PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID- Mahasiswa merupakan kalangan terpelajar yang bisa menjadi benteng utama dalam pencegahan terorisme. Hal itu bisa dilakukan dengan aktif dalam kegiatan sosial, mengembangkan pemikiran kritis, dan membangun jaringan. Peran itu disampaikan Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Tengah Prof H Khairil Anwar, M.Ag.
Dalam kesempatan Fokus Group Discussion (FGD) Himpunan Mahasiswa (HIMA) Kalimantan Tengah, di Aula Hotel Dandang Tingang, Palangka Raya, Rabu (9/7), Khairil berpesan, mahasiswa jangan mudah terpengaruh doktrin yang sengaja kelompok tertentu. Karena mahasiswa kalangan intelektual yang harusnya mampu menyaring informasi.
“Mahsiswa harus berani mengkritisi, jika ada sesuatu yang dianggap menyimpang. Jangan membiarkan doktrin masuk yang akhirnya bisa terpengaruh,” tegas Khairil.
Dijelaskan, berdasarkan penelitian Mun’in Sirry dalam bukunya, pendidikan dan radikalisme pada 2023 menunjukkan, mahasiswa masuk kalangan rentan yang mudah didoktrin paham radikalisme. Namun, mahasiswa juga mampu melawan doktrin apabila bisa berpikir kritis terhadap berbagai informasi yang didapatkan.
Berdasarkan hasil penelitian, lanjut Khairil, sebanyak 48,3 persen mahasiswa bisa terpengaruh paham radikal melalui teman pengajian. Kemudian 8,3 persen melalui mentor atau senior di kampus, 1,3 persen dari dosen, 1 persen dari orang tua, 6 persen dari upaya pemahaman Al-Quran sendri.
“Penelitian didasarkan pada 700 mahasiswa dari tujuh PTN yang diduga radikalisme oleh BNPT, yakni IPB, ITB, ITS, UI, UNAIR, UNDIP, dan UB. Selain itu, sampelnya juga dimbil 500 siswa SMA se Jawa Timur,” tegas Khairil.
Sebagai kaum intelektual di kampus, ungkap Khairil, mahasiswa harus memposisikan diri sebagai agen perubahan dan pemimpin masa depan memiliki peran penting dalam mencegah gerakan radikalisme. Karena, fenomena radikalisme tidak hanya menyusur laki-laki dan generasi milenial, tapi sudah menyusur kepada perempuan dan generasi Z dan bahkan anak-anak.
Diungkapkan, radikalisasi terjadi karena kesenjangan sosial (ketidakadilan), politik identitas yang jelek, afiliasi sosial seperti JAD atau HTI, terpinggirkan dan pengaruh ceramah jihadis. Penyebabnya, kurangnya pemahaman tentang agama dan budaya, pengaruh media social dan propaganda serta kesenjangan ekonomi dan sosial
Dari hasil survei penelitian tersebut, kata Khairil, ada beberapa tantangan yang masih dihadapi bangsa Indonesia untuk mewujudkan keamanan, kerukunan, dan keharmonisan. Pertama, masih berkembangnya paham ekstrim (Radikalisme) di kalangan mahasiswa dan pemuda, baik ektrim kanan maupun ekstrim kiri.
“Kedua, masih berkembangnya paham intoleransi yang mengklaim kebenaran mutlak dan menyalahkan orang lain. Bahkan menurut berbagai hasil survei, akhir-akhir ini paham intoleransi lebih meningkat dibandingkan radikalisme dan ektrimisme,” ungkapnya.
Ketiga, masih adanya pandangan, sikap, dan gerakan yang menolak ideologi Pancasila. Keempat, era revolusi industri 4.0 semakin mempercepat tsunami informasi hoaks, ujaran kebencian, dan post-truth (pasca kebenaran).ist











