
PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Umat Kristen lintas denominasi dan lembaga pelayanan di Kota Palangka Raya mengadakan kegiatan Berdoa Bersama dan Berdiri Bagi Bangsa sebagai wujud keprihatinan atas kondisi Indonesia dalam beberapa hari terakhir.
Acara ini berlangsung di Graha Pujian dan Doa, Jalan Mahir Mahar, Palangka Raya, Minggu (31/8), dengan dukungan dari BPD PERUATI Kalimantan Tengah, DPD GAMKI Kalimantan Tengah, DPC PWKI Palangka Raya, serta GBI Hope Palangka Raya.
Kegiatan ini digagas oleh Risnalesy, Pdt. Merilyn dan Pdt. Kilat Kasanang sebagai bentuk respon iman terhadap dinamika sosial, politik dan kemanusiaan yang terjadi di Indonesia.
Beberapa waktu terakhir, masyarakat dihadapkan pada isu-isu krisis keadilan, ketidakpastian hukum, penyalahgunaan kekuasaan, serta ketegangan sosial yang menimbulkan kegelisahan.
Dalam konteks itulah, doa bersama ini dipandang penting bukan hanya sebagai ekspresi iman, tetapi juga sebagai seruan moral dan spiritual bagi pemulihan bangsa.
“Kami percaya bahwa doa bukanlah pelarian, melainkan kekuatan untuk membangun harapan dan menyalakan kembali semangat persatuan bangsa,” ujar Risnalesy dalam sambutannya.
Acara tersebut diawali dengan narasi keprihatinan dan seruan pemulihan bangsa yang disampaikan oleh Risnalesy.
Ia menekankan bahwa Indonesia membutuhkan solidaritas dan kepedulian nyata dari seluruh elemen bangsa, termasuk umat beragama, untuk bangkit dari berbagai krisis.
Selanjutnya, Pdt. Merilyn membawakan refleksi teologis berjudul “Suara yang Tertindas, Air Mata yang Menjadi Doa.”
Dalam renungannya, beliau menegaskan bahwa suara-suara rakyat kecil yang sering diabaikan sesungguhnya adalah doa yang naik ke hadirat Tuhan, dan gereja terpanggil untuk menjadi corong keadilan serta penyambung suara mereka.
Inti acara berupa doa berantai dipimpin oleh Pdt. Kilat Kasanang bersama sejumlah pemimpin doa dari berbagai gereja dan organisasi Kristen.
Doa-doa tersebut dipanjatkan untuk mereka yang memiliki tanggung jawab dalam kesetabilan bangsa.
“Para pemimpin bangsa di tingkat pusat dan daerah, Para wakil rakyat di legislatif, agar memiliki keberanian moral dan integritas. Seluruh elemen bangsa agar tetap bersatu dalam keberagaman. Pemulihan damai, kesejahteraan, dan keadilan bagi rakyat Indonesia,” ungkapnya.
Suasana haru semakin terasa ketika umat bersama-sama menaikkan lagu-lagu pujian dan lagu-lagu nasional.
Syair-syair lagu kebangsaan yang dilantunkan menyalakan semangat cinta tanah air, sembari menyadarkan jemaat bahwa doa dan tindakan nyata tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan berbangsa.
Puncak kegiatan ditandai dengan pembacaan Pernyataan Iman yang berisi 10 butir komitmen umat Kristen di Palangka Raya terhadap bangsa Indonesia.
“Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, gereja tidak boleh diam. Gereja harus menjadi suara kenabian, tetapi juga pelaku kasih dan keadilan. Doa yang kami naikkan hari ini adalah seruan agar bangsa ini kembali pada jalan kebenaran dan persatuan,” kata Pdt. Kilat Kasanang menutup acara.mak





