah mempertahankan inflasinya agar di bawah rata-rata nasional sebesar 2,57 persen.
“Januari 2024 terdapat 10 daerah di atas rata-rata, yakni Papua Tengah dan Papua Selatan, Gorontalo, Maluku Utara, Maluku, Papua, Sulawesi Utara, Kalteng, Kepulauan Riau dan Sumatera Selatan. Kemudian juga terima kasih kepada seluruh daerah yang inflasinya bertahan dengan baik di bawah rata-rata nasional,” kata Tomsi.
Minggu keempat Januari, komoditas yang mengalami kenaikan harga secara nasional adalah bawang putih, bawang merah dan daging ayam ras. Untuk itu bagi kepala daerah agar mengambil langkah strategis dalam menekan inflasi di wilayahnya.
“Cari penyebabnya dan lakukan langkah-langkah maksimal untuk mengatasinya,” harapnya.
Bedasarkan laporan Plt Kepala Badan Pusat Statistik Amalia Adininggar Widyasanti, pada Januari 2024, Kalteng termasuk dalam 10 kabupaten/kota dengan kenaikan IPH tertinggi di urutan ke-6 yaitu di Kabupaten Seruyan di angka 2,18 persen dengan komoditas beras, cabai merah dan daging ayam ras.
“Sedangkan secara keseluruhan komoditas andil terbesar di 10 wilayah tersebut adalah daging ayam ras, daging sapi, cabe rawit dan bawang merah,” paparnya.
Tampak juga dari data tersebut secara Year on Year Kalteng merupakan inflasi tertinggi regional Kalimantan di angka 3,40 persen, sedangkan inflasi terendah di Kalimantan Utara (Kaltara) 1,99 persen.
Staf Ahli bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Yuas Elko berharap jangan sampai inflasi ini semakin meningkat di minggu-minggu Februari ini.
“Kalau tadi kita sudah menyimak paparan dari narasumber ternyata Kalteng naik inflasi 3,40 persen secara nasional di urutan ke 8, Ini yang kita khawatirkan jangan sampai di Februari malah semakin naik inflasinya. IPH yang tertinggi adalah Seruyan 2,18 persen. Yang menurun itu di Barito Utara (Barut) 0,81 persen,” jelasnya.
Ia juga meminta agar Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk terus berkoordinasi dan mengkaji komoditas yang mempunyai andil besar dalam inflasi serta membuat rencana jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang dalam mengendalikan inflasi di daerah.
“Koordinasi seperti kerja sama antardaerah, pasar penyeimbang yang dapat kita usulkan kepada gubernur, kalau rencana jangka panjang sudah ada pabrik rice milling unit yang tinggal kita tunggu pembangunannya,” pungkasnya. ldw











