PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Ungkapan syukur tentunya selalu disampaikan atas segala keberhasilan, ataupun berhasil dilaluinya sebuah kondisi. Ungkapan syukur ini pulalah yang dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan Tengah (Disbudpar Kalteng), dengan menggelar Ritual Mamapas atau Membersihkan di UPT Museum Balanga Kalteng.
Panitia Ritual’ Mamapas, Gauri Vidya Dhaneswara, menjelaskan, Ritual Mamapas bukanlah hal yang baru bagi masyarakat suku Dayak. Bagi suku Dayak zaman dulu, dikenal dengan sebutan Mamapas Lewu atau Membersihkan Kampung/Desa. Apa yang dilakukan oleh Disbudpar Kalteng inj, memang hanya varian, tapi untuk keseluruhan Kalteng secara khusus, dan Indonesia secara umum.
Gauri menguraikan, Mamapas atau Membersihkan ini adalah upaya untuk membersihkan Kalteng dari hal-hal bersifat negatif, baik yang berasal dari manusia itu sendiri, ataupun dari yang lainnya. Pembersihan dari hal-hal negatif ini dibantu oleh roh-roh suci. Sebagai bentuk ungkapan terima kasih, para roh suci ini diberikan makan. Tidak hanyalah membersihkan dari hal yang bersifat negatif, tapi juga dipanjatkan doa-doa juga.
”Doa yang dipanjatkan secara umum adalah ucapan syukur atas dilaluinya tahun 2022, dan juga doa untuk mendapatkan penyertaan dalam menghadapi tahun 2023. Ucapan syukur, doa, dan harapan yang disampaikan dalam bentuk doa tidak hanya untuk Kalteng saja, tapi juga untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” terang Gauri, perihal pelaksanaan Ritual Mamapas yang dilaksanakan oleh Disbudpar Kalteng selama 3 hari di Palangka Raya, Rabu (7/12).
Gauri melanjutkan, Ritual Mamapas dilaksanakan oleh 5 orang basir atau pemuka agama Hindu Kaharingan. Hari pertama ritual, disampaikan kepada para roh bahwa akan dilakukan kegiatan ritual. Usai dilakukan penyampaian, disampaikanlah bahwa kegiatan yang dilakukan adalah Ritual Mamapas.
Tahap awal, tambah Gauri, ada sejumlah fase-fase yang ditempuh oleh para basir ini, sampai dilakukanlah prosesi Ritual Mamapas itu. Para roh tidak hanya diberitahukan dilakukan Ritual Mamapas, tapi turut bersama-sama dalam melakukan pembersihan. Semua ruangan di UPT Museum Balanga dan kantor Disbudpar Kalteng dilakukan pembersihan. Apa yang dilakukan pembersihan itu hanya simbolis saja, maknanya adalah membersihkan Kalteng, dan Indonesia.
Media yang digunakan untuk membersihkan itu, kata Gauri, dilarungkan atau dilarutkan di bawah Jembatan Kahayan. Ini memiliki makna membuang hal-hal yang negatif itu jauh-jauh. Usai melarutkan, dilakukan ritual untuk memberi makan para roh, walaupun porsinya lebih kecil. Hari berikutnya, ada acara puncak. Sebelum acara puncak, para roh diberikan makanan dalam jumlah besar atau disebut pesta. Puncak Ritual Mamapas adalah Menanam Kepala Kerbau atau Maimbul Takuluk Metu.
Selesainya semua tahapan ritual, ungkap Gauri, dipanjatkan doa ucapan syukur, dan terima kasih, serta mempersilakan para roh untuk kembali kealamnya.ded





