Hukrim

BPBD Palangka Raya Tangani 21 Karhutla di 3 Pekan Terakhir

113
×

BPBD Palangka Raya Tangani 21 Karhutla di 3 Pekan Terakhir

Sebarkan artikel ini
BPBD Palangka Raya Tangani 21 Karhutla di 3 Pekan Terakhir
KARHUTLA-Personel TRC BPBD Palangka Raya ketika memadamkan api belum lama ini. FOTO BPBD PALANGKA RAYA

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Palangka Raya mencatat sebanyak 21 kejadian kebakaran lahan (Karhutla) yang terjadi dalam tiga pekan terakhir. Kondisi cuaca panas terik tanpa hujan menjadi salah satu faktor utama munculnya kebakaran lahan di sejumlah titik wilayah kota, meskipun secara kalender cuaca saat ini masih berada pada musim hujan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Palangka Raya Hendrikus Satriya Budi, menjelaskan bahwa fenomena cuaca yang terjadi belakangan ini merupakan kondisi alam yang tidak biasa, di mana panas terik terjadi cukup lama tanpa disertai hujan.

“Kalau kita lihat, memang secara musim masih musim hujan, tetapi panasnya cukup terik. Fenomena alam seperti ini memang terjadi. Dalam tiga pekan terakhir, Palangka Raya mengalami panas berkepanjangan dan tidak ada hujan, sehingga memicu munculnya kebakaran lahan,” ujarnya, Senin (9/2).

Hendrikus menyebutkan, dari pemantauan BPBD, kebakaran lahan tercatat terjadi di 19 titik, dan dengan kejadian terbaru bertambah menjadi 21 kejadian. Total luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai lebih dari 8 hektare.

“Kalau ditotal dari 19 titik sebelumnya ditambah kejadian hari ini, ada 21 kejadian dengan luasan sekitar 8 hektare lebih,” ucapnya.

Ia menjelaskan bahwa kebakaran yang terjadi bukan berada di kawasan hutan, melainkan di lahan milik masyarakat. Menurutnya, sebagian besar kejadian dipicu oleh aktivitas pembersihan lahan yang dilakukan dengan cara membakar, yang kemudian tidak terkendali.

“Kebakaran lahan itu memang terjadi di lahan masyarakat, bukan hutan, kalau hutan kita sampai saat ini masih aman. Namun, ada lahan pembersihan milik warga yang dibakar oleh oknum, sehingga terjadilah kebakaran lahan,” jelasnya.

Terkait kesiapsiagaan, Hendrikus memastikan bahwa BPBD Palangka Raya terus meningkatkan pengawasan dan respons cepat melalui pembentukan tim siaga internal. Patroli rutin dilakukan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru, terutama di wilayah rawan kebakaran.

“Kami selalu melakukan patroli kesiapsiagaan. Begitu ada informasi dari rekan-rekan di kelurahan, yang memang menjadi garda terdepan di lapangan, selalu kami tindak lanjuti,” ungkapnya.

Meski demikian, BPBD tetap mewaspadai potensi kebakaran yang dapat merambat ke kawasan permukiman. Hal tersebut menjadi perhatian utama karena dapat menimbulkan dampak yang lebih besar, termasuk kerugian material dan ancaman keselamatan warga.

“Yang kita khawatirkan adalah apabila kebakaran lahan ini merambat ke permukiman dan menyebabkan kebakaran rumah warga. Itu yang terus kita antisipasi semaksimal mungkin,” tegasnya.

Terkait kondisi cuaca, Hendrikus menjelaskan bahwa berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Palangka Raya masih berada dalam kategori musim hujan. Namun, pengaruh fenomena El Nino yang berasal dari kawasan Pasifik, termasuk Filipina, menyebabkan hembusan angin panas yang membuat suhu di Kota Palangka Raya lebih dominan panas.

“Saya belum mengatakan ini musim kemarau, karena BMKG masih menyatakan kita dalam musim hujan. Tetapi memang ada pengaruh El Nino yang menyebabkan panas lebih dominan di wilayah Palangka Raya,” pungkasnya. dte